Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XIV/13 - 19 Oktober 1984
   
Nasional

Cara Membunuh Sas-Sus

Tindakan pemerintah dengan secepatnya memberi keterangan kepada masyarakat setelah ada peristiwa Tanjung Priok, pemboman dan selebaran gelap, akan dapat mencegah salah penapsiran dan menenangkan masyarakat.(nas)

SELEBARAN gelap bisa menjadi sangat berbahaya, bila itulah
satu-satunya "informasi" bagi masyarakat. Seandainya pemerintah,
khususnya Pangab L.B. Moerdani, tak secepatnya memberikan
keterangan atas Peristiwa Tanjung Priok, misalnya, masyarakat
bisa merasa tak menentu. Apalagi bila selebaran gelap muncul.

Demikian pula dalam peristiwa tiga ledakan bom, 4 Oktober, di
Jakarta. Hanya sekitar lima jam setelah peristiwa terjadi,
didampingi Pangdam V Jaya Mayor jenderal Try Sutrisno, Pangab
Jenderal Moerdani memberikan keterangan pers. Ini bisa mencegah
bermacam-macam penafsiran.

Memang, penjelasan pemerintah pun belum tentu bisa mengungkapkan
kejadian seluruhnya. Tapi setidaknya penjelasan resmi yang cepat
itu bisa membunuh desas-desus yang biasanya menjalar lebih cepat
lagi. Bagi para pedagang di pusat-pusat perbelanjaan, yang mudah
terkena sas-sus, misalnya, penjelasan pemerintah itu sering jadi
pegangan. Dalam kasus Tanjung Priok, 12 September, kata Aling,
pedagang peralatan fotografi di Ratu Plaa, "Sampai siang kami
masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi, sorenya, setelah
Pak Benny mengumumkannya di televisi, kita jadi tenang dan
merasa aman." Besoknya jadwal rutin berjalan seperti biasa,
toko-toko di situ tutup pukul 21.00. "Kalau peristiwa ledakan
bom itu, kami lebih cepat tahu. Sebab, Sinar Harapan sore
harinya sudah memuat keterangan pemerintah," kata Aling lagi.

Bahkan, menurut para pemilik toko di pertokoan yang menempati
jembatan Metro Glodok, kawasan tempat salah satu bom meledak,
perdagangan cepat pulih kembali. Sabtu pagi, dua hari setelah
peristiwa itu, toko-toko di jembatan Metro sudah buka seperti
biasa, meski pengunjung sepi. Pusat Perdagangan Senen pun
praktis tak mengalami guncangan apa pun ketika peristlwa 4
Oktober itu. Seorang pedagang radio dan tape recorder
mengatakan, itu karena cepat ada penjelasan dari pemerintah,
sehingga mereka tak takut atau was-was lagi. Di simi tak ada
toko tutup karena peristiwa itu. Juga ketika Peristiwa Tanjung
Priok, pusat perbelanjaan ini hanya tutup sehari. Selanjutnya,
perdagangan kembali lancar.

Sejak Peritiwa Tanjung Priok pemerintah tampaknya cenderung
membolehkan mass media memberitakan secepatnya setiap kejadian
'gawat'. Dulu, jarak antara munculnya, katakanlah, huru-hara dan
penjelasan pemerintah misalnya, peristiwa rasialisme di Jawa
Tengah, pertengahan November 1980, sampai tiga minggu. Ini
menyebabkan peristiwa Solo itu berkembang menjadi lebih hebat
dari kenyataannya, akibat sempat menjadi desas-desus. Padahal,
peristiwa rasialisme di Solo itu tak sehebat desas-desusnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data