Serangan Anjing Gila Wonogiri Wonogiri menjadi basis penyakit anjing gila, rabies
merambat kedaerah-daerah sekitarnya. 7 orang meninggal
& ratusan dirawat dirumah sakit. Penyebabnya,
antaralain, kebiasaan penduduk menyantap anjing. |
UNTUK kedua kalinya, Wonogiri, sebuah kabupaten di selatan Solo,
menjadi pangkal merambatnya rabies, itu penyakit anjing gila.
Yang pertama terjadi tahun 1979, sehingga daerah ini pernah
dinyatakan sebagai daerah epidemi rabies. Walau korban yang
meninggal tercatat hanya dua orang ketika itu, ribuan ekor
anjing terpaksa dibantai.
Akhir bulan lalu, daerah ini kembali dijangkiti rabies. Namun,
kali ini, merambat dengan cepat ke daerah-daerah sekitarnya:
Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan juga Klaten. Catatan
terakhir menunjukkan tujuh orang meninggal "Yang tiga orang di
Wonogiri bisa dipastikan akibat rabies," ujar dr. Nardho
Gunawan, Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Tengah.
"Yang empat orang lagi masih dugaan karena tidak keburu
diobservasi."
Namun, korban lain akibat rabies, yang menular lewat gigitan dan
liur anjing itu, cukup mencemaskan -- dan sudah masuk tingkat
epidemi. Korban gigitan yang kini dirawat mencapai 160 orang.
Yang dikhawatirkan, semua korban gigitan akan meninggal. Menurut
dr. Slamet, kepala pemberantasan penyakit menular, Kanwil Depkes
Ja-Teng, tingkat kematian per kasus pada rabies, senantiasa
tinggi. "Dari 100 orang yang kena, umpamanya, biasanya 100 juga
yang meninggal," ujar Slamet.
Lalu, mengapa dari Wonogiri? Menurut observasi Kanwil Depkes
Ja-Teng, karena di kawasan itu ada kebiasaan penduduk menyantap
anjing. Penyebaran ke daerah lain, konon, juga akibat para
pedagang sate dan gulai anjing.
Menurut Nardho Gunawan, kasus rabies di Wonogiri sebenarnya
sudah ditemukan September tahun lalu. Berawal dari seorang anak
yang digigit anjing, dan menunjukkan kena rabies. Bulan
September itu juga tim dari Departemen Kesehatan menyatakan
Wonogiri tertutup bagi lalu lintas hewan, khususnya anjing.
Karena Wonogiri tertutup, para pedagang daging anjing pun
menyebarkan hewan dagangannya ke luar Wonogiri. Tanpa disadari,
anjing-anjing yang dijual sebagian besar sudah terjangkit
rabies. Maka, menyebarlah penyakit itu, dan korban di
daerah-daerah lain pun berjatuhan.
Tapi sebegitu jauh, korban meninggal di luar Wonogiri belum
banyak. Di Sukoharjo, korban yang meninggal belum bisa
dipastikan akibat rabies, tapi menurut Bupati Sukoharjo,
Suprapto, 36 orang korban gigitan hewan sudah dipastikan terkena
rabies pada stadium berat. Karena itu, Bupati Sukoharjo sudah
pula mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan Sukoharjo
tertutup bagi lalu lintas hewan.
Di Klaten dan Karanganyar para bupati belum merasa perlu
menurunkan SK untuk penutupan lalu lintas hewan. Namun,
pemburuan anjing di kabupaten-kabupaten itu cukup mengejutkan.
Tercatat 9.330 ekor anjing dan 170 ekor kucing dibunuh.
Menurut Nardho Gunawan, usaha mengatasi rabies hingga kini
ternyata tidak mudah. Masyarakat umumnya kurang mengerti. "Dan
mereka datang sudah sangat terlambat," ujar Nardho. Gejala
terkena rabies menurut Nardho, mula-mula korban terkena demam
ringan. Namun, bekas gigitan anjing kemudian tampak menghitam,
gosong, dan panas seperti terbakar. Suhu badan lalu meninggi dan
penderita mengeluarkan banyak keringat dan air liur. Akhirnya,
ketika virus rabies sudah menyerang pusat saraf di otak,
penderita sering kaget, takut pada cahaya dan air. Leher terasa
kaku dan susah menelan. Pada stadium ini, penderita sudah tak
dapat ditolong.
Penderita masih bisa ditolong bila virus belum menyerang pusat
saraf. Pertolongan yang harus dilakukan dengan cepat,
menyuntikkan serum antirabies sebanyak 14 suntikan pada bagian
perut.
Sementara ini usaha mengatasi rabies di Jawa Tengah itu, selain
pemburuan anjing, juga vaksinasi besar-besaran terhadap
hewan-hewan peliharaan. Pihak Biofarma Bandung, yang memproduksi
vaksin, menyatakan bahwa stok untuk dua provinsi tak perlu
dikhawatirkan.
J.s. Laporan Yusro M. & Kastoyo Ramelan (Ja-Teng)
|