Proyek Macet, Semen Banjir Harga semen anjlok karena kelebihan produksi, akibatnya kurs saham tertekan. Karena banyak proyek pemerintah yang tertunda dan kurangnya permintaan dari Singapura atau Hong Kong. (eb) |
SEMEN sedang melembek harganya. Berlebihnya produksi sembilan
pabrik semen, yang diperkirakan mencapai 20% di atas kebutuhan
normal, menyebabkan harga semen di beberapa kota dijual di bawah
harga pedoman seJa lima bulan terakhir ini. Apa boleh buat,
situasi di pasar itu akhirnya mengakibatkan kurs saham semen
Cibinong di pasar modal tertekan hebat hingga Senin pekan ini
tinggal Rp 13.600. Empat bulan lalu, kurs itu masih Rp 15.800.
Tak ada satu pun pejabat pemerintah ataupun pengusaha semen
berani menjamin bahwa harga semen bakal membaik dalam waktu
dekat. Apa sebabnya? Kata Menteri Perindustrian Hartarto, pekan
lalu, melemahnya permintaan semen itu besar kemungkman
diakibatkan oleh lambannya pembangunan pelbagai proyek
pemerintah. Juga lambannya pencairan banyak Daftar Isian Proyek
(DIP) bisa dianggap pula sebagai penyebab tertundanya
pelaksanaan sejumlah proyek besar. "Semen memang sedang payah,"
ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kardjono Wirioprawiro.
Dalam keadaan terpojok demikian rupa PT Semen Padang, yang
mengandalkan 60% dari produksinya yang 1,5 juta ton setahun ke
pelbagai proyek pemerintah, tak bisa berbuat banyak. Tertundanya
beberapa proyek besar pemerintah di Sum-Ut dan Riau telah
mendorong pabrik itu berbuat nekat: mengekspor semen ke
Bangladesh dengan harga hanya US$ 31, sedangkan harga di pasar
lokal mencapai US$ 80 per ton.
Sayang memang, turunnya pasar semen di salam negeri itu
datangnya seirlng dengan lembeknya permintaan dari Singapura
ataupun Hong Kong. Permintaan dari dua pusat keuangan itu tidak
lagi galak, sesudah banyak gedung perkantoran yang dibangun
ternyata sulit dijual. Berlebihnya suplai ruangan itu, tentu
saja, menyebabkan minat para developer, yang membangun gedung
perkantoran baru di sana, berkurang. Indocement, yang mempunyai
pabrik pengolah klinker (semen setengah jadi) di Singapura,
sudah lebih dulu merasakan akibatnya.
Kendati harga semen di Singapura cenderung merosot terus, para
pengusaha toh masih juga bernafsu untuk memasarkannya ke sana.
Hanya dengan dorongan Sertifikat Ekspor (SE) sajalah, yang kini
ditetapkan US$ 11 per ton, ekspor semen dari sini ke Singapura
bisa didorong ke angka 271.000 ton, sampai Agustus tahun ini.
Tahun lalu, dengan SE hanya US$ 4,5 per ton, angka ekspornya
hanya 156.000 ton. Tapi, pekan lalu, harga semen di Singapura
kabarnya jatuh lagi dari rata-rata US$ 29 menjadi sekitar US$ 24
per ton.
Jatuhnya harga semen yang demikian hebat itu, memang, sangat
dimungkinkan, karena Ssangyong dari Korea Selatan secara
besar-besaran juga membanjiri pasar di sana dengan semen murah.
Pemakaian batu bara sebagai bahan bakar telah membuka kesempatan
Ssangyong untuk bisa menjual semennya dengan harga bersaing.
Peluang menekan biaya produksi semacam itu, rupanya, juga
dilihat PT Semen Cibinon. Dalam waktu dekat ini, pabrik semen
itu akan mengganti BBM dengan batu bara. Kapasitas produksmya
pun, Maret 1985, akan ditingkatkan dari 1,2 juta jadi 1,5 juta
ton. "Ini kenaikan kecil-kecilan saja," ujar Rachman Mohammad,
wakil direktur Cibinong.
Menumpuknya stok semen di pelbagai pabrik tampaknya akan makin
serlus, bila pelbagal proyek pemerintah masih terus saja
tertunda. Dalam keadaan normal, permintaan dalam negeri akan
semen bisa mencapai 9,5 ton tahun ini sedang produksinya 10,8
juta ton. Kelebihan itu, biasanya, bisa dijual dengan harga
wajar. Tapi kini, karena kelebihan tadi sudah keterlaluan,
harganya pun jatuh. Untuk mencegah jatuhnya harga itu, apakah
pemerintah akan menetapkan kuota? "Sampai hari ini, kami belum
perlu menetapkan penjatahan produksi," ujar Dirjen Kardjono.
|