Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 36/XIV/03 - 9 November 1984
   
Pokok dan Tokoh

Kasihan Atas Kebakaran Sarinah Jaya

Perancang mode, merasa kasihan kepada Abdul Latief direktur utama sarinah jaya, pengusaha yang merangkul para perancang mode, terkena musibah kebakaran. (pt)

TERBAKARNYA gedungg Pasaraya Sarinah Jaya, pekan lalu, juga
membuat gerah sejumlah perancang pakaian. Dhanny Dahlan, 25,
peragawati yang baru dua tahun terjun ke usaha pakaian jadi ini,
seharian tegang setelah diberitahu kebakaran gedung itu. Ada dua
ratus potong pakaian koleksinya dipajang di sana. "Biasanya, ada
tiga ratus potong pakaian di sana. Untung, tinggal dua ratus,"
kata Dhanny. Sejak musibah itu ia tak berani mendekati gedung
itu, dan memilih diam di rumah.

"Akhirnya, saya main tenis sampai larut malam untuk melupakan
semua itu," tutur Dhanny. Main tenis tentu tidak bisa sendirian
- siapa lagi kalau tidak bersama Irawan, tunangannya.

Lain dengan Ghea Sukasah, 29. Perancang yang gemar warna hitam
putih ini, dua hari sebelum kebakaran, justru menambah
koleksinya di Sarinah Jaya. "Belum diketahui jumlah kerugian,"
kata Ghea. Ia kurang ingat berapa jumlah koleksinya yang
terbakar. "Ada ratusan," katanya. Yang masih bisa menghiburnya,
koleksi eksklusif karyanya tersimpan di sebuah butik di Simpruk.
"Yang di Sarinah hanya pakaian ready to wear," kata Ghea.

Ghea tidak setegang Dhanny. Ibu anak kembar ini bahkan sudah
bisa merancang lagi, meskipun ketika itu api di Sarinah Jaya
belum padam. "Saya tak terlalu memikirkan diri saya. Baju setiap
hari bisa dibuat, tetapi gedung dan para perajin di Sarinah itu,
bagaimana?" tanya Ghea.

Seperti halnya Ghea, Poppy Dharsono juga lebih kasihan kepada
Abdul Latief, direktur utama Sarinah Jaya, pengusaha yang punya
ide merangkul para perancang mode. "Kenapa nasib Bang Latief
jelek, ya? Para desainer merindukan banyak Latief lain. Eh, ini
satu Latief saja sudah kena musibah," kata Poppy. Bekas
peragawati yang sudah tujuh tahun terjun ke dunia mode ini
menunjuk Prancis sebagai contoh. Di sana, seorang perancang mode
bisa menempatkan pakaian kreasinya di puluhan department store.
"Jadi, kalau satu terbakar, masih ada tempat yang lain," ujar
Poppy. Ia tak menyebutkan jumlah koleksinya yang hangus.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data