Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/XV/05 - 11 Oktober 1985
   
Kesehatan

Konsultasi Pasien Udara

Beberapa radio swasta mengadakan siaran ruang kesehatan, mengundang para dokter untuk memberi jawaban/penjelasan masalah kesehatan kepada para pendengar. al. di radio cakrawala, radio pelita, & nusantara jaya.(ksh)

DI sebuah sudut ruangan berukuran 1 x 2,5 meter, seorang dokter
menjawab berbagai pertanyaan pasiennya. Dengan suara yang
dilambatkan, agar uraian bisa sepenuhnya dimengerti, dokter itu
dengan sabar menjelaskan berbagai ihwal keluhan yang diutarakan
padanya.

Namun, tak ada seorang pun pasien di depan mejanya. Dokter tua
itu, farmakolog terkemuka Prof. Dr. Iwan Darmansjah, memang tak
sedang buka praktek. Di sudut ruang studio itu, ia bertindak
sebagai pembicara siaran kesehatan Radio Cakrawala, sebuah radio
swasta di Jakarta, Rabu pekan lalu. Di kepalanya melingkar
headphone dengan sebuah microphone di depannya.

Siaran konsultasi kesehatan itu, yang diselenggarakan setiap
hari Rabu pukul 10.00-11.00, merupakan salah satu acara baru.
Mulai mengudara sejak 23 September lalu, siaran itu menjadi
terasa istimewa karena farmakolog terkenal tampil sebagai
pembicara tetapnya.

Mata acara itu sebenarnya ditumpangkan pada ruang Pesona Wanita,
acara yang sudah lama ada, yang umumnya disiarkan pagi dan siang
hari. Mengapa dipilih ruang wanita? "Umumnya kaum wanita
pendengar setia kami," ujar Firdaus Buchori, kepala Bagian
Siaran Radio Cakrawala. Berdasarkan riset, menurut Firdaus, 75%
pendengar radio adalah wanita. Di samping itu, biasanya wanita
bertanggung jawab atas kesehatan keluarga.

Lalu bagaimana tanggapan pendengar pada acara kesehatan itu?
Menurut Lanny, pengasuh ruang Pesona Wanita di radio itu setiap
minggu terdaftar sekitar 10 kasus, 70% masuk lewat telepon dan
30% masuk lewat surat. Karena itu, tak heran bila selama siaran
berlangsung, telepon tak henti-hentinya berdering dari pendengar
yang minta beberapa bagian pembicaraan dalam siaran dijelaskan
lebih terinci. Dalam keadaan serupa ini, konsultasi dengan
komunikasi langsung pun terjadi.

Menurut Firdaus Buchori, siaran kesehatan di radionya sudah
berlangsung sejak Januari lalu. Tapi masih berupa
ceramah-ceramah kesehatan. Acara ceramah itu sendiri disusun
oleh Yayasan Lembaga Konsumen (YLK). Berbagai topik dikemukakan,
dan beberapa dokter terkenal diundang sebagai pembicara. Di
antaranya tokoh IDI dr. Kartono Mohamad, yang dalam ceramahnya
membahas soal vitamin.

Dalam masa enam bulan, minat terhadap ceramah itu berkembang,
dan belakangan, menurut Firdaus, pertanyaan pun berkembang ke
arah konsultasi - sekitar 50 surat masuk sebulan. Karena itu,
pada akhirnya diputuskan untuk membuka siaran konsultasi
langsung.

Tapi siaran kesehatan bukan cuma ada di Cakrawala. Beberapa
radio swasta lain juga membuka acara yang sama. Misalnya Radio
Pelita, yang ruang kesehatannya diasuh para mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, dan Radio
Nusantara Jaya.

Radio Nusantara, misalnya, memulai acara itu sejak Februari
lalu. Siaran diasuh oleh sejumlah dokter muda dariberbagai
bidang spesialisasi. Juga diselenggarakan pagi hari dan pada
ruang wanita. Pilihan waktu ini tentu saja beralasan. "Kan habis
pulang belanja, kaum ibu biasanya iseng-iseng mendengarkan
siaran," ujar Johan, kepala Bagian Siaran Radio Nusantara.

Lalu apa saja yang ditanyakan ibu-ibu itu? Menurut Johan, dari
15 kasus yang masuk tiap minggu melalui surat dan telepon,
masalah yang ditanyakan masih soal-soal biasa. Masalah keluarga
berencana, penyakit anak-anak, seperti amandel, sakit gigi,
panas tinggi, bahkan kebiasaan mengompol.

Berdasarkan observasinya, Johan berpendapat, siaran kesehatan di
radio bisa menguntungkan masyarakat karena konsultasi ini
gratis. Selain memang ada pasien yang tak mampu membayar dokter,
beberapa pendengar memberi alasan malas ke dokter. Malah ada
juga yang takut ke dokter. "Karena itu, banyak yang kemudian
memilih konsultasi lewat radio," ujar Johan.

Konsultasi semacam ini biasanya kemudian berkembang dengan
kunjungan pasien ke studio. Beberapa pasien datang untuk
konsultasi lebih lanjut. Karena itu, di Radio Nusantara Jaya
misalnya, terdapat semacam klinik tempat para dokter melakukan
pemeriksaan lebih jauh. Tapi pemeriksaan gratis ini sangat
dibatasi - agar tidak melampaui batas-batas ketentuan praktek
dokter dan pembukaan klinik.

Bila terdapat kasus berat, para pendengar disarankan pergi ke
dokter atau ke rumah sakit. Melalui saran semacam ini pula Radio
Nusantara, menurut Nurhayati Sriyono, penanggung jawabnya,
pernah membantu dua pendengar tak mampu menjalani operasi -
melalui solidaritas pendengar lain. Yang seorang menjalani
operasi kanker dan yang lain menjalani operasi mata.

Betapapun lengkapnya jawaban, diagnosa penyakit termasuk yang
dihindari para dokter radio itu. Pada siaran Rabu pekan lalu
itu, misalnya, Prof. Iwan menyarankan seorang penanya pergi ke
dokter keluarga, memeriksakan keluhan benjolan pada payudaranya.
Namun, untuk hal-hal yang umum, Iwan menjawab pertanyaan wanita
itu, umpamanya perihal payudara yang mengeras pada masa haid.
"Itu wajar dan dialami setiap wanita," katanya.

Dalam kesempatan lain, menjawab pertanyaan pendengar, Iwan juga
memberi berbagai penjelasan populer. Antara lain masalah minyak
tanah sebagai obat Iwan - yang terkejut mendapat pertanyaan itu
- menegaskan, sampai kini, minyak tanah tidak termasuk zat yang
dipakai dalam ilmu pengobatan. Baik sebagai zat pendukung
apalagi langsung. Dengan keras farmakolog terkemuka itu
menyarankan agar tidak menggunakan minyak tanah sebagai obat,
sambil mengutarakan bahwa zat itu bisa menimbulkan kematian bila
masuk ke paru-paru.

Di tengah simpangsiurnya informasi kesehatan, yang antara lain
muncul dari iklan obat yang serampangan dan isu seperti pada
kasus minyak tanah itu, para dokter memang membutuhkan alat
publikasi untuk meluruskan pendapat. Salah satunya, mungkin,
siaran radio itu.

Jim Supangat
Laporan Yusroni Henridewanto (Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data