Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XV/28 Desember - 03 Januari 1986
   
Lingkungan

Kuarsa Hilang, Perbani Pun Datang

Dusun bagan luar, mesjid lama, & kota tanjung tiram semakin terkikis ombak pasang perbani & terancam tenggelam. kebun kelapa & tambak udang jadi korban. pasalnya dari pengerukan pasir kuarsa. (ling)

PENDUDUK Dusun Bagan Luar, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten
Asahan, Sumatera Utara, sejak empat tahun lalu terancam
tenggelam disapu ombak pasang perbani. Ancaman itu kini semakin
nyata. Bila dulu, empat tahun lalu itu, jarak dusun dengan
pantai muara 25 m, pada Desember tahun ini jarak itu tinggal
4 m. Dan yang gawat, jarak itu niscaya terus meyempit, sementara
ombak pasang besar selalu datang dua kali sebulan ke pantai 175
km dari Medan itu.

Yang diganyang si perbani ternyata bukan hanya Dusun Bagan Luar
yang memang berada di barisan depan pantai Batubara. Tetapi juga
Desa Masjid Lama dan kota Kecamatan Tanjung Tiram juga berpesta
air.

Padahal lima tahun lalu, pantai di situ terkenal keindahannya.
Ada pasir putih yang menggunung dengan latar belakang pepohonan
pantai, seperti bakau, api-api, dan barombang, yang tumbuh
subur. Perpaduan akar pohon bakau yang bagaikan cakar burung
elang itu dengan gunung pasir putih yang merupakan benteng alam
itu kini sudah raib. Pantai indah yang pernah dijadikan lokasi
pembuatan film Nelayan dari Pantai Seberang di tahun 1963 itu
kini tinggal kenangan.

Pasir putih itulah, yang dalam dunia industri disebut pasir
kuarsa, yang menjadi pangkal bencana. Bukan pasirnya benar,
memang, tapi karena ulah manusia juga. Sejak 1981 pasir itu
dikeruk. Bukit putih yang dulu setinggi 2-3 m sepanjang 2 km,
kini rata, berlubang-lubang sedalam 1-2 m. Mengerikan.

Akibatnya, lapisan tanah yang tertinggal sedikit demi sedikit
dikikis ombak. Sebab, hilangnya bukit juga berarti lenyapnya
pepohonan pantai, yang tadinya berfungsi sebagai cerocok alam.
Maka air laut semakin menjorok ke perut Pulau Sumatera. "Dulu,
pantai ada di tunggul itu," tuding Rajali S., 45, penduduk Bagan
Luar. Berkata begitu sambil menuding tunggul kayu yang ada di
tengah laut, sejauh 240 m.

Itu juga berarti perembesan air laut ke daratan makin ganas. Di
Masjid Lama sekitar 160 ha kebun kelapa penduduk tak lagi mau
berbuah. Beberapa pohon tampak daunnya menguning. "Keracunan
asinnya air laut," tukas Mahyudin, yang jadi kepala desa Masjid
Lama. Selain itu puluhan hektar tambak udang juga porak-peranda.
"Padahal, tambak milik rakyat ini mendapat kredit dari BRI,"
ujar Drs. Raharja Sinulingga, pimpinan Yasika, badan swasta yang
mengadakan penelitian tentang dampak pengerukan pasir ini.

Siapa punya ulah? Penduduk menuding si pengeruk pasir. PT Jati
Suma Indah Keramika Surabaya Ltd. yang beralamat Surabaya yang
mengantungi izin Dirjen Pertambangan Umum sejak 1981. Menurut
Yasika, PT Jati mendapat kuasa untuk menambang pasir kuarsa di
situ selama 15 tahun dan hak menjualnya selama 10 tahun.
Penggaliannya sendiri dilakukan dalam jangka waktu 2-3 bulan
sekali.

Sebuah ponton di tengah laut yang menjadi alat tampung pasir dan
sebuah titian papan menjorok ke darat ratusan meter panjangnya.
Titian ini makin lama makin panjang. Kini sudah menjulur sejauh
240 m.

Syahdan dalam waktu empat tahun, menurut perhitungan Yasika,
480.000 m3 pasir kuarsa telah diangkut oleh PT Jati. "Ini telah
melampaui batas yang diizinkan pemerintah," ujar Kamaludin
Lubis. Akibatnya, Dusun Bagan Luar, yang tadinya berjarak 300 m
dari lokasi pengerukan pasir, kini tinggal 60 m saja. Desa Masjid
Lama, yang tadinya berjarak 3 km dari lokasi pengerukan, kini
tinggal 100 m saja. Juga kota Kecamatan Tanjung Tiram yang
berpenduduk 3.186 jiwa. Dulu berjarak sekitar 400 m dari
pengerukan pasir, tapi kini tinggal 100 m. Konon, Bupati
Asahan, Zulfirman Siregar, sudah memberhentikan pengerukan
tersebut. Menurut Kamaludin Lubis, Direktur LBH cabang Medan,
"PT Jati harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan
hukum."

PT Jati sendiri tak mempunyai perwakilan di Asahan atau Medan.
Pelaksananya, yang bernama Subandi, hanya datang ke Tanjung
Tiram kalau ada pengerukan. Begitu pengerukan selesai, usai pula
ratusan pekerja pengerukan. Subandi bersama pasir kuarsa, konon,
pulang menuju Surabaya. Di Surabaya, memang ada PT tersebut.
Tetapi ketika TEMPO ingin tahu lebih banyak, direkturnya, Hadi
Joyowisastro, menolak memberi keterangan apa pun. "Hubungi saja
project officer-nya di sana," ujar Hadi, sambil menegaskan
bahwa dia dan PT-nya tak tahu-menahu tentang hal ini.

Dari Dirjen Pertambangan Umum Drs. Soetaryo Sigit, belum
diperoleh keterangan apa pun. Sementara itu, paling sedikit 400
jiwa penduduk Dusun Bagan Luar - belum lagi penduduk Desa Masjid
Lama dan kota Kecamatan Tanjung Tiram, selalu cemas. Bila
mungkin, tentu mereka telah meninggalkan kampung halamannya.
Tapi ke mana? Sebab, itu juga berarti, setidaknya, mendapatkan
tanah baru, rumah baru, dan lapangan pekerjaan baru. Dan itu,
siapa pun tahu, tidak mudah.

Toeti Kakialiatu
Laporan biro Medan & Surabaya


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data