Maut Menjemput Di Osutaka Boeing 747 jal 123 dalam penerbangan Tokyo-Osaka jatuh di
Osutaka 520 orang tewas 4 orang yang duduk di kabin belakang
selamat. Penyebabnya dari kerusakan di kabin belakang.
Presiden JAL akan mundur. (ln) |
LIMA belas jam Yumi Ochiai, 26, terperangkap di hutan lebat
Gunung Osutaka sebelum regu penolong berhasil meyelamatkannya,
Rabu pekan silam. Pramugari JAL ini adalah satu dari empat
wanita yang lolos dari kecelakaan maut Boeing 747 yang jatuh
Senin petang dalam penerbangan domestik Tokyo-Osaka. Korban
tewas seluruhnya 520 orang, terbesar untuk kecelakaan yang
melibatkan satu pesawat dan kedua terbesar sejak tipe pesawat
Jumbo mulai beroperasi 1969. Kecelakaan paling dahsyat terjadi
pada tahun 1977, ketika dua Boeing 747 tabrakan di landasan
pacu bandar udara Tananarive, Pulau Canary. Korban seluruhnya
582 orang.
Sampai kini sudah 288 mayat dikeluarkan dari pegunungan
berjurang terjal yang sangat sukar ditembus meski letaknya hanya
100 km timur laut Tokyo. Memang bukanlah pekerjaan mudah terjun
ke hutan lebat yang kini dipenuhi pecahan alumunium, reruntuhan
pohon dengan banyak boneka dan sobekan baju terserak di
sana-sini. Tidak kurang dari 4.400 tentara, polisi, dan regu
SAR dikerahkan sejak Selasa pekan lalu. Khusus untuk
"mengeluarkan" empat orang yang selamat, mereka terpaksa
diturunkan dengan tali dari sebuah helikopter. Dan ini hanya
mungkin dilakukan sesudah melacak kawasan itu beberapa jam
lamanya.
Kecelakaan ini merupakan pukulan berat bagi JAL (Japan
Airlines), perusahaan pembawa bendera yang sebagian sahamnya
dimiliki pemerintah Jepang. Hanya dalam dua hari nilai sahamnya
turun 17%, dan tampaknya jumlah penumpang juga menyusut.
Sementara itu, sesuai dengan tradisi kepemimpinan di Jepang,
dua tokoh penting, Menteri Perhubungan Hiroshi Fujiwara dan
presiden JAL Yasumoto Takago, langsung menyatakan keinginan
mereka mengundurkan diri. Tapi hal ini tidak membuat JAL bebas
dari kecaman. Perusahaan itu akhir-akhir ini banyak dikritik
karena lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan
penumpang. Berbagai kecelakaan, satu di antaranya yang
menewaskan 24 orang di bandar udara Haneda (1982), telah
terjadi karena kecerobohan.
Adapun pesawat dengan nomor penerbanganJAL 123, yang jatuh di
Osutaka itu, sebelumnya sudah mengalami dua kali kecelakaan
kecil. Pertama pada 1978, manakala ekornya terseret sepanjang
lebih dari 300 m kedua pada 1982 di saat mendarat sebuah
mesinnya mengalami kerusakan. Tapi sesudah dibengkelkan
beberapa waktu, jumbo jet yang malang ini dinyatakan layak
terbang, dan kabarnya tidak semua bagiannya diperiksa.
Dan itu diakui sendiri oleh pihak JAL bahwa stabilisator
vertikal pesawat itu, yang diduga menyebabkan kecelakaan, justru
tidak pernah mengalami pengecekan rutin. Padahal, sejak 1983,
dan terakhir Juni 1985, perusahaan Boeing, yang berkedudukan di
Seattle, AS, sudah memperingatkan semua perusahaan yang
mengoperasikan Boeing agar meningkatkan perawatan pesawat.
Soalnya, ada kelemahan struktural - di samping kejenuhan
logam - yang dikhawatirkan bisa menimbulkan kecelakaan.
Bisa dimaklumi jika pilot kawakan JAL Masami Takahama, 49,
dengan rekor 12.404 jam terbang itu, tidak bisa menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi dengan JAL 123. Ia menyebut-nyebut soal
pintu belakang yang patah, padahal menurut Pramugari Yumi
Ochiai justru atap kabin dekat kamar kecil yang terbongkar.
Sebelumnya, kira-kira 13 menit sesudah tinggal landas, Yumi
dikejutkan oleh suara keras tapi dipastikannya bukan akibat
ledakan. "Seketika ruang kabin memutih," ujar pramugari itu
mengungkapkan. Ia menyimpulkan bahwa telah terjadi kondensasi.
Hanya beberapa detik kemudian, pesawat mulai mengalami apa yang
disebut Dutch roll - terguncang dari ulung sayap yang satu ke
yang lain, dari moncong ke ekor. Dalam keadaan seperti itu Yumi
masih sempat melihat Gunung Fuji, hingga ia mengira pesawat
memutar arah kembali ke Haneda, Tokyo.
Memang pada saat itu, tepatnya pukul 6.31 petang waktu setempat,
pilot melapor ke menara Tokyo bahwa ia akan kembali ke Haneda. Tapi
sepuluh menit kemudian Masami memastikan pesawat mesti mendarat
darurat. Untuk kesekian kalinya menara Tokyo melaporkan "Haneda
siap", tapi dalam sepuluh menit Masami mengatakan pesawatnya tak
bisa dikontrol. Dan lima menit berikutnya, penerbang tidak bisa
lagi mengetahui posisi pesawatnya. Sekitar waktu itulah mungkin
tanda bahaya dibunyikan dan jaket penyelamat dibagi-bagikan.
Penumpang, menurut Yumi, langsung panik, dan anak-anak
berteriak: "Okasan . . . Okasan! (Ibu . . . Ibu!)." Kemudian
mereka sibuk mencari pelampung penyelamat (life jackets) di
bawah tempat duduk masing-masing. Dengan bantuan awak kabin,
para penumpang lantas mengenakannya. "Setelah itu kami
diminta untuk membungkukkan badan sambil menangkup lutut,"
kata Yumi.
Pada saat-saat menegangkan itu, Masakatsu Taniguchi, 40, staf
penjualan sebuah perusahaan, masih sempat menulis pesan terakhir
kepada istrinya, Machiko, di kotak kertas berlogo JAL. "Jaga dan
rawatlah anak-anak kita. Masakatsu Taniguchi, 6.30." Sedangkan
Kazuo Yoshimura, 41, asal Yokohama, menuliskannya di sebuah
amlop coklat: "Tabahlah engkau."
Hiroji Kawaguchi, 52, kepala cabang perusahaan pelayaran Mitsui
O.S.K. Lines, menulis pesan yang sedikit panjang kepada
keluarganya di buku sakunya. "Maafkan aku. Aku sendiri tak tahu
mengapa semua ini terjadi. Semoga Tuhan menolongku. Yang pasti
aku sangat mencintai perjalanan hidupku," tulisnya.
"Tiba-tiba pesawat menukik tajam," tutur Yumi, pramugari yang
sebenarnya sedang cuti kawin itu. "Saya merasakan dua tiga kali
guncangan. Tempat duduk, bantal, dan barang-barang terlambung ke
udara. Saya tak dapat bergerak karena tertekan, perut saya
seperti tercabik-cabik." Dalam keadaan begitu, Yumi masih sempat
melepas sabuk penyelamat. Dari kegelapan hutan ia melihat
helikopter dan melambaikan tangan tanpa hasil. Kemudian, "Saya
tertidur," kata Yumi, yang mengalami patah tulang pinggul.
Ibu dan anak, Hiroko, 34, dan Mikiko Yoshizaki, 8, juga cedera,
tapi bernasib lebih mujur. Mereka tertolong tapi harus menerima
kenyataan bahwa sang suami, Yuzo Yoshizaki, dan kedua anak
lainnya, Mitsuyosho dan Yukari, tewas. Bagi Hiroko ini adalah
penerbangan yang pertama. Ia berlibur ke Tokyo bersama ketiga
anaknya lalu bergabung dengan suami yang sudah berada di sana
untuk urusan bisnis. Yuzo sebenarnya sudah dijadwalkan kembali
ke Osaka dengan pesawat lain, tapi batal hingga akhirnya ia
bersama seluruh keluarga menumpang pesawat yang nahas itu.
Siswi SLP Keiko Kawakami, 12, juga patah tulang dan terkilir,
tapi seba- gaimana tiga penumpang lainnya yang duduk di bagian
ekor, ia selamat, sekalipun patah tulang dan terkilir. Inilah
pengalamannya:
"Begitu pesawat jatuh, kami sekeluarga pasrah," ujarnya. Setelah
tersadar, ia mendapati ibunya sudah tiada, tapi ayah dan adik
perempuan-nya masih hidup. Bahkan ayahnya masih sempat
menyuruhnya melepaskan ikatan tali pinggang penyelamat.
Kemudian mereka pun bercakap-cakap soal masa depan. "Kamu harus
berani menghadapi hidup ini," kata si ayah, yang ternyata adalah
kalimat terakhir yang terucap dari mulutnya.
Kemudian Keiko menoleh kepada adiknya, Sakiko, 7, yang
tergeletak di sampingnya di antara reruntuhan pesawat. "Jangan
khawatir. Kamu dalam keadaan selamat. Jika kita selamat nanti,
kita akan tinggal bersama Kak Chiharu dan Nenek," ujarnya
mencoba menenangkan sang adik. Chiharu, 14, adalah kakak tertua
dari tiga bersaudara itu, yang kebetulan tidak ikut dalam
perjalanan nahas tersebut.
Kata-kata Keiko itu ternyata tidak mendapat tanggapan dari
Sakiko. Tidak lama kemudian, Keiko mendengar adiknya memuntahkan
isi perutnya. Lalu tubuh Sakiko meregang di bawah tatapan mata
sang kakak.
Tidak heran kalau banyak penumpang sekarang pada berebut duduk
di belakang, padahal penyebab kecelakaan JAL 123 justru kabarnya
terdapat di situ, pada bagian yang disebut stabilisator
vertikal. Kuat dugaan, karena stabilisator ini patah, jumbo jet
tidak mampu lagi menjaga keseimbangan, bahkan kemudi pun tidak
lagi berfungsi. Dan petang itu JAL 123 tak ubah nya selembar
daun, melayang kian kemari hingga akhirnya jatuh terempas ke
Gunung Osutaka.
Isma Sawitri
Laporan pembantu TEMPO dari Tokyo
|