AIDS, Perlukah Menyaring Calon Donor Tambahan penjelasan tentang pemeriksaan antibodi terhadap
retrovirus, penyebab aids, untuk menyaring calon donor darah
yang pernah dilaporkan tempo. (kom) |
TERTARIK pada laporan TEMPO, 17 Agustus, berjudul Mencegah AIDS
dengan Elavia (Kesehatan), saya ingin menambahkan beberapa
keterangan. Pemeriksaan antibodi terhadap Retrovirus (HTLV III,
LAV), penyebab AIDS, merupakan usaha menyaring calon donor yang
tercemar virus tersebut agar penularan melalui transfusi darah
dapat dicegah. Kini, sedikitnya ada lima perusahaan yang
memproduksi kit pemeriksaan itu di antaranya: Abbot, E.L. du
Pont de Nemours, Electro-Nucleonics, Litton Bionetics, dan
Travenol. Kesemuanya menggunakan metode Enzyme Linked
Immunosorbent Assay (Elisa) yang prosedurnya relatif mudah
dikerjakan dan tak memerlukan peralatan canggih.
Di RSCM pemeriksaan antibodi terhadap virus penyebab AIDS telah
dapat dikerjakan. Saya kira, dalam waktu yang tak terlalu lama
lagi, pemeriksaan itu juga sudah akan dapat dilakukan di
rumah-rumah sakit provinsi di Indonesia.
Besarnya minat beberapa perusahaan untuk terjun ke dalam
produksi kit ini dapat dimaklumi kalau diingat, di Amerika
Serikat saja ada 2.300 bank darah dan plasma yang mengumpulkan
sekitar 12 juta botol setiap tahun. Jadi, pasaran untuk kit
ini memang luas Fortune, 15 April 1985).
Persoalannya sekarang, apakah kita sudah perlu mengikuti Amerika
dan Prancis, mewajibkan pemeriksaan ini pada setiap calon donor
darah? Seperti yang dilaporkan TEMPO, sampai saat ini di
Indonesia belum ditemukan kasus AIDS. Karena itu, pemeriksaan
itu belum perlu diwajibkan. Jika sekarang pemeriksaan itu
diwajibkan, maka sebagian besar anggaran Departemen Kesehatan
akan tersedot untuk biaya pemeriksaan itu. Padahal, kita
mempunyai masalah kesehatan lain yang lebih penting.
Meskipun demikian, para pembaca yang ingin mengetahui apakah
dirinya tercemar virus penyebab AIDS atau tidak, dapat
memeriksakan diri ke Poliklinik Penyakit Dalam FK UI/RSCM.
Seperti telah sering diberitakan, golongan yang punya risiko
tinggi terhadap penyakit ini adalah kelompok homoseksual,
pemakai obat bius, penderita hemofilia, atau kelainan perdarahan
lain yang mendapat transfusi faktor VIII.
SAMSURIDJAL
Jalan Cumi-Cumi Raya Nomor 25
Jakarta Timur
|