Panglima Baru, Wakasad Baru Mayjen Try Sutrisno menduduki tugas baru sebagai wakil
kepala staf TNI-AD. Jabatan lamanya digantikan Mayjen
Sugito, bekas Pangkopur di Timor Timur. (nas) |
JAKARTA punya panglima baru. Tak kurang dari 11 batalyon satuan
pengamanan Ibu Kota melakukan upacara sambutan untuk Mayjen
Sugito di lapangan Parkir Timur Senayan, Jumat pekan lalu.
Mereka juga mengantar Mayjen Try Sutrisno, panglima yang lama,
yang akan mengemban tugas baru sebagai wakil kepala staf TNI-AD.
Ada suasana haru dalam upacara yang berjalan singkat ini.
Terutama saat Try menyalami para stafnya. "Pak Try sangat akrab
dengan anak buah," komentar seorang prajurit yang turut
menyalami. Try sempat dua tahun delapan bulan bertugas sebagai
pangdam Jaya.
Masa yang singkat itu toh penuh warna. Peristiwa Priok dan BCA
sempat menguji kepemimpinannya. Tampaknya ia dinilai lulus.
Paling tidak KSAD Jenderal Rudini menyatakan bahwa Try telah
menjalankan tugas "dengan sangat baik", ketika membacakan amanat
dalam upacara itu.
Memang masa jabatan Try punya kesan tersendiri. Mengaku pernah
dididik di madrasah, ia banyak melakukan kunjungan ke
masjid-masjid di Jakarta. Mulutnya fasih mengutip ayat-ayat
Alquran dan ia tak pernah canggung jika diminta menjadi imam
sembahyang. Pendekatannya yang "persuasif edukatif" membuat
banyak pihak menduga, Try akan menduduki karier di bidang
sospol. Ternyata, pimpinan Angkatan Darat punya pendapat lain.
Prestasi ini tentu akan dipertahankan Sugito, 46, yang empat
tahun lebih muda dari Try. "Saya berharap apa yang masyarakat
berikan pada Pak Try juga diberikan pada saya," kata lulusan AMN
Magelang 1961 itu. Berbeda dengan Try - yang menjadi pahgdam
Sriwijaya sebelum ditarik ke Jakarta - jabatan pangdam merupakan
hal baru bagi Sugito. Ayah dua anak ini dikenal sebagai "orang
tempur" oleh rekan-rekannya. Sebab, selain jabatan atase
pertahanan di Hanoi, 1978-1982, boleh dikata Sugito
selalu membawahkan satuan tempur. Jabatan komandan peleton
hingga komandan grup pasukan elite Baret Merah mewarnai
awal kariernya. Bahkan sebuah sumber menyebutkan, Sugito sebagai
komandan pasukan Kopassandha (sekarang Puspassus) pertama yang
terjun di Timor Timur. Sehingga tak banyak yang terkejut ketika
pria bertubuh tegap ini diangkat menjadi panglima Komando Tempur
Lintas Udara Kostrad (Pangkopur).
Bukan berarti jenderal kelahiran Yogya ini tak berpengalaman di
bidang teritorial. Sebagai pangkopur ia sempat bertanggung jawab
atas wilayah Timor Timur. Nah, dalam masa jabatannya ini,
menurut beberapa wartawan asing yang berkunjung ke Timor Timur,
"Banyak penyempurnaan yang dilakukan." Tak heran jika
kepindahannya ke Jakarta dirasa berat oleh sebagian penduduk
Tim-Tim.
MASIH harus ditunggu apakah ia dapat mengulangi keberhasilannya
ini di Ibu Kota. "Saya belum banyak mempelajari Jakarta,"
katanya kepada Eko Yuswanto dari TEMPO, pekan lalu. Maklum, ia
baru mengetahui jabatan barunya sekitar dua minggu sebelum
pelantikan. Yang jelas, Sugito tetap akan melanjutkan konsep
"Catur Upaya" pendahulunya. Yaitu: Pendekatan persuasif
edukatif, pendekatan pencegahan, pendekatan represif terbatas,
dan pendekatan represif total. Yang terakhir ini dilakukan,
"Jika keadaan mengancam sendi-sendi stabilitas nasional," kata
Try dalam serah terima jabatan komandan Garnisun kepada
penggantinya.
Stabilitas memang merupakan tugas utama panglima. Ini bukan
tugas yang ringan. Jenderal Rudini sendiri mengatakan, "Tugas
Kodam Jaya memang berat karena citra stabilitas keamanan dan
ketertiban negara dipancarkan dari Ibu Kota." Bukan cuma masalah
politik karena Jenderal Try sendiri mengaku masalah gangguan
keamanan yang paling banyak dialami selama masa jabatannya
adalah gangguan kriminal. "Ya copet-copet, maling-maling
itulah," katanya kepada Agus Basri dari TEMPO.
Masalah kriminal ini tentunya tak banyak lagi menyita waktu Try
di jabatan barunya, mewakili Jenderal Rudini yang akan memasuki
usia pensiun.
|