Tak apa mahal PT PAL, Surabaya, untuk pertama kalinya membuat kapal perang bersenjata mutakhir dan kapal tanker. Harganya masih mahal. Sebagai sarana pengembangan bakat dan membuka kesempatan kerja. (eb) |
SEBUAH kapal perang bersenjata meriam 76 mm diterjunkan di
Perairan Surabaya. Kapal model FPB-57 (kapal patroli cepat) tipe
angkatan laut yang dilengkapi pesawat sonar dan torpedo itu
merupakan kapal perang pertama buatan PT PAL. Desainnya dibeli
dan dikerjakan dengan bantuan teknik perusahaan Lursen Jerman
Barat. Sambutan penuh kekaguman dilontarkan kepada PT PAL
(Pabrik Kapal Indonesia), Senin lalu, yang telah merakitnya.
Kemampuan PT PAL, yang baru didirikan April 1980 itu, tampaknya
memang sudah diakui beberapa perusahaan kapal luar negeri.
Perusahaan CNR dari Italia, INI dari Spanyol, dan Blohm & Voss
dari Jerman Barat juga pernah datang menawarkan rancangan dan
kerja sama teknik. Industri kapal perang dari AS, Tood dan
Norfolk Shipbuilding and Drydock Corporation, pun tak
ketinggalan. Namun, tawaran paling besar yang mereka ajukan baru
sampai jenis fregat ukuran 2.400 ton.
Sementara ini, PAL, yang telah melakukan investasi Rp 75 milyar
dan modal kerja Rp 134,8 milyar itu, belum akan tergesagesa. Ia
masih berkonsentrasi pada pembuatan FPB-57 dan FPB-28 yang lebih
kecil. Perusahaan tersebut diberi tugas oleh Presiden untuk
menyerap teknologi dari luar dan dalam negeri, kemudian harus
membina wahana industri kapal lainnya, mengembangkan kekuatan
armada unsur keamanan negara serta kapal niaga, dan mampu
meningkatkan lapangan kerja serta kemampuan putra-putri
Indonesia berbakat.
Tentu saja, sebagai perusahaan, ia juga harus bisa untung.
Selama tiga tahun pertama 1980-1982, PAL merugi hampir Rp 8,5
miIyar, baru sejak 1983 untung Rp 3,92 milyar. Keuntungan
tersebut diperoleh dari pembelian kapal oleh perusahaan atau
instansi pemerintah.
Pertamina, Senin lalu, menerima juga kapal tanker berbobot 3.500
ton buatan PAL. Tanker desain perusahaan Jepang Mitsui Zosen itu
berharga 730 juta yen (sekitar Rp 2,5 milyar) - memang lebih
mahal sekitar 15% dari harga di luar negeri. Menteri Ristek B.J.
Habibie, yang membawahkan PAL, mengakui bahwa perusahaan itu
baru bisa bersaing sekitar 10 tahun lagi. Tapi, yang jelas,
keuntungan yang diperoleh antara lain pembukaan lapangan kerja
dan pengembangan bakat sekitar 6.000 orang. Dan diharapkan
kemampuannya akan berkembang dan dioperkan juga ke perusahaan
industri kapal lainnya yang kini berjumlah sekitar 40.
|