Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XV/10 - 16 Agustus 1985
   
Seni Rupa

Kontras Tanpa Keharusan

Pameran lukisan dede eri supria di tim. miskin keharuan dan terlalu asyik dengan bentuk. resensi: bambang bujono. (sr)

KOTA yang angkuh Kemudian para urban yang tetap saja bertampang
udik. Kota tumbuh gemerlap, dengar gedung tingg-tinggi, bertaraf
internasional. Sementara itu, seorang bapak berkopiah, dengan
baju dan celana lusuh, berselempang sarung, membawa tas butut,
berdiri bengong menatap badan bis kota. Dan tiba-tiba, di badan
bisa itu terbayang kota yang angkuh itu.

Kontras antara kota dan para urban kali ini mendominasi pameran
Dede Eri Supria - pameran tunggal ketiga dari pelukis yang kini
29 tahun. Sebuah masalah yang sebetulnya bukan baru lagi:
kepincangan sosial. Di sebuah jalan dengan gedung-gedung megah,
seorang lelaki berkaus dan bercelana pendek dengan kaki telanjang
mendorong sepeda berbagasi keranjang bambu penuh muatan. Lalu
sejumlah orang dengan pakaian dan gaya dusun - ada yang berdiri,
ada yang jongkok - menatap sebuah pemandangan gemerlapnya kaca
dan gedung modern. Dalam lukisan lain berjudul Di Antara Seribu
Jendela, seorang lelaki bercaping, berkain sarung, duduk tak
berdaya terkurung dalam kaca-kaca - simbol bangunan masa kini.
Apa yang kemudian mencuat dari sana?

Tokoh-tokoh Dede adalah orang-orang yang ketinggalan kereta -
dilihat dari kaca mata pembangunan yang sedang berjalan. Pada
kanvas, orang-orang itu terasa bak barang antik yang tercecer.
Barang, tentu saja, bukan manusia. Itulah yang antara lain
terlontar dari sejumlah kanvas pelukis yang pernah belajar di
Sekolah Seni Rupa, Yogyakarta, tapi yang lahir, tumbuh, dan
berkembang di Jakarta. Bahwa modernisasi fisik, bagi sejumlah
orang, hanyalah berarti memisahkan mereka, dari lingkungannya.
Tiba-tiba gerombolan orang yang menatap kota itu terasa senilai
dengan sebuah jendela kaca, sebuah gedung, atau sebuah papan reklame.
Si lelaki pendorong sepeda berdiri sederajat dengan sebuah tiang
bangunan. Atau, dalam Malioboro, perempuan tua satu-satunya
orang yang dimunculkan pada arkade pertokoan yang senyap itu,
rasanya, sama saja dengan kain lorek-lorek untuk menyelubungi
entah apa di dekatnya. Si perempuan dan kain, dari sudut
komposisi lukisan, memang tak lebih dari dua bentuk yang membuat
keseimbangan.

Dibandingkan dengan karya Dede pada pameran tunggalnya yang
pertama, 1979, karya 1983-1985 ini memang lebih luwes. Dulu la
masih sering menggunakan slide projector untuk membantu membuat
bentuk sepersis aslinya bak sebuah foto. Kini cukup dengan
foto-foto berwarna yang dibuatnya sendiri. Detail memang
kemudian agak hilang. Tapi kini sapuan kuas dibandingkan lukisan
yang dulu, agak lebih bisa dirasakan. Bahkan dalam Potret
Istriku (1985), niat membuat sepersis foto tak lagi terasa.
Lukisan satu ini bisa dibilang dibuat dengan semangat
impresionistis: ucapan emosional lebih dipentingkan.

Toh, emosi itu tak sampai. Masih seperti dulu, sebagian besar
karya Dede miskin keharuan. Padahal, melihat kemampuan teknisnya
sekarang, mestinya ia tak lagi kesulitan menggarap bentuk dan
warna. Keasyikan pada membuat bentuk agak menenggelamkan
ide-ide. Misalnya Senja di Pulogadung, sebuah pemandangan di
muka pabrik ketika jam kerja usai. Para buruh berdesak-desakan
keluar dari tempat kerja. Yang membedakan karya ini dari
lukisan realistis biasa: ada sebuah beker, kira-kira sebesar
tiga kali kepala orang, terselip di antara orang yang
berdesak-desak itu. Pada saya, lukisan ini mengesankan sebuah
gerombolan manusia tanpa identitas yang bergerak bagaikan
mesin, pulang dan pergi dijadwal mirip komputer yang diprogram.
Sayangnya, cerita ini sampai kepada saya bukan lewat sentuhan
emosi, tapi lebih lewat akal. Dengan kata lain, sebenarnya
lukisan ini tak memberikan rasa haru. Bentuk dan gagasan yang
terkandung di dalamnya tak membawa kita terperangkap. Pasalnya,
guncangan untuk membuat pemandangan para buruh pulang itu
bukan sekadar lukisan realistis biasa tak begitu kuat. Gambar
beker itu tak segera tampil ke depan.

Dan demikianlah rata-rata karya Dede. Tampaknya, ia masih
terlalu asyik dengan bagaimana membuat bentuk sepersis
kenyataan. Sementara itu, kenyataan itu sendiri sebenarnya tak
dihayatinya secara intens. Dan kesenian, apa pun gayanya,
tentulah tak cuma berurusan dengan akal.

Untunglah, disadari atau tidak, Dede pun membuat sesuatu yang
lain - dan ini merupakan kecenderungan baru baginya. Pada
lukisan Nasib Seorang Pegawai, bukan cuma bentuk yang
digarapnya, tapi juga ekspresi wajah figur. Seorang lelaki
dengan seragam pekerja, menenteng tas plastik, berjalan dengan
ogah. Wajahnya mencerminkan suatu ketakberdayaan. Di
latar belakang: sebuah kompleks gedung yang sepi. Hanya ada
bayang-bayang hitam gedung itu di jalan beraspal. Lalu sebuah
rambu lalu lintas yang sedikit penyok. Bagi seorang pengunjung
pameran, wajah itu mengingatkan pada tokoh Mamad, seorang
pegawai kecil yang harus hidup pas-pasan, bahkan kekurangan,
dalam film Almarhum Sjuman Djaya.

Kecenderungan lain, Dede mencoba keluar dari kenyataan
sehari-hari. Sebenarnya ini pernah dilakukannya dulu, di tahun
1970-an. Misalnya, ia pernah melukis seorang figur perempuan,
mengenakan rok blue jean. Figur ini tak berwajah. Wajahnya,
seperti terbuat dari gips, tergeletak di meja. Sebuah suasana
surealistis, begitulah. Dalam pameran ini, lukisan sejenis
itu ada beberapa.

Dalam Pemandangan Jakarta, misalnya, Dede monggambarkan sebuah
gedung yang tengah runtuh. Lalu, jendela-jendela kacanya terbang
ke angkasa. Yang lain, lukisan kompleks perumahan yang dilukis
dengan cermat. Tapi, lihatlah, ternyata ada bidang-bidang oranye
membelah rumah-rumah. Dalam hal yang begini, gambar obyek yang
realistis hampir tak berarti. Yang kemudian terasa adalah
komposisi itu sendiri. Bukan rumah-rumah itu yang penting,
tapi warna cokelat genting, dan bentuk trapesium yang
berjajar-jajar. Hal itu lebih jelas lagi dalam Becak. Begitu
campur aduknya bentuk becak itu hingga yang terlukis di kanvas
hanyalah komposisi warna. Becak memang lebih dekat ke seni
lukis nonrfiguratif: kembali hanya garis, bentuk, dan warna.

Agaknya, selama ini Dede Eri Supria memang lebih melihat bentuk
daripada yang ada di belakangnya. Mungkin itu sebabnya sebagian
besar karyanya terasa sekadar potret yang fotografis, meski
mencerminkan suatu kepiawaian membuat kepersisan gambar dengan
bentuk obyek senyatanya. Ia pernah menceritakan bagaimana
mencari ilham: membuat potret-potret obyek yang menarik hatinya,
mengumpulkan gambar-gambar di majalah. Kepincangan sosial yang
digambarkannya, misalnya, lebih dilihatnya sebagai perbedaan
antara bentuk yang lusuh dan bentuk yang gemerlap. Ia tak
berangkat dari dalam, dari rasa haru itu sendiri ketika melihat
kenyataan sosial tadi.

Bambang Bujono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data