Dengung dari hutan Pelukis dekoratif-primitif memamerkan karyanya di TIM. Pameran introspeksi widayat diisi dengan lukisan-lukisan flora dan fauna. (sr) |
MELIHAT pameran lukisan Widayat bak masuk hutan. Ada gambar
gerombolan gajah di antara pohon-pohon besar. Beratus burung
bertengger di cabang dan ranting pepohonan. Lalu bunga-bunga
liar, kupu-kupu beterbangan, dan gambar hutan itu sendiri.
Bahkan, bila Widayat - dosen seni lukis di Fakultas Seni Rupa
dan Desain Institut Seni Indonesia, Yogyakarta menggambar pasar,
gaung hutan terbawa-bawa: lukisan yang didominasi warna cokelat,
muram, bersuasana berat.
Dari tema hutan itu saja boleh dibilang Widayat punya kekhasan
sendiri. Dan itu dirintis oleh pelukis kelahiran Kutoarjo, Jawa
Tengah, pada 1923 ini, sejak muda. Dulu, awal 1950-an, semasa
masih mahasiswa dan sesudah lulus dari Akademi Seni Rupa
Indonesia (ASRI) - yang kini menjadi bagian dari Institut Seni
Indonesia - ia banyak disebut sebagai pelukis
dekoratif-primitif. Deformasi bentuk obyek yang dilakukannya
menjurus pada mengubah obyek tiga dimensional menjadi berkesan
dua dimensional. Lalu bentuk manusia, misalnya,
disederhanakannya menjadi mirip patung-patung tradisional Irian
atau Kalimantan. Kemudian ia pun banyak mengisi bidang gambar
dengan ornamen. Bukan ornamen yang tegas bentuk-bentuknya,
misalnya motif batik atau hiasan rumah Toraja. Tapi sekadar
susunan bentuk-bentuk rumit, yang kadang hampir hanya merupakan
pengulangan bentuk. Susunan ornamen yang lebih menurutkan emosi
daripada mematuhi suatu pola tertentu. Jadinya, misalnya tampak
pada Adam dan Hawa (1983), ornamen itu lebih hidup, berserak,
bergoyang. Biasanya, lukisan dekoratif ornamentik (misalnya pada
karya Batara Lubis atau Irsam) mencerminkan suatu emosi yang
terkontrol, cenderung dingin. Pada Widayat emosi itu dibebaskan.
Mungkin karena itu - tak adanya keterikatan pada pola tertentu -
pelukis yang pernah belajar seni keramik dan taman diJepang ini
tak canggung menyatukan kecenderungan dekoratlfnya dan
realismenya. Pada Burung-Burung Blekok (1978), hal itu tampak
kuat. Sebuah pohon besar tegak berdiri dengan kerimbunan cabang
dan rantingnya. Di situ bertengger banyak sekali blekok, alias
bangau. Sementara pohon digambar sedikit detail, blekok hanya
digambarkan sebagal noktah-noktah putih - memang dilihat dari
jauh. Jadinya deretan blekok yang berderet teratur membentuk
satu irama itu hanya berfungsi sebagai unsur dekoratif dalam
lukisan ini. Tak penting lagi apakah itu blekok atau sekadar
titik.
Dari karya Blekok itu Widayat menemukan, pengulangan bentuk yang
memenuhi kanvas "seolah menambah kekuatan lukisan", katanya.
Maka, lahirlah Bebek-Bebek (1981), Seribu Kupu-Kupu Beterbangan
(1984), lalu Massa (1984). Lukisan yang benar-benar sepenuh
kanvas hanya diisi satu jenis obyek, yang digambar dalam bentuk
amat kecil tapi banyak sekali, hampir berdempetan memenuhi
kanvas.
Seorang pengunjung, pada malam pembukaan pameran ini, Kamis
pekan lalu di Taman Ismail Marzuki, nyeletuk, "Pelukis ini
rasanya cukup diberi cat cokelat saja sudah bisa melukis." Kesan
ini tepat. Dari lukisan tahun 1950-an sampai yang sekarang,
Widayat seolah tanpa perubahan. Tapi bukan karena soal warna
cokelat itu. Sebenarnya, kadang-kadang, ia pun menggunakan warna
sedikit cerah, tak semata gelap. Seribu Kupu-Kupu itu, misalnya,
lebih banyak birunya daripada warna gelapnya. Tapi, itulah, apa
pun warna yang dipakai Widayat, kecenderungan untuk menciptakan
lukisan bersuasana muram dan berat, bagai hutan yang jarang
diinjak manusia, memang besar.
"Hutan bagi saya mempunyai kesan magi," tutur anak sulung
seorang pegawai pegadaian ini. Dan berkisahlah Widayat, yang
sebelum menjadi pelukis, sejak 1939, adalah seorang mantri ukur
perkebunan di Palembang dan daerah Sumatera Selatan. Pada masa
mantri ukur itulah ia mengenal hutan dengan baik. Widayat muda
sering berlintasan dengan harimau, gajah, burung - yang kemudian
sangat kerap muncul dalam lukisannya. Tak cuma itu. Ada satu
pengalaman membekas di hatinya hingga sekarang. Suatu hari, ia
bersama beberapa pembantunya masuk hutan yang tampaknya jarang
sekali diinjak orang. Ia beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba
ia mendengar suara. Berdengung, tapi juga seperti suara orang
bercakap-cakap. Widayat kaget. Ia bertanya kepada para
pembantunya apakah mereka mendengar sesuatu. Pembantunya
mengangguk. Maka, larilah mereka keluar.
Seberapa mendalam pengalaman itu menjejak kalbunya? Dari pameran
instropeksi ini - meski lukisan tahun 1960-an dan 1970-an hanya
diwakili beberapa karya - bisa disimpulkan, dengung dari hutan
agaknya memang merupakan obsesi Widayat. Pohon, cabang, tumpukan
daun, binatang, sinar matahari pagi yang menembus rimbun hutan,
adalah hal-hal sangat akrab baginya yang selalu muncul bila ia
menghadapi kanvas.
Tentu saja, ini sah sebagai sumber penciptaan. Masalahnya:
Adakah sang pelukis cukup kreatif untuk tak hanya
mengulang-ulang? Dibandingkan dengan G. Sidharta (meski yang
terakhir ini kemudian lebih sebagai pematung), yang pada tahun
1952 bersama Widayat mendirikan Pelukis Indonesia Muda di Yogya,
terasa Widayat masih setia pada yang lama. Seolah tak punya
pengalaman baru. Padahal, hutan kita kini porak-peranda. Gajah
tak lagi setenteram seperti pada lukisannya. Dan harimau
terpaksa masuk kampung karena di hutan sudah langka mangsa. Bagi
saya, tegangan estetis pada karya Widayat kendur. Kenangan itu
jauh sudah.
Bambang Bujono
|