Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 35/XIV/27 Oktober - 02 November 1984
   
Nasional

Dibakar Penelepon Gelap?

Gedung pasaraya Sarinah Jaya, Blok M, Jakarta, kebakaran. Sebab kebakaran belum jelas. Sebelum kebakaran terjadi, anggota keamanan mendapat telepon ancaman dari orang yang tak dikenal. (nas)

LOKASI pertokoan di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
persis di sebelah selatan terminal bis, gelap. Hingga sekitar
pukul 3 dinihari, Selasa pekan ini, masih tampak asap putih
membubung dari Pasaraya Sarinah Jaya, gedung berlantai lima di
sudut Jalan Melawai, di lokasi pertokoan itu. Api tampaknya
sudah dikuasai 13 jam sesudah kebakaran diketahui.

Belum lama benar peristiwa Tanjung Priok berlalu. Kemudian
peristiwa tiga ledakan bom 4 Oktober, dan ledakan di pabrik
Super Mie pekan lalu. Maka, kebakaran di gedung Pasaraya Sarinah
Jaya ini banyak mengundang perhatian: kecelakaan biasa, ataukah
kesengajaan.

Menurut Abdul Latief, 44, direktur utama PT Sarinah Jaya, api
mulai diketahui sekitar pukul 14.00, Senin pekan ini. "Api
berasal dari cerobong pendingin di lantai lima," katanya kepada
TEMPO, Senin sore, di lokasi kebakaran sewaktu 30-an mobil
pemadam kebakaran sedang menyemprot penjalaran api. Kemudian,
kata pengusaha kelahiran Banda Aceh itu, api menyambar bangunan
baru berlantai delapan yang sedang dalam penyelesaian. Dan,
tentu saja, api membesar. Di gedung yang belum jadi itu masih
banyak kayu dan bambu. "Padahal, rencana saya, gedung baru ini
akan diresmikan Desember tahun ini," kata Abdul Latief, yang
celana abu-abunya tampak kotor dan lusuh, sementara ia berjalan
ke sana kemari tanpa alas kaki, tanpa daya.

Hingga Selasa pagi, sebab kebakaran belum jelas. "Yang pasti,
bukan karena kortsluiting listrik. Gedung ini sudah dilengkapi
alat otomatis, yang membuat seluruh aliran listrik putus begitu
ada kortsluiting," tambah Abdul Latief, sarjana ekonomi
Universitas Krisnadwipayana, Jakarta. Bahkan, gedung Pasaraya
Sarinah Jaya sudah dilengkapi dengan sprinkler - alat yang
secara otomatis akan menyemprotkan air begitu mencium asap.
"Tapi entah mengapa alat itu tidak jalan," kata orang yang
menyebut dirinya "raja pedagang eceran" itu (TEMPO 7 April
1984).

Sekitar pukul 17.00, bangunan ketiga di samping gedung yang
belum jadi pun dijilat api. Bangunan ini, tempat parkir
berlantai tiga, terletak berhadapan dengan Melawai Plaza dan
Metro Supermarket.

Tampaknya memang ada yang misterius. Di Polres Jakarta Selatan,
sekitar satu kilometer dari tempat kebakaran, wartawan TEMPO
sempat mewawancarai seorang anggota Satpam Sarinah Jaya, sehabis
orang itu dimintai keterangan oleh polisi. Menurut anggota
keamanan yang berjaga pada Minggu malam itu, sehari sebelum
kebakaran, ia menerima telepon dari seseorang yang tak mau
menyebutkan identitasnya. "Halo, ini saya. Saya mau
menghancurkan Sarinah Jaya dan Aldiron," kata Satpam tersebut,
menirukan pesan telepon yang diterima sekitar pukul 22.00. Tak
hanya itu. Penelepon gelap pun menanyakan dua direktur PT
Sarinah Jaya. "Mana itu si Latief dan si Talib," begitu kata
orang dalam telepon itu.

Anggota Satpam itu kemudian melaporkan telepon gelap itu kepada
atasannya. Atasannya memerintahkan melaporkan ancaman telepon ke
Pos Blok M. Tak jelas bagaimana tanggapan polisi, tapi malam itu
enam Satpam tersebut, konon, meningkatkan kewaspadaan.

Pagi, Satpam penjaga diganti. Dan, benar, Senin siang api
membakar Sarinah Jaya. Berbeda dengan keterangan Abdul Latief,
menurut sumber TEMPO yang lain, kebakaran diketahui sekitar
pukul 13.30. Waktu itu api sudah mulai menyala dari lift khusus
sampah di lantai satu. Seorang tukang batu yang sedang bekerja
di dekat tempat itu, konon, yang melihat api pertama kah. Tukang
batu ini kini sedang dimintai keterangan di Kodim Jakarta
Selatan.

Dalam peristiwa kebakaran di pertokoan yang menjual tekstil,
kosmetik, barangbarang elektronik, sepatu, sampai peralatan
rumah tangga itu sempat terjadi bermacam-macam hal. Menurut
Syafii, kepala Divisi Barang-Barang Kelontong, teknisi gedung
konon mendengar suara ledakan sebelum api menjalar. Tapi tim
Gegana yang kemudian datang tak menemukan tanda-tanda bahwa
telah terjadi ledakan bom. Letnan Kolonel Kusdi Usman, komandam
Kodim 0504 Jakarta Selatan, yang mencoba meninjau kebakaran dari
dekat hampir terperangkap di lantai tiga. Untung, ia cepat
mendapat peringatan bahwa api sudah mulai mengganas. Helikopter
polisi yang nekat mendarat di atap gedung masih sempat
menyelamatkan Kusdi Usman. Beberapa anak buahnya, yang ikut
memnlau, turun lewat tangga mobil pemadam kebakaran.

Kurang jelas mengapa Pos Blok M, yang Minggu malam mendapat
laporan dari pihak Satpam bahwa ada ancaman telepon, tak
bersiaga. Padahal, Letnan Kolonel Silalahi, kepala Polres
Jakarta Selatan, mengakui bahwa polisi mendapat laporan tentang
penelepon gelap dari satuan pengamanan. "Kami punya hubungan
baik dengan Satpam," kata Silalahi. Tapi anggota polisi Pos Blok
M yang menenma laporan Senin itu sedang tak berada di tempat.
"Dia barusan tugas malam, jadi hari ini dia tidak datang,"
tambah Silalahi.

Sekitar pukul 20.00, Senin lalu itu juga, suasana bertambah
tegang. Sebab, kebakaran terjadi pula di kawasan Kecamatan
Penjaringan, Jakarta Utara. Maka, lima mobil pemadam kebakaran
yang sedang bertugas di Sarinah Jaya itu segera menuju lokasi
kebakaran baru, yang berjarak hampir 20 km. Di sana 60 rumah di
Kebun Pala, Kampung Gusti, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan
Penjaringan, terbakar habis. Api konon, berasal dari gas Elpiji
yang bocor.

Sampai Selasa pekan ini, belum dilakukan penangkapan dalam
peristiwa kebakaran Sarinah Jaya. Tapi sekitar 15 anggota Satpam
sedang diminta keterangannya oleh pihak Polres.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data