Dari Kotbah Pedagang Mebel Pangdam Jaya Try Sutrisno menganggap khotbah Idul Fitri Latief
Amir di Kebon Baru dan Safruddin Prawiranegara di Tipar Cakung
bersikap ekstrem. Yang pertama sudah diciduk, yang terakhir
baru dipanggil.(ag) |
BEBERAPA hari sebelum Lebaran, Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno
menegaskan: tidak akan ada seleksi dan pengawasan terhadap para
katib salat Idul Fitri. Sejak dulu, kata Try, seleksi dan
pengawasan ini tidak ada. "Kotbah dan dakwah adalah suatu ajakan
kepada orang untuk berbuat baik, maka gunakanlah mimbar yang
suci dan baik tersebut sebaik-baiknya," ujarnya.
Idul Fitri pun berlalu. Menurut penilaian Try, suasana kotbah
pada salat id biasa dan aman. "Itu rupanya karena bangsa kita
pada dasarnya cinta damai bukan karena takut atau dibungkam".
Pendapat Try itu dikemukakannya lima hari setelah Lebaran.
Namun, kata Try, ada dua katib yang kotbahnya dinilai ekstrem.
Yang pertama AL, yang memberikan kotbah di masjid Kebon Baru,
Jakarta Selatan. Tatkala hendak diminta pertanggung jawabannya,
AL "melarikan diri". "Coba, seandainya ia sungguh berniat baik,
'kan tidak perlu lari," kata Try.
Katib yang kedua berkotbah di masjid milik almarhum Amir Biki di
Jakarta Utara. Katib ini, menurut Try, selalu bersikap a priori
terhadap pemerintah. Ia menyesalkan tindakan ekstrem seperti
itu, yang dianggap hendak mengobarkan emosi massa. "Kalau
terjadi lagi kerusuhan dan pembunuhan, apakah mereka mau memikul
tanggung jawabnya? Mereka sudah sering kita imbau: Pak jangan
nakallah. Anak cucu mendambakan suasana tenteram dan aman untuk
meneruskan pembangunan. Kalau ada yang tidak beres, marilah
kita pikirkan bersama, jangan saling tuding".
AL yang dimaksud Try ternyata Latief Amir, yang tinggal di Jalan
Salak Ujung, Kelurahan Guntur, Jakarta Selatan. Pria kelahiran
Pekalongan yang berperawakan gemuk dan memakai kaca mata minus
ini diambil oleh petugas keamanan di rumahnya pada pagi 1 Juli
lalu. Dalam pemeriksaan Latief mengaku, pada 20 Juni ia
menyampaikan kotbah pada salat id di lapangan bola Kebon Baru,
berjudul "Untuk Mengagungkan Asma Allah dan Meninggikan Syiar Islam".
Menurut seorang petugas, kotbah Latief memang agak keras ."Dia
mengatakan bahwa upacara penghormatan bendera tidak boleh
dilakukan karena hal itu musyrik. Dia juga mengatakan,
pembangunan manusia seutuhnya yang sedang digalakkan pemerintah,
bertentangan dengan agama".
Latief, 42, cukup dikenal masyarakat Kebon Baru, walau ia tidak
begitu akrab dengan para tetangganya. Setiap pagi ia memberikan
kuliah subuh di masjid Al Hikmah, milik masyarakat Jalan Salak.
"Sejak beberapa tahun terakhir ini ia juga menjadi guru mengaji
di sini. Muridnya cukup banyak, sekitar seratus orang," kata
seorang tetangga.
Sumber penghasilan Latief diperolehnya dengan berdagang lemari
serta meja kursi Tempat tinggalnya, sebuah kamar kontrakan
berukuran 3 x 4 meter, ditinggalinya bersama istrinya, yang
konon merupakan istri ketiga. Kedua istrinya yang terdahulu
sudah diceraikannya. Bersama istrinya yang tengah mengandung
kini, Latief berlebaran ke Pekalongan dengan naik skuter. Begitu
kembali ke Jakarta, petugas keamanan menciduknya.
Katib kedua yang dinilai ekstrem adalah Sjafruddin
Prawiranegara. Bekas Ketua Pemerintah Darurat RIS ini bertindak
sebagai katib pada salat id di masjid Al A'raf, Jalan Tipar
Cakung, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. "Saya
diundang oleh beberapa saudara almarhum Amir Biki untuk
berkotbah di masjid mereka. Permintaan itu diajukan 14 hari
sebelum Idul Fitri. Saya bersedia karena ada panitia yang
bersedia bertanggung jawab. Apalagi pada waktu itu tidak ada
imbauan," kata Sjafruddin.
Sekitar dua ribu jemaah memenuhi masjid bertingkat dua pada
salat id itu, hingga mereka meluber ke jalan raya. Penjagaan
keamanan cukup ketat, walau tidak mencolok. Kotbah dengan judul
"Membebaskan Diri dari Rasa Takut", itu dibawakan Sjafruddin
dengan lantang. Ia antara lain mengatakan, usainya ibadah puasa
membuat orang yang menoleh ke belakang merasa gembira, karena
telah menyelesaikan tugas pembersihan jiwa dengan baik. "Tapi
kalau melihat ke depan saya tidak tahu berapa di antara kita
yang masih merasa gembira". Kalau melihat ke luar, katanya,
dunia Indonesia tampaknya diliputi kabut hitam atau abu-abu.
Kabut hitam itu, menurut Sjafruddin disebabkan karena rasa
takut: takut memberitakan yang benar. Takut, jangan-jangan
pendapat dan berita itu kurang menyenangkan kalangan pemerintah
tertentu.
Lalu Sjafruddin menyinggung Peristiwa Tanjung Priok, keluarnya
"Lembaran Putih", serta pemboman BCA. Ia menilai perlakuan
terhadap mereka yang dituduh terlibat dalam berbagai peristiwa
itu memperkuat rasa takut dan risau "yang mencekam rakyat biasa,
khususnya umat Islam". Menurut Sjafruddin, "Kalau keadaan ini
berlanjut, nanti pemerintah sendiri yang akan menjadi bingung,
karena tidak tahu lagi apa yang benar dan apa yang tidak benar,
dan apa yang harus dibuat. Dan pada suatu hari mungkin akan
dihadapkan pada kejutan kejutan yang sama sekali tidak di
duga-duga.
Untuk menghilangkan rasa takut itu, Sjafruddin, 74, menganjurkan
dua hal. Pertama, agar perjuangan didasarkan atas kemauan dan
kekuatan sendiri, dan hanya bersandar pada kekuasaan Allah.
Dianjurkannya juga, bila ingin menegakkan kebenaran dan
keadilan, jangan sekali-kali mempergunakan kekerasan, kecuali
sebagai pembelaan diri.
Menurut Sjafruddin, yang juga pernah menjabat Menteri Keuangan
RIS dan Gubernur Bank Indonesia pertama, kotbahnya itu tidak
dicetak dan tidak dibagikan kepada para pengunjung. "Tapi kini,
karena saya diekspos, teks kotbah itu mungkin sudah diperbanyak,
entah sampai di mana".
Sjafruddin, yang kini menjabat ketua umum Korps Muballigh
Indonesia, ternyata telah mengirimkan teks kotbahnya kepada
sejumlah pejabat, termasuk Ketua Mahkamah Agung, Menteri
Kehakiman, Jaksa Agung, Pangab, dan Kapolri. Ia juga
mengirimkannya kepada Kapolres Jakarta Utara begitu ia pada 20
Juni menerima panggilan untuk menghadap. Dalam balasannya
tertanggal 26 Juni, Sjafruddin menjelaskan bahwa ia baru bisa
memenuhi panggilan kepolisian itu setelah 1 Juli karena akan
berlibur ke luar kota dengan keluarganya. Selasa pagi 2 Juli,
Sjafruddin yang sebelumnya juga pernah dicegah berkotbah karena
teks kotbahnya yang keras, memenuhi panggilan polisi.
|