Penggantian Gubernur Tentang para gubernur yang telah memerintah di sulawesi
utara. (kom) |
DI ujung 1984 sampai awal 1985 di media massa banyak muncul
berita sekitar proses pergantian gubernur Sulawesi Utara. Kami,
yang pernah menjadi warga Manado dan mengamati pergantian
kepemimpinan utama di Sulawesi Utara, ingin mengomentari.
Masalah pencalonan gubernur urusan DPRD di sana. Tapi tentunya
rakyat Sulawesi Utara mulai bertanya-tanya, siapakah yang bakal
menjadi tonaas (orang besar) dari miangas kepopayato (daerah
perbatasan) Sulawesi Utara periode 1985-1990.
Di utara Sulawesi yang belakangan terkenal dengan aroma
cengkihnya itu, dulu pernah lahir putraputra Minahasa yang
berkaliber nasional, seperti Ratulangie, Mononutu, dan Maramis.
Daerah muda usia dalam struktur peme-rintahan Indonesia itu
pernah pula bergejolak karena Permesta-nya. Daerah itu pada 31
Maret 1960 dikukuhkan secara resmi sebagai Provinsi Sulawesi
Utara dan Tengah, dengan Manado sebagai ibu kota.
Selanjutnya, sejarah Sulawesi Utara mencatat Arnold Baramuli,
jaksa tinggi militer waktu itu, putra daerah Sulawesi, sebagai
gubernur ke-1. Lalu dalam periode selanjutnya kita jumpai tokoh
kawanua Hein Victor Worang (gubernur dua periode) yang sempat
membawa daerah ke dalam kondisi pembangunan yang meng-gebu-gebu
hampir semua lini memperlihatkan kegai-rahan membangun.
Suksesnya antaralain dapat kita lihat dalam toleransi beragama
dengan terselenggaranya MTQ di Manado yang berhasil baik.
Namun, ada yang memprihatinkan dalam pola kepemimpinan Worang:
dalam pertum-buhan kehidupan terasa kurang menguntungkan
strategi jangka panjang. Disadari atau tidak, masyarakat di
Sulawesi Utara yang terdiri dari suku-suku Minahasa, Gorontalo,
Mongondouw, dan Sangir, dipertemukan pada suatu kenyataan:
kepemimpinan daerah terletak di tangan satu "sistem clan", yakni
kekerabatan.
Willy Lasut kemudian hadir membawa kesegaran. Dalam waktu
singkat ia berhasil menggoyahkan kekuatan yang dikembangkan
Worang. Lasut dengan bersemangat meng-imbanginya dengan hal-hal
spiritual - sayang, porsinya tampaknya berlebihan. Posisinya itu
membuat dia tergelincir ditimpa kekuatan kekuatan daerah yang
belum siap menghadapi strategi pembangunan daerah dalam konteks
nasional. Keguncangan pun terjadi. Rasanya bobot persoalan itu
tak mudah dilupakan.
Maka, tampil Erman Harirustaman dari Departemen Dalam Negeri
(Depdagri), sebagai penjabat gubernur sekaligus bertugas
mempersiapkan calon gubernur definitif sesuai dengan UU Nomor 5
Tahun 1974 dan Peraturan Mendagri Nomor 10 Tahun 1974. Dari
sekian calon, sesuai dengan hasil penggodokan dan melalui
aspirasi rakyat di sana, terpilih seorang putra daerah yang juga
putra terbaik ABRI, tentunya. Selama lima tahun tampil Gustaaf
Hendrik Mantik, Pangkowilhan I Sumatera-Kalimantan Barat,
membawa harapan baru.
Mantik datang dengan "kekuatan kosong" guna menetralisasikan
bentrokan-bentrokan yang terjadi karena benturan kekuatan
terhadap pola kepemim-pinan yang dikembangkan pendahulunya,
Worang dan Lasut. "Budaya kosong" berhasil timbul di permukaan.
Mantik berada pada posisi di atas semua kelompok dan
menggerakkan semua itu guna menghasilkan perimbangan
pemba-ngunan materiil dan spiritual.
Dengan pernyataan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat
Sulawesi Utara, yang disampaikan melalui parlemen di daerah,
berkat kepemimpinan dan keber-hasilannya, Mantik didaulat
kembali menduduki jabatan periode berikutnya. Namun, di ujung
1984, saat puncak-puncaknya, Mantik tetap pada pilihan kartunya:
mundur. Semua pihak merasa bagai dihempaskan badai.
Di balik kisah sukses itu, di periode kepemimpinan Mantik muncul
kasus manipulasi reboasasi hutan yang memprihatinkan. Namun,
bagaimanapun gaya kepemimpinan Mantik, kita salut pada "budaya
kosong"-nya yang mampu men-ciptakan kestabilan nasional.
Kini masyarakat Sulawesi Utara akan memiliki kepemimpinan tipe
apa lagi? Yang pasti, kita mengharapkan agar yang tampil orang
yang benar-benar mampu, bukan figur "titipan", dan memahami
aspirasi masyarakat Sulawesi Utara yang terkenal kritis.
Pengalaman membuktikan, bukan hanya di Sula-wesi Utara, tapi
juga terjadi di mana-mana di Maluku, di Kalimatan - "ajang
politik" setempat selalu diaransir orang luar daerah.
Akhirnya, kami ingin mengutip kata-kata mutiara berikut:
Betapapun ba-gusnya suatu ide atau konsepsi, bila tidak disertai
kerja keras dan disiplin mewu-judkannya, hasilnya akan berupa
puing-puing kehancuran. (Jenderal TNI Amirmachmud).
HERRY RD. NACHRAWY
Jalan Lamadukelleng 6
Ujungpandang
|