Lurah Marah, Desa Musnah Aman Cengkunek, 45, kepala desa pertik dan Muhammad Rais. 30, membakar desa dan rumah penduduk dengan alasan dendam dan pembayaran Ipeda. Aman dan Rais dianggap sebagai otak penjual ganja. (krim) |
KARENA jengkel pada warganya yang enggan membayar Ipeda, kepala
desa dan sekretaris desa Pertik membakar desa di Kecamatan
Blangkejeren, Aceh Tenggara, itu. Akibatnya, 80 rumah jadi abu,
dan Inen Teddet, 60, bersama seorang cucunya yang berusia 11
tahun, terpanggang karena terkurung api.
Pemandangan di desa yang terbakar 31 Agustus lalu itu kini tak
lebih dari tumpukan arang yang rata dengan tanah. Bangunan yang
tersisa terdiri dan sebuah masjid, sebuah madrasah, dan tiga
rumah yang terletak agak berjauhan dengan rumah-rumah yang
terbakar. Meskipun Rabu pekan lalu gubernur Aceh, Hadi Thayeb,
telah mengirimkan bantuan uang Rp 4 juta, ke-437 warga yang
kehilangan tempat tinggal masih ditampung di desa tetangga.
Musibah desa di tepi Taman Nasional Gunung Leuser itu sebenarnya
hampir saja menelan banyak korban jiwa. Untung Udin Amansyah
Intan - seorang warga desa yang bersama dua temannya malam itu
tidur di madrasal - masih terjaga, meski malam sudah puku
24.00. Pada saat itula Udin melihat api mulai melahap rumah
Nenek Inen Teddet.
Udin sempat membangunkan warga desa melalui teriakan-teriakan.
Tapi rumah-rumah papan itu, yang kebanyakan beratap rumbia
dengan letak hampir berdempetan, dalam waktu sekitar satu jam
hangus. Warga desa yang hampir seluruhnya petani kopi itu
kebanyakan masih sempat menyelamatkan sebagian milik mereka.
Pada malam kejadian itu, Udin dan teman-temannya melihat Aman
Cengkunek dan Muhammad Rais yang sedang memegang kelewang di
dekat rumah Inen Teddet. Ketika dikejar, mereka menghilang ke
arah ladang kopi. Sewaktu rombongan Muspida Aceh Tenggara
meninjau desa itu pada 1 September, Aman dan Rais tak muncul.
Polisi tak sulit mencurigai Aman dan Rais. Selain mereka pada
hari itu tak muncul, dari keterangan Udin dan kawan-kawan, pada
4 September kepala desa Pertik itu, Muhammad Syarif alias Aman
Cengkunek, dan sekretarisnya, Muhammad Rais, diciduk ketika
sedang di Pinding, satu km dari Pertik.
Menurut kepala Polres Aceh Tenggara, Letnan Kolonel Asmuni,
sebelum desa itu dibakar, Aman Cengkunek dan Rais mengaku lebih
dulu menyiram bensin di sekeliling permukiman. Sedangkan rumah
Inen Teddet mereka siram dengan minyak lampu satu jeriken. Lalu
Rais, ayah tiga anak, menyulutnya. Api segera menyambar
mengelilingi desa seluas 1,5 hektar itu, persis seperti dalam
pertunjukan sirkus. Seorang pemilik galon yang tak jauh dari
desa yang banyak pohon kelapa itu melaporkan kepada polisi,
sebelum kejadian dia kehilangan empat jeriken bensin.
Aman Cengkunek, 45, mengaku kepada Amir S. Torong dari TEMPO di
tahanan polisi di Blangkejeren (412 km dari Medan), Pertlk
sengaja dibakarnya setelah lima hari sebelumnya hal itu
direncanakan bersama Rais. Selain karena sudah lama merasa tak
senang pada beberapa penduduk, Rais, 30, yan rumahnya ikut
terbakar, mengaku terbujuk ajakan atasannya itu.
"Saya menaruh dendam kepada mereka," kata Aman datar, tanpa
menyesah perbuatannya. "Mereka banyak yang tak mau membayar
Ipeda, dan sering menjelek-jelekkan saya," tutur ayah dua anak
itu.
Penduduk Pertik sudah lama tak senang pada Aman dan Rais, yang
mereka anggap sebagai otak penjual ganja, yang terkenal banyak
ditanam di Kabupaten Aceh Tenggara. Polah Aman, menurut
penduduk, sebelumnya juga tak beres. Ketika peristiwa DI/TII
masih berkecamuk, menurut Danramil Blangkejeren, Calon Perwira
Baharuddin Selian, pada 1963 Aman terlibat pembunuhan dan
perampokan bersenjata pistol. Temannya, Abdurahman, dihukum 18
tahun. Tapi Aman berhasil lari dari LP Blangkejeren. Sebagai
tahanan jaksa, ia belum sempat disidangkan. Pada 1974 Aman
terlibat perkara pemerkosaan terhadap seorang gadis di Pertik,
yang diselesaikan secara damai.
Dalam pemilihan kepala desa 1974, Aman yang tak lulus SD itu
diangkat sebagai kepala desa Pertik, padahal dia penduduk Desa
Pinding. Karena terlibat penyelundupan ganja di Kualasimpang,
Aceh Timur, ia dihukum (tak jelas berapa tahun). Karena itu,
sebagai kepala desa ia terpaksa dinonaktifkan (1981). Sementara
itu, Rais yang sudah jadi sekretaris desa sejak 1977
menggantikannya.
Setelah keluar dari penjara Kualasimpang, Aman diaktifkan lagi.
Pada Juli 1984, berdasarkan SK bupati Aceh Tenggara yang
ditandatangani Sekwilda Drs. Maat Husin, Aman Cengkunek diangkat
lagi sebagai kepala desa Pertik - tanpa menghiraukan protes
penduduk di sana. Maka, banyak penduduk yang tak mau membayar
Ipeda.
Dalam Operasi Taruna IV (operasi ganja), 1983, Nenek Inen Teddet
mengungkapkan kepada pohsi bahwa Aman menyimpan ganja kering
tiga goni di sebuah gubuk. Karena tak ada bukti, kepala desa itu
bebas. Tapi ia mendendam nenek itu. "Inen melaporkan saya karena
sakit hati gara-gara sengketa kebun dan batas sawah satu hektar
yang sudah saya kuasai," katanya. "Maka, rumahnya saya bakar,"
ujar Cengkunek "cengkunek" artinya banyak tingkah dan suka
mempu.
Pada 27 September lalu Aman berusaha melarikan diri ketika
dibawa berobat di RS Blangkejeren. Tapi polisi cepat mencium
gerak-geriknya. Dan ia segera diamankan. Kini Aman dan Rais
tinggal menunggu perkara mereka leblh lanjut.
|