Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XV/22 - 28 Juni 1985
   
Ekonomi dan Bisnis

Samarinda Punya Nama

Perajin kain sarung di Gresik bertahun-tahun memakai kain label samarinda untuk mendompleng popularitas kain asli Samarinda. Secara kecil-kecilan mulai diekspor. DPRD Kal-tim menyampaikan protes pendompleng.(eb)

KAIN sarung belum merupakan pakaian tradisional yang usang.
Setidak-tidaknya banyak orang kota, pada hari Lebaran, tak
sungkan menggunakannya. Ternyata, motif-motif luar Jawa yang
tetap populer terutama kain Bugis dan Samarinda. Kain Bugis,
umumnya, dipercaya masih asli buatan Sulawesi Selatan. Tapi kain
Samarinda? Sudah banyak ditenun di Jawa, terutama di Gresik.
Belum lama ini, rombongan DPRD/Komisi D Kalimantan Timur, yang
berkunjung ke PT Petrokimia, menyempatkan diri mengunjungi salah
satu perajin kain Samarinda untuk . . . melancarkan protes. Di
PT Behacstex ketua rombongan DPRD itu menyesaikan, kenapa Gresik
menggunakan merk yang terkenal dari Kalimantan Timur itu.

Sekitar 110 perajin kain di Gresik, terutama di Desa Cerme dan
sekitar Jalan Malik Ibrahim, memang memproduksi kain yang 90%
bermotif Samarinda. Ada yang masih mempergunakan mesin
tradisional ATBM (alat tenun bukan mesin), tapi kebanyakan sudah
mempergunakan ATM (alat tenun mesin). Seorang pejabat teras di
Gresik balas mcnyesali pernyataan DPRD tadi. "Seolah-olah semua
perajin Gresik itu penjiplak saja," katanya.

Gresik sudah terkenal sebagai kota kerajinan sarung sejak Zaman
Belanda - bahkan sudah pcrnah mengekspor kecil-kecilan sampai ke
Timur Tengah. Menurut direktur PT Behaestex, yang mempekerjakan
400 orang, Gresik mulai mengenal motif Samarinda tahun 1950-an.
Waktu itu banyak sarung membanjir ke Jawa, baik dari Samarinda,
Bugis, maupun Donggala. Tapi motif Samarindalah yang paling
disukai di Surabaya.

Hanya karena untuk mendompleng popularitas Samarinda, para
perajin di Gresik kemudian menggunakan label Samarinda pada cap
sarungnya. Padahal, motifnya sungguh berbeda dari asli dari
Kalimantan Timur. Samarinda asli bermotifkan kotak-kotak dengan
warna hitam, violet, dan merah. Sedangkan dari Gresik bercorak
kembangan dengan warna krem, violet, dan putih - sebagian memang
masih memakai unsur corak Samarinda asli, misalnya kotak-kotak.

H. Nurdin, salah satu perajin keturunan Bugis di Gresik yang
juga memproduksi kain Samarinda, mengatakan bahwa ia tidak
menjiplak lagi motif Samarinda. Mertuanya, yang telah mcwariskan
perusahaan tenun kepadanya, memang pernah belajar ke Samarinda.
Tapi motif Samarinda asli, menurut Nurdin, kini tak laku lagi.
"Kami beri garis merah saja pada kotak-kotak itu, sudah tak
laku," katanya, sambil menunjukkan setumpuk sarung Samarinda di
gudang, yang konon sudah bertahun-tahun berada di situ.

Tapi, nama dagang Samarinda itu rupanya tak disukai para
perajin di Samarinda karena sebagian kain Gresik sudah merasuk
ke Samarinda sendiri. Ketua rombongan DPRD yang berkunjung ke
Gresik, Sugandha, memprotes bahwa rczeki perajin di Samarinda
sudah dibungkus sarung Samarinda dari Gresik, kendati tidak
memberikan data penurunan pasaran kain rakyat asli Samarinda.

Bisnis kain sarung Gresik scndiri, kini, tak cerah seperti tahun
1960-an. Menurut kepala Kantor Perindustrian Gresik, Soewondo,
menjelang Lebaran alat tenun para perajin bisa berjalan 70%.
Habis Lebaran, biasanya, melorot tinggal 40%. "Di bulan Puasa,
pedagang kain berani menaruh uang lebih dulu, sedangkan lewat
Lebaran kami biasa terima cek mundur enam bulan," tutur H.
Nurdin yang biasa menaruh cap Hidayat pada kain srung yang
diproduksinya dengan 35 ATBM di rumahnya. Sebenarnya ia memiliki
70 unit ATBM, tapi, karena kekurangan modal kerja, tak semua
mesin di jalankan. Kalangan bankir menganggap bisnis kain sarung
sama seperti industri tekstil yang lain: dewasa ini tak
komersial untuk diberi kredit.

Sementara itu, para perajin kain tampaknya tetap menjadi mangsa
tengkulak. Beberapa tahun lalu, mereka memang sempat membuat
koperasi, yakni sewaktu hidup koperasi banyak ditunjang subsidi
bahan baku. Tapi, kini, koperasi sudah payah. Para tengkulak
biasa memesan kain sarung dari perajin sebagian melemparkannya
ke pasaran dalam negeri, tapi ada juga yang mengekspornya ke
Timur Tengah dan Suriname. Kanwil Perdagangan Gresik
memperkirakan, produksi kain sarung di kota itu 5.000 lembar per
hari, tapi berapa yang terjual tak ada datanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data