Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XIV/17 - 23 November 1984
   
Nasional

Undangan setelah peristiwa priok

Pangab/Pangkopkamtib, Jenderal Benny Murdani mengadakan pertemuan dengan para ulama Jawa Tengah bertempat di Pesantren Futuhiyah. Ia menegaskan Abri dan pemerintah tidak akan menyudutkan umat Islam.

SUASANA pesta mewarnai pesantren Futuhiyah di Mranggen, Demak,
Senin pagi pekan ini. Umbul-umbul berwarna-warni menghiasi jalan
masuk ke pesantren, 15 km sebelah timur Semarang, Jawa Tengah.
Ratusan santri berbaris sepanjang jalan, yang wanita berkebaya
putih panjan denan jilbab (kerudung) putih membungkus kepala.

Pukul 07.30 tibalah tamu yang ditunggu: Pangab/Pangkopkamtib
Jenderal L.B. Moerdani, yang didampingi antara lain Pangdam
VII/Diponegoro Mayjen Soegiarto, dan Pankowilhan II Letjen
Yogie S. Memet.

Acara utama pagi itu adalah pertemuan antara Jenderal Benny
Moerdani dan sekitar seribu ulamaJawa Tengah dan Yogyakarta.
Pimpinan pesantren Futuhiyah, Kiai M. Sodik Lutfi, membuka acara
dengan antara lain mengatakan, "Ini adalah acara besar bagi
pesantren seluruh Jawa Tengah, karena sebelumnya belum pernah
ada panglima yang datang ke pesantren."

Begitu berdiri di atas mimbar, yang dilapis kain hijau, Jenderal
Benny dengan fasih menucapkan "assalamualaikum". Sekitar empat
ribu ulama dan santriyang hadir menyambut salam itu.

Ceramah Jenderal Benny berlangsung lebih dari satu jam. Ia
menjelaskan, masih ada orang yang menganggap ABRI menyudutkan
umat Islam. Dan ABRI dianggap berbeda dengan umat Islam.
"Sebenarnya tidak ada perbedaan antara ABRI dan umat Islam. Yang
berbeda cuma, kalau anggota ABRI ke kantor tidak boleh memakai
sandal jepit, sementara umat Islam, khususnya ulama, bebas
memakai sandal jepit ke mana saja," kata Benny berseloroh,
disambut ketawa hadirin.

Dengan tegas Benny mengatakan, "Saya, sebagai penguasa tertinggi
keamanan Indonesia, mengatakan bahwa ABRI dan pemerintah tidak
mempunyai niat menyudutkan umat Islam." Mendadak seorang santri
yang duduk di belakang berdiri, meminta ucapan ini diulangi. Dan
dengan lebih keras, Pangab mengulangi ucapannya. Tepuk tangan
hadirin pun bergemuruh.

Benny, yang mengenakan seragam TNI-AD dengan empat bintang
menghiasi pundak, menunjukkan berbagai bukti bahwa ABRI dan
pemerintah tidak menyudutkan umat Islam.

Pada prinsipnya, kata Pangab, ABRI tidak akan menangkap umat
Islam yang melakukan agamanya dengan baik. "Yang ditangkap
adalah perusuh yang kebetulan beragama Islam. Jadi, bukannya
Islamnya yang ditangkap. Kalau ketahuan ABRI menangkap orang
Islam yang sedang sembahyang, maka para santri saya silakan
berontak," katanya, lagi-lagi disambut ketawa.

Jenderal Benny berpesan agar pesantren bisa menjaga dirinya
supaya tidak kemasukan perusuh. Jadi, kata Benny, pokoknya ABRI
adalah pelindung masyarakat. "Jika pesantren ini diserang musuh,
pangdam beserta pasukannya akan mempertahankannya," ujar Pangab
yang mengakhiri ceramahnya dengan "wassalamualaikum".

Dua kiai kemudian menyampaikan sambutan. Seorang di antaranya,
Kiai Sahal Machfudz, rais Syuriah NU Ja-Teng, mengatakan, "Saya
percaya pada ucapan Pak Benny itu." Kiai Sahal juga mengajukan
pertanyaan. Setelah Peristiwa Tanjung Priok, menurut dia,
kegiatan dakwah di daerah terhambat. "Buktinya, kalau dulu
berkhotbah tidak perlu izin ini dan itu, sekarang harus memiliki
izin dari pamong dan koramil. Paling tidak harus memiliki SIM
alias surat izin mubalig." Hadirin tertawa. Tidak ada tanggapan
Pangab terhadap soal itu.

Acara yang dianggap sangat berhasil itu diselenggarakan
Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (Persatuan Pesantren) seJawa
Tengah. Gagasan untuk mengundang Pangab/Pangkopkamtib muncul
pertengahan Oktober lalu. "Kami ingin memperoleh penjelasan apa
sebenarnya yang terjadi. Soalnya, setelah peristiwa Tanjung
Priok dan peledakan di BCA, pengajian yang mengumpulkan massa
terhambat oleh aparat keamanan," kata Karmani, wakil ketua
Tanfiziah NU Ja-Teng. Undangan pun dikirim 26 Oktober lalu, yang
ternyata cepat ditanggapi Jenderal Benny.

Jawa Tengah adalah daerah kedua yang dikunjungi Benny dalam
rangka silaturahminya kepada para ulama. Kamis pekan lalu
Pangkopkamtib bersilaturahmi dengan para ulama Ja-Tim. Tempatnya
pesantren Lirboyo, Kediri, yang dipimpin Kiai Machrus Ali.
Sekitar 800 ulama hadir waktu itu, termasuk Kiai As'ad Syamsul
Arifin. ulama NU yang paling terkemuka saat ini. Kunjungan itu
atas undangan Kiai Machrus.

Di Lirboyo, yang dijelaskan Jenderal Benny tidak banyak berbeda
dengan di Mranggen. "Saya ingin menegaskan bahwa umat Islam di
Indonesia tidak dipojokkan. Dan tidak akan pernah dipojokkan.
Itu tidak akan pernah terjadi," katanya. Alasan: 90 persen warga
negara Indonesia adalah umat Islam. Bagaimana mungkin orang
sebanyak itu akan dipojokkan. Dan lagi 99 persen anggota ABRI
adalah umat Islam juga.

Benny juga menegaskan, pemerintah tidak punya maksud mengurangi
kegiatan beragama. "Kegiatan agama tidak dilarang, dakwah tidak
dilarang, asal itu tidak membuka peluang untuk menyesatkan umat
beragama. Asalkan tidak bertentangan dengan hukum agama dan
hukum yang berlaku di negeri ini," ujarnya. Kalau di suatu
tempat ada hambatan terhadap dakwah, itu karena ada kesalahan
teknis di tingkat bawah. "Untuk itu, saya minta maaf," katanya.
Dan menghadapi hambatan kecil seperti itu, rakyat dimintanya
"jangan berontak dulu", tapi "berdoa agar semua kembali normal".

Sambutan terhadap Benny di Lirboyo juga meriah. Tatkala Pangab
akan pulang, Kiai Machrus mengantarnya ke atas bis dan
menciumnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data