Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 14/XV/01 - 7 Juni 1985
   
Olahraga

Ambisi Juventus di Stadion Heysel

Klub Juventus, Italia & Liverpool, Inggris, akan berhadapan pada final champions cup 85, di stadion heysel, belgia. Liverpool sudah 4 kali menang, sedang juventus belum pernah.(or)

AKHIRNYA, setelah menjalani kompetisi panjang, dua klub tangguh
Juventus, Italia, dan Liverpool, Inggris, bertemu di final
kejuaraan Eropa 1985. Bertanding di Stadion Heysel Brussels,
Belgia, pekan ini salah satu dari mereka akan memboyong "piala
para juara": Piala Champions - lambang supremasi tertinggi sepak
bola antarklub di Eropa.

Kedua klub yang sudah sama-sama berusia hampir seratus tahun itu
memang berambisi untuk memahkotai piala yang sudah diperebutkan
sejak 1956 lalu itu. Sebab, buat Liverpool, juara tahun lalu,
inilah kesempatan kehma untuk menyimpan trofi kebanggaan itu.
"Kami mau mengejar prestasi Real Madrid (Spanyol), yang pernah
memegang piala itu enam kali," kata Joe Fagan, pelatih klub yang
bermarkas di Anfield Road, Liverpool, Inggris Utara, itu. Real
Madrid adalah juara Champions 1956 sampai 1960, dan terakhir
memegang gelar itu pada 1966.

Ambisi serupa tak ditutupi Juventus, sang penantang dari Turin,
Italia. Memiliki sejumlah pemain ternama, di antaranya Michel
Platini, bintang Prancis yang jadi pemain terbaik Eropa 1984,
Paolo Rossi, salah seorang motor yang menjadikan Italia juara
dunia 1982, dan "si rambut merah" Zbigniew Boniek, goal-getter
khusus yang ditarik dari Polandia, Juventus sungguh amat
bernafsu untuk merampas piala kampiun Eropa itu dari "si
merah-merah" Liverpool. Maklum, klub yang mendapat julukan "si
putri tua" ini belum pernah satu kali pun menuarai Piala
Champions. Padahal, dalam 12 tahun terakhir ini sudah tiga kali
mereka berhasil menempatkan diri ke final.

Sebagai juara Piala Winner 1984,Juventus sebenarnya pernah
mengalahkan Liverpool. Yaitu ketika keduanya bertemu dalam
pertandingan memperebutkan Piala Super piala khusus yang
disediakan UEFA untuk mempertemukan juara Piala Winner dan juara
Piala Champions - pada musim kompetisi 1984. Waktu itu, Juventus
menundukkan Liverpool, juara Piala Champions, 0-2 dalam suatu
pertarungan yang diselenggarakandi Turin, Italia. Kemenangan ini
agaknya yang "secara psikologis" memperkuat kubu Italia itu
untuk menggulung Liverpool di final Piala Champions sekarang.

Itulah sebabnya, pimpinan klub itu, Gianni Agnelli, milyarder
pemilik perusahaan mobil Fiat, penyumbang dana terbesar
Juventus, kini betul-betul sedang menunggu "anak-anaknya"
merampas piala itu. "Milan dan Internazionale (keduanya klub
Italia) sudah pernah meraih gelar juara itu, tapi Juventus
belum. Karena itu, kemenangan adalah sasaran kami kali ini,"
kata Giampiero Boniperti, bekas kapten kesebelasan Juventus,
yang dekat hubungannya dengan Agnelli, beberapa hari sebelum
pertandingan di Belgia dimulai.

Kejuaraan di Eropa memang tidak cuma Champions Cup. Beberapa
yang lain adalah Winners Cup Winner, kejuaraan antarklub yang
lain, yang tiga pekan lalu baru saja mempertemukan Everton,
Inggris, dan Rapid Vienna, Austria, di Rotterdam, Belanda.
Pertandingan ini dimenangkan Everton yang menjadi pemegang Piala
Winner 1985, setelah mengalahkan Vienna 3-1.

Tapi, kemenangan Everton, toh, tetap saja dianggap "lebih rendah
tingkatnya" dibandingkan Piala Champions. Ini karena kejuaraan
itu, yang untuk ketiga puluh kalinya dilaksanakan di negara
netral Belgia, sudah lama dianggap penggemar bola Eropa "lebih
bergengsi" dibandingkan kejuaraan lainnya. Di Eropa, untuk
kejuaraan antarklub, sampai kini tercatat tiga kejuaraan yang
setiap tahun dilaksanakan. Selain Champions dan Winner, ada juga
kejuaraan UEFA (Union of European Football Asscotiations Cup -
Piala Persatuan Sepak Bola Eropa), yang pekan lalu baru
direbut Real Madrid, Spanyol.

Tapi, dalam hal bobot dan popularitas, UEFA masih jauh di bawah.
Ini terutama karena adanya perbedaan mutu peserta ketiga
kejuaraan itu. Yakni, Champions diikuti juara Divisi I setiap
negara Eropa anggota UEFA (32 negara). Sedangkan Winner diikuti
juara Persatuan Sepak Bola (Football Associations - FA) tiaptiap
negara anggota UEFA. Sementara itu, Piala UEFA hanya diikuti
klub tangguh di luar juara Divisi I dan Persatuan Sepak Bola
yang dihasilkan Champions dan Winner.

Peserta Piala UEFA ditentukan sendiri oleh pengurus UEFA, dengan
melihat data prestasi mereka di negara masing-masing. Ini
menyebabkan jumlah peserta kompetisi ini tak sama banyaknya dan
tlap negara. Satu negara terkadang bisa diminta pengurus UEFA
mengirimkan lebih dari dua klub.

Lain halnya dengan Champions. Karena diikuti para juara
kompetisi Divisi I yang terpilih lewat kejuaraan yang ketat, ia
selalu bisa menarik minat banyak penggemar sepak bola, dengan
pertandingan-pertandingannya yang bermutu. Bukan hal baru bahwa
Divisi I adalah divisi tertinggi dalam liga sepak bola di Eropa.
Sebuah klub yang bisa menempati Divisi I di Inggris, yang punya
empat divisi dalam liga sepak bolanya, sudah bisa dinilai
sebagai klub yang kuat. Sebab, sebuah klub baru di sana biasanya
mulai merangkak dari Divisi IV, yang paling bawah. Dan dia harus
mengusahakan jadi juara setiap tahun supaya dapat promosi ke
divisi di atasnya.

Berbeda sedikit dengan kompetisi Piala Winner. Kejuaraan yang
resmi di mulai sejak 1961 itu menetapkan, pesertanya adalah
juara FA di negara anggota UEFA. Untuk menjadi juara itu, semua
klub yang ada di liga boleh ikut bertarung. Dan nanti, klub yang
unggul dari semua klub yang keluar sebagai juara FA, dan berhak
mewakili negaranya di kompetisi Piala Winner. Tak peduli dia
anggota divisi I, II, III, atau IV.

Pada 1976, misalnya, kasus seperti ini pernah terjadi. Ketika
klub Divisi II, Southhampton, menjuarai FA setelah di final
mengalahkan Manchester United, klub Divisi I. Kenyataan ini
menunjukkan kompetisi ini lebih spekulatif dalam hal mutu
dibandingkan Champions. Singkat kata, Champions dengan begitu,
bisa disebut semacam gelar juara sejati. Tak heran, kalau
Liverpool - yang kini diperkuat andalan baru John Wark dan
bintang-bintang seperti Ian Rush, Kenny Dalglish, dua penyerang
yang menjadi pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik musim
kompetisi 1984 Divisi I Inggris - tetap bertekad mempertahankan
kehormatan yang sudah diraihnya lewat Piala Champions.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data