Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XIV/20 - 26 Oktober 1984
   
Surat Dari Redaksi

Menembus Berita Kasus T. Priok & BCA

Kesibukan para reporter menembus sumber berita dan kewaspadaan imbauan dari yang berwajib seperti liputan kasus tanjung priok dan bca. (sdr)

SETELAH mendekam dua hari di kantor, diselingi tidur beberapa
jam di kursi kerjanya, Bambang Harymurti menyelesaikan tulisan
panjang untuk rubrik SeIingan nomor ini. Kemudian, pagi itu, dia
harus pergi mewawancarai seseorang untuk sebuah laporan llmu &
Teknologi. Tentu disertai rasa lelah dan kantuk.

Pengalaman seperti ini bukan hal baru di TEMPO. Maka, di dalam
penerimaan reporter baru seleksi kesehatan dijadikan salah satu
unsur penting. Pada seleksi penerimaan reporter tahun ini,
misalnya, ada calon yang digugurkan karena keadaan fisiknya
kurang memadai. Padahal, sebetulnya, sang calon cukup terampil
dan sudah lulus tes yang dilakukan Lembaga Psikologi Terapan UI.

Meski mungkin tak bisa digolongkan pekerjaan kasar, beban kerja
di sini jelas menuntut stamina, di samping kepintaran dan
keterampilan. Hal itu antara lam disebabkan sistem kerja dengan
deadline yang ketat, agar majalah ini sampai di tangan Anda pada
waktunya, dengan tuntutan kualitas yang terus meningkat. Maka,
cukup sering laporan yang sudah dikerjakan terpaksa dibuang
karena di bawah standar kualitas.

Tapi tak jarang pula sebuah tulisan urung turun disebabkan
alasan lain. Misalnya, karena pertimbangan keamanan. Itu boleh
jadi untuk mengindahkan imbauan telepon pihak yang berwajib,
atau sering juga karena kami mengimbau diri sendiri. Memang, ada
kepentingan yang lebih besar, yang terasa harus lebih mendapat
perhatian dibandingkan dengan sekadar profesionalisme.

Namun, sulit dimungkiri pula bahwa hal itu akan mengecewakan
para reporter - apalagi reporter pemula. Paling tidak, itu bisa
membuat mereka ragu-ragu ketika menguber suatu peristiwa:
Jangan-jangan akan ada imbauan. Padahal, bahan sudah dikumpulkan
dari pelbagai penjuru, dan untuk deadline ada sumber yang harus
ditongkrongi sampai malam.

Di tengah suasana begitu, Reporter Agus Basri, Bambang
Harymurti, dan Eko Yuswanto mesti berangkat ke Tanjung Priok,
begitu menerima info tentang huru-hara besar bulan lalu. Belum
tentu laporannya bisa ditulis, Eko yang lebih dulu tiba di sana
pagi itu mesti menghadapi suasana yang belum seutuhnya aman.
Ketika itu, tembakan-tembakan ke atas masih terdengar di
beberapa tempat.

Tak aneh kalau sikap pemerintah, lewat Jenderal Benny Moerdani,
yang membebaskan peristiwa itu ditulis, seperti suntikan vaksin
antiragu bagi para reporter. Malah seakan meniupkan semacam
semangat.

Maka, begitu terjadi ledakan bom di tiga tempat di Jakarta awal
bulan ini, lebih dari 10 reporter berpencar mengubernya, dan di
antaranya ada yang berangkat tanpa instruksi. Reporter Sri
Indrayati, bekas perawat itu, menyeruak di antara pengawal
bersenjata yang berjaga di Rumah Sakit Husada untuk bisa
melaporkan keadaan korban ledakan. Akhmad Lookman - lulusan
Jurusan Arsitektur UGM, wartawan TEMPO dari yogya yang kini di
Jakarta - harus menerima pukulan petugas karena ingin membuat
reportase yang lebih dalam di gedung BCA di Jalan Gajah Mada.
Saking bersemangatnya, seorang reporter yang lain menangis
sendiri begitu gagal mengejar sebuah sumber. Setelah itu, mereka
pun bekerja lagi sampai dinihari.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data