Proteksionisme Film Nasional Kebijaksanaan tvri untuk memutar film nasional pada acara
akhir pekan, dimulai awal 1984. (md) |
SEJAK awal 1984 tak ada lagi film asing pada acara akhir pekan
TVRI. Program itu telah diganti dengan film produksi nasional.
Sampai pekan lalu, genap sebulan kebijaksanaan baru itu, TVRI
telah memutar empat judul film nasional: Remaja-remaja, Benyamin
si Abunawas, Si Kabayan, dan Detik-detik Cinta Menyentuh.
Ide menjadikan film nasional sebagai tuan rumah di TVRI, menurut
direktur TVRI, Ir. M. Arifin, terlebih dahulu dirintis dengan
acara Sepekan Film Nasional pada akhir tahun silam. "Ternyata
sambutan masyarakat sangat besar, walau berbagai kritik mengalir
ke TVRI," ujarnya.
Dari film-film nasional di TVRI, pada acara akhir 1983, yang
paling banyak mengundang kritik adalah Bengawan Solo. Film itu
dinilai banyak pemirsa sebagai kurang sopan. "Adegan demi adegan
membikin orang menjadi gagu. Dan kami tersipu-sipu. Semua
tertunduk malu. Beginikah tontonan buat bangsaku?" tulis
Kadarjono, pemirsa dari Indramayu yang mengaku menunggu-nunggu
acara film nasional itu (TEMPO, 28 Januari, Komentar).
Sebab itu Arifin mengakui tidak mudah mencari film untuk
disiarkan TVRI. "Tidak semua film bioskop layak untuk
ditivikan," ujar Kasubdit Siaran TVRI, Willy Karamoy. Sebuah
film yang akan disiarkan TVRI, menurut Karamoy, harus memenuhi
kriteria yang ditetapkan, antara lain mengandung unsur kultural
edukatif.
Setelah lolos kriteria, film itu harus disensur kembali oleh tim
TVRI - sensor yang dilakukan Badan Sensor Film (BSF) hanya untuk
penyiaran di bioskop. Menurut Arifin, Bengawan Solo, misalnya,
tidak kurang dari 40% digunting sensor TVRI."
Kelemahan lain film nasional untuk acara akhir pekan itu,
seperti diakui Arifin, adalah soal keusangannya. Untuk disiarkan
di TVRI, film itu harus sudah habis masa edarnya di
bioskop-bioskop, bahkan setelah selesai pula direkam ulang oleh
perusahaan rekaman video. "Pihak produsen tentu tidak mau rugi,"
ujar Arifin.
Untuk nembeli film tua itu, TVRI, menurut Willy Karamoy,
mengeluarkan anggaran sekitar Rp 200.000 sampai Rp 500.000 untuk
setiap judul. Harga itu, katanya, masih terhitung murah
dibanding film-film yang dihasilkan sendiri oleh TVRI. Untuk
film produksi sendiri, seperti film sandiwara ataupun serial
Lingkaran, TVRI harus merogoh dana sebesar Rp 10 juta. "Lha,
kalau semuanya dibuat sendiri 'kan bisa bangkrut," kata Arifin
lagi.
Hampir semua produsen film nasional menyambut gembira
kebijaksanaan baru TVRI itu. "Kebijaksanaan itu akan menunjang
gagasan menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di
negerinya sendiri," ujar direktur PT Tobali Film, Gunawan
Priatna. Ia menambahkan, dengan diputar di TVRI berarti film
nasional ditonton seluruh lapisan masyarakat, sehingga misi film
itu benar-benar sampai ke sasaran yang dituju. Gunawan mengaku
memberikan secara gratis dua filmnya untuk acara Sepekan Film
Nasional, yaitu Bengawan Solo dan Nafsu Serakah.
Kegembiraan serupa juga diucapkan direktur PT Garuda Film,
Hendrik Gozali. Kebijaksanaan itu, menurut Gozali, merupakan
promosi bagi film nasional. "Sehingga mereka yang jarang
menonton film nasional bisa tertarik untuk menonton setelah
melihat di TVRI," ujar Gozali.
PERKIRAAN itu ada benarnya bila yang diputar itu film-film
seperti Si Dul Anak Betawi atau Gadis Maraton. Jika TVRI kurang
seleksi dalam hal mutu, akibatnya bisa lain. "Bisa terjadi,
begitu melihat film nasional bermutu rendah di TVRI, masyarakat
akan mencap film kita tidak bernilai," ujar direktur PT Rapi
Film Gope Samtani. Sebab itu banyak yang mengharapkan agar TVRI
betul-betul menseleksi film nasional yang akan diputar.
Teledornya pihak TVRI dalam hal mutu ini juga dikeluhkan oleh
sutradara film. Sutradara Chaerul Umam, misalnya, minggu lalu
menjadi gelisah karena filmnya, Cinta Putih, akan disiarkan
TVRI pada acara akhir pekan. "Film ini tidak layak diputar di
televisi, karena mutunya jelek sekali," ujar Chaerul Umam, yang
dikenal dengan panggilan Mamang.
Menurut Mamang, Cinta Putih, yang dibuat pada 1977, sengaja
dibuat untuk konsumsi masyarakat kalangan bawah. Sebab itu,
kalau ia dimintai pendapat, ia memilih mencabut kembali film itu
dari daftar siaran TVRI. "Bahkan kalau perlu, membayar Rp 50
ribu pun saya bersedia" seloroh Mamang.
|