Resep memoles sarinah Kemungkinan kebakaran bisa diperkecil apabila segala persyaratan untuk pencegahan dan pemadaman dipenuhi. Menurut Rooseno, Sarinah harus dibongkar kalau mau dibangun lagi.(nas) |
BAGAIMANA mencegah timbulnya kebakaran ? "Api terbentuk oleh
tiga unsur: panas, material yang bisa terbakar, dan zat asam.
Ketiganya merupakan sudut dari suatu segitiga api," kata
Zulkarnain Isa, kepala Bidang Bahan Bangunan, Puslitbang
Pemukiman, Departemen Pekerjaan Umum. Dengan menghilangkan salah
satu dari ketiga unsur tersebut, kebakaran bisa dipadamkan.
Secara praktis, di luar aspek manusia (pola hidup manusia:
kebiasaan, sikap waspada, tingkat pengetahuan), kemungkinan
terjadinya kebakaran bisa diperkccil dengan membatasi penggunaan
material yang mudah terbakar. "Padahal, saat ini material untuk
menyempurnakan interior dan akustik ruangan makin beragam. Kita
cenderung asal pasang saja, tanpa tahu mudah terbakar atau
tidaknya jenis material itu," ujar Zulkarnain. "Membatasi
penggunaan bahan yang mudah terbakar itu berarti memperkecil
beban api," tambahnya.
Secara kualitatif, sifat dapat tidaknya suatu bahan terbakar
bisa diuji di Laboratorium Api, di Puslitbang Pemukiman yang
terletak di Bandung itu. Selain itu, bisa juga diuji sifat
kecepatan bakar, konduksi panas, serta sifat kecepatan
penjalaran nyala api di permukaan. Laboratorium ini juga pernah
meneliti sejumlah kebakaran yang terjadi di Bandung dan Jakarta.
Upaya pemadaman kebakaran pada prinsipnya sama: mengisolasikan
bahan yang terbakar terhadap zat asam. Api yang berasal dari
kayu, kertas, dan bahan mudah terbakar lainnya bisa dilawan
dengan air, busa atau CO2. Lalu api dari komponen listrik
diiawan dengan CO2, dan zat kimia kering. Sedang api yang
berasal dari logam yang mudah terbakar (seperti magnesium,
titanium, dan zirconium? dilawan dengan zat kimia kering.
Instansi atau gedung tinggi umumnya memliki peralatan yang
dilengkapi berbagai zat ini.
Jika peralatan tidak atau kurang berfungsi, dan kebakaran tak
terkendali, yang paling pentimg adalah menyelamatkan manusia
penghuni bangunan. Ini sangat tergantung pada konstruksi dan
desain bangunan. Konstruksi dibentuk oleh struktur (kolom,
lantai, balok atap, dan panel penyekat).
Untuk dapat memberi keleluasaan upaya penyeiamatan manusia,
diperlukan struktur yang bisa bertahan terhadap bahaya kebakaran
untuk sementara waktu. Artinya, bangunan tidak keburu ambruk
sebelum manusianya diselamatkan atau menyelamatkan diri. "Jadi,
aspek yang diperhatikan di sini adalah berapa lama struktur
pembentuk konstruksi itu bisa bertahan," kata Ir. Ruland
Benyamin Tular, kepala Bidang Struktur Pustlitbang Pemukiman.
Sayangnya, di Indonesia hingga saat ini belum ada peraturan
mengenai persyaratan struktur tersebut. Puslitbang Pemukiman
kini memang sedang menyiapkan rencana peraturan tersebut, yang
mungkin akan memiru model Jepang. Menurut peraturan Jepang, tiga
lantai teratas (puncak) misalnya: struktur kolom, lantai dan
balok, harus bisa bertahan (terhadap kebakaran) selama satu jam.
Sementara tingkat 4-14 dari atas, elemen struktur itu mesti bisa
bertahan dua jam.
Bagaimana dengan Sarinah? Tingkat 6 sampai 14 gedung itu
dipanggang apl selama lebih dari 24 jam. "Itu berarti kekuatan
struktural gedung ini habis. Sebab, betonnya terkelupas dan
kekuatan tulangannya sudah tidak ada lagi. Untung, yang kena
bagian atas. Coba kalau bagian bawah yang kena, bisa runtuh
bangunan ini," kata Prof. Dr.lr. Rooseno. Menurut dia, kalau mau
dibangun lagi, Sarinah harus dibongkar. Sedang fondasi Sarinah
yang kedalamannya 50 meter, menurut ahli beton bertulang itu,
masih tetap kuat dan dapat menahan pemugaran yang akan
dilakukan. "Sampai seratus tahun pun fondasi itu masih akan
tahan," ujar Rooseno.
Yang kini menjadi pertanyaan: apakah kondisi Sarinah sekarang
ini masih cukup kuat dan tidak membahayakan seandainya beberapa
tingkat yang lolos dari api dimanfaatkan seperti sebelumnya.
Ini patut ditanyakan karena Sabtu pekan ini, menurut Dirut Ansar
Sudirman, toserba Sarinah akan dibuka kembali untuk umum, yakni
lantai bawah tanah, serta lantai 1 dan 2.
Hario Sabrang menilai, rencana pembukaan itu tidak logis.
"Apakah penelitian yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum DKl Jaya
sudah selesai? Apakah strukturnya berbahaya atau tidak? Apakah
utilitas bangunan masih berfungsi atau tidak? Sebab, apa artinya
kalau bangunan tanpa utilitas? Selain itu apakah pembersihan di
lantai-lantai atas sudah selesai? Sebab, itu juga cukup
berbahaya. Menurut saya, lebih baik semua ini tuntas dulu, baru
dibuka lagi," kata direktur Tata Bangunan Departemen PU itu:
Sederet pertanyaan itu memang masuk akal dan layak
dipertimbangkan. Tidak ada yang ingin, setelah terjadi suatu
musibah, muncul musibah lain, hanya akibat kecerobohan kita.
|