Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XIV/28 Januari - 03 Februari 1984
   
Ekonomi dan Bisnis

Memburu Modal Hong Kong

Delegasi dagang dan konsultan dari pelbagai negara menawarkan kepada para pemilik modal di hong kong untuk menanamkan modalnya di negaranya. (eb)

"TANAMKAN modal Anda sekarang juga di koloni Inggris yang
paling pesat perkembangannya," bujuk iklan di sebuah koran Hong
Kong. "Negaranya stabil, dengan sekitar 4 ribu bank yang
kerahasiaannya terjamin, bebas pajak, dan lingkungan bisnis
menyenangkan bagi Anda," tambahnya.

Iklan itu bukan mempromosikan Hong Kong, melainkan negara
Kepulauan Cayman. Hari-hari ini iklan serupa itu memang sedang
membanjiri Hong Kong. Banyak delegasi dagang dan puluhan
konsultan dari pelbagai negara, silih berganti, datang ke koloni
Inggris itu, menawarkan bermacam-macam kemudahan investasi.
Tujuan mereka satu: menarik para pemilik modal di koloni Inggris
itu sebesar-besarnya. Mereka beranggapan bahwa belum pastinya
masa depan Hong Kong sesudah masa penyewaan berakhir, 1997,
merupakan saat baik untuk membujuk kaum pemilik modal.

MAURITIUS, misalnya, mempromosikan bebas kuota dan pajak bagi
komoditi yang dihasilkan di negara itu masuk pasar Eropa Barat.
Sedangkan delegasi Costa Rica, yang datang ke Hong Kong
September lalu sewaktu nilai dolar Hong Kong jatuh tajam,
berhasil menggaet 20 pengusaha Hong Kong untuk menetap di sana.
Setiap pengusaha Hong Kong yang masuk negeri itu diperbolehkan
membawa uang tunai US$ 38 ribu.

Dalam persaingan itu, Kanada merasa perlu mengeluarkan buku
petunjuk "paspor Anda ke Kanada", untuk sejumlah calon imigran
Hong Kong. Selain itu, sekurangnya 70 pengacara Kanada tiba di
Hong Kong awal tahun ini untuk memberikan naslhat masalah
penanaman modal dan imigrasi. Mereka, konon, memasang tarif 15
ribu dolar Kanada untuk tiap lembar formulir pengurusan
keimigrasian yang sebenarnya diberikan gratis oleh pemerintah
Kanada. Toh banyak pengusaha Hong Kong yang tampak lebih suka
pindah ke Inggris daripada ke negara-negara di atas. Tapi negeri
itu, yang merasa khawatir akan dibanjiri imigran Hong Kong,
tahun lalu buru-buru mengeluarkan peraturan keimigrasian baru.
Di situ, misalnya, disebut bahwa hanya warga negara Inggris
kelahiran Inggris atau yang orangtuanya kelahiran Inggris saja
yang bisa menetap di Inggns. Tentu saja, pemegang paspor Inggris
kelahiran Hong Kong menjadl resah. "Selama 100 tahun, mereka
menyebut kami warga Inggris, tapi kini, dengan hanya satu
goresan pena, mereka mengatakan bukan. Apakah itu adil?" gerutu
Ronald Lie, ketua Far East Stock Exchange Hong Kong.

Namun, para pemegang paspor Inggris kelahiran Hong Kong atau RRC
masih bisa menetap di Inggris, asal menanamkan modal paling
sedikit œ 150 ribu dan harus menyerap sedikitnya 15 tenaga warga
Inggris.

Bagaimana Indonesia? Ketua BKPM Suhartoyo tampaknya belum merasa
perlu berkampanye aktif seperti mereka - apalagi sampai memasang
iklan dan mengirim delegasi - meski rezeki minyak sedang
kempis. Modal Hong Kong di sini berjumlah US$ 1.143,8 juta (127
proyek), atau nomor 3 teratas, sesudah Jepang dan Amerika. Tidak
jelas apakah iklim investasi di sini masih cukup menarik sesudah
pemerintah meniadakan masa bebas pajak bagi PMA mulai tahun ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data