Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XV/21 - 27 Desember 1985
   
Nasional

Pemimpin Dengan Gaya Mataraman

Wawancara tempo dengan h.a.r. fakhruddin, 69, yang terpilih kembali sebagai ketua umum muhammadiyah pada muktamar ke-41, tentang pemilihan tersebut, pemilu, busana muslimah, dst.(nas)

MUHAMMADIYAH memilih ketua baru. Haji A.R. Fakhruddin, 69, yang
telah memimpin Muhammadiyah lebih dari 17 tahun itu, kembali
tampil di puncak pimpinan. Mengantungi 1.059 suara dari 1.086
mutakmirin dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo yang
berakhir Rabu pekan lalu, kedudukannya sebagai ketua tak
tergoyahkan dalam empat kali muktamar.

"Kelebihan beliau adalah kebijakan," ujar Amien Rais, 41,
eksponen muda yang terpilih menjadi anggota PP dan Ketua Majlis
Tablig periode 1985-1990. Adalah Pak A.R. yang menginginkan
posisinya digantikan oleh generasi muda. Tetapi agaknya hal itu
tidak terkabul. "Saya sudah mendorong-dorong, tetapi mereka
belum mau," ujarnya, "Ini 'kan sama saja dengan salat yang
imamnya tidak ada. Nah, 'kan saya harus maju."

Santai dan penuh humor. Itu pembawaan Fakhruddin bila memberi
pengajian, khotbah, atau memimpin rapat organisasi. Orang Yogya
menyebut gaya putra gusti naib (semacam penghulu) istana
Pakualaman itu gaya Mataraman: nggleges. Artinya, serius dan
penuh kritikan, tapi membuat tertawa pendengarnya.

Sabtu siang pekan lalu, di rumah milik Muhammadiyah yang ia
tinggali, di Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, yang selalu ramai
tamu, Pak A.R. menerima TEMPO. Memakai sarung dan peci, dan
sekali-sekali menyedot nikmat rokok Dunhill-nya, ia menjawab
berbagai pertanyaan aktual.

Keinginan Bapak untuk mundur tak terpenuhi. Mengapa?

Saya sudah berusaha agar Ahmad Azhar menggantikan saya. Ilmu
agama dia itu lebih luas dari saya, dan dia itu alim. Lha, saya
ini 'kan tidak alim dilihat dari agama. Betul-betul tidak alim.

Menurut Bapak, Azhar calon paling tepat?

Ya. Menurut saya, dia itu calon paling tepat. Pada muktamar di
Padang, 1974, dia itu sudah saya minta. Tetapi juga menolak.
(Sementara itu, Azhar, 57, dosen Filsafat UGM, memang menolak
dicalonkan. "Sekarang ini, kalau diperbolehkan menangguhkan,
saya ingin menangguhkan keanggotaan saya di PP Muhammadiyah.
Kalau dirasa penting, saya bersedia, tetapi tidak dalam posisi
ketua. Saya sibuk dalam dunia pendidikan." Akhirnya Azhar memang
terpilih sebagai anggota PP merangkap Ketua Majelis Tarjih)

Gaya kepemimpinan Bapak dianggap paling cocok saat ini. Luwes ke
pemerintah dan berwibawa di kalangan umat. Itu kunci sukses
Bapak?

Luwes itu gaya Muhammadiyah kepada semua pihak, bukan hanya
kepada pemerintah. Mengumpat orang saja tidak boleh dalam Islam,
apalagi menjelekkan. Kalau ada kesalahan pemerintah,
Muhammadiyah tidak akan pernah membuka pada umum. Membuat
statement, misalnya, ndak. Demonstratif itu bukan cara kami.
Pemerintah ini 'kan orang kita juga.

Memang ada orang pemerintah yang bilang, asal Pak A.R. memegang
pimpinan Muhammadiyah, pendeknya running well.

(Di dalam Muhammadiyah sendin A.R. dianggap sebagai unsur
pemersatu. "Pak A.R. itu mampu menerangkan secara jelas kepada
unsur-unsur Muhammadiyah yang terlalu berbeda dengan mainstream
secara memuaskan," ujar Amien Rais. "Salah satu sebab mengapa
sampai saat ini Muhammadiyah tetap utuh adalah faktor Fakhruddin
yang sangat menonjol.")

Tak demonstratif itu karena takut subsidi untuk sekolah,
misalnya, dicabut?

Sikap itu bukan karena subsidi. Kami hanya menerima subsidi yang
tidak mengikat. Kalau mengikat, ya lebih baik tidak usah
diterima.

Dalam pemilu mendatang, apa tidak sebaiknya orang Muhammadiyah
mendukung organisasi yang memperjuangkan aspirasi Islam?

Jelas. Kalau itu jelas.

Artinya mendukung PPP?

Aspirasi Islam ini sekarang juga banyak di Golkar. Bahkan ada di
PDI. PPP memang semua orangnya Islam. Meski mereka eker-ekeran
(cakar-cakaran) terus.

Muktamar Solo menginginkan pengiriman TKW (tenaga kerja wanita)
ke luar negeri dihentikan. Alasannya?

Saya menginginkan hal itu diperbaiki. Sebab, nyatanya, 'kan
banyak ibu-ibu kita tertarik. Ada di antara mereka yang
berhasil. Tetapi memang ada hal-hal yang kurang baik yang bisa
disempurnakan. Kita minta supaya selekasnya ada
undang-undangnya. Agar TKW itu dapat perlindungan. Kalau sampai
ada tenaga kerja yang ke luar negeri, pemerintah harus prihatin.
Seakan-akan kita tidak bisa menjamin pekerjaan buat mereka.

Ada keharusan memakai busana muslimah bagi siswi Muhammadiyah.
Begitu pentingkah kerudung itu?

Kalau sekolah itu seratus persen Muhammadiyah, ya harus sekolah
yang Islamistis. Kalau sekolah umum, ya, sedikit demi sedikit.
Jadi, kalau sekolah Mualimat, misalnya, kerudung harus dipakai.
Karena itu memang sekolah muslimat.

Akhir-akhir ini hubungan dengan NU tambah baik. Bapak optimistis
Muhammadiyah dan NU akan kawin?

Waktu saya bertemu Kiai Siddiq dan Ustad Yusuf Hasyim, niat kami
sudah baik. Kami sama-sama berniat rukun. Meski tidak terlalu
resmi bergandengan tangan. Kami akan mulai tukar-menukar
informasi, supaya bisa saling mengerti. Yang berselisih itu 'kan
pemimpinnya. Saya optimistis bahwa perkawinan NU-Muhammadiyah
akan terjadi. Kapan? Wallahualam.

Waktu penutupan muktamar ada suguhan wayang orang. Kesenian
tidak tabu lagi bagi Muhammadiyah?

Waktu itu kita 'kan di Solo, di Mangkunegaran lagi. Ndak apa-apa
to ditambah wayang. Toh, wayangnya laki-laki semua, Gatotkaca
dan Antareja. Gambyongan itu boleh saja di Muhammadiyah, tetapi
mbok ya penarinya itu pakai baju. Juga bermain reog boleh saja,
tetapi waktu salat lohor mereka harus salat. Lha, ini 'kan reog
Muhammadiyah, he-he ....


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data