Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XIII/14 - 20 Januari 1984
   
Kriminalitas

Neraka Tangki Nomor 4

Tiga orang pekerja pada kapal penimbun minyak mentah udang natuna, terbakar hidup-hidup dalam tangki kapal ketika sedang melakukan perbaikan. (krim)

PAGI itu di kapal penimbun minyak mentah Udang Natuna akan ada
perbaikan rutin. Retakan pada tanki nomor 3 dan 4 akan diganti
dengan pelat baja yang baru. John Oshia, nakoda kapal yang
berbendera Liberia telah bersiap-siap untuk turut menyaksikan
perbaikan. Di situ juga ada Sam Malisa, surveyor dari Lloyd's
Register of Shipping.

Udang Natuna yang berbobot mati 93.000 ton itu tertambat pada
kedalamam 300 kaki di lepas pantai Kepulauan Natuna. Perairan
seluas 100 ribu km2 itu merupakan lapangan produksi minyak
Udang, yang dioperasikan kontraktor Pertamina, Conoco,
(Continental Oil Company of Indonesia).

Laut Cina Selatan, ketika itu, 3 Oktober 1983, tampak tenang.
Langit pun cerah. Maka, tanpa menanti lebih lama, perbaikan
segera dimulai. Sebelumnya, dua orang petugas, John Carter dan
Tim Zammit, yang berkebangsaan Inggris, melakukan tes gas pada
tangki yang akan direparasi Hasil tes menyatakan bahwa tangki
nomor 3 dan nomor 4 aman dari gas berbahaya yang mudah terbakar
dan meledak.

Tujuh pekerja yang semua berkebangsaan Indonesia pun segera
turun. Tiga orang memasuki tangki nomor 4 dan yang empat orang
masuk ke tangki nomor 3. Entah bagaimana mulanya, kata kepala
Hubungan Masyarakat Badan Koordinasi Kontraktor Asing (BKKA)
Pertamina, Sukastoyo, saat itu tiba-tiba terdengar bunyi alarem.
Bersamaan dengan itu, dari arah tangki nomor 4 tampak asap
mengepul.

Secepat kilat, empat pekerja yang berada di tangki nomor 3 naik.
Mereka dan terbebas dari bahaya. Tapi Willy Wagio, Baharuddin,
dan Ilyas, yang berada di tangki nomor 4, terjebak. Salah
seorang di antara mereka, kata Sukastoyo, sebenarnya sudah
berhasil meraih mulut tangki. Apa mau dikata, lidah api yang
merah menjilat-jilat dari bawah, hingga ia terjatuh kembali ke
dasar tangki.

Sementara itu, kata Sukastoyo lagi, api kelihatan kian membesar.
Semua orang yang berada di atas kapal apung yang bisa menampung
500.000 barel minyak mentah itu pun panik. Yang dikhawatirkan,
kobaran api merambat ke tangki lain dan, lebih jauh, menjalar ke
anjungan produksi Udang yang berjarak hampir 2 km dari situ.
Nakoda John Oshia, penanggung jawab di kapal apung, segera
memerintahkan menutup tangki nomor 4.

Kobaran api akhirnya memang bisa dibatasi dan meninggalkan tiga
orang Indonesia tadi seperti tiga potong roti yang dibakar
dalam oven. Dan meninggal.

Kejadian itu, menurut kepala Hubungan Masyarakat BKKA Pertamina,
segera dilaporkan kepada kepolisian di Tarempa, Kecamatan
Siantan di Pulau Matak, tempat Conoco bermarkas. Bagaimana
penanganan pihak kepolisian, sampai pekan lalu, belum diketahui.
"Tapi ketiga korban sudah dikembalikan kepada keluarganya. Pihak
Conoco sudah memberikan sekadar uang belasungkawa," kata
Sukastoyo.

Sukastoyo membantah anggapan seolah peralatan pendeteksi bahaya
api dan alat pemadam kebakaran di Udang Natuna tak bisa bekerja
dengan baik. "Peralatan seperti itu, baik dl kapal tanker maupun
di tempat pengeboran minyak, sangat baik dan sophisticated,"
katanya. Secara berkala, semua peralatan itu dikontrol. Meski
begitu, kecelakaan tak mungkin bisa dielakkan sama sekali.
"Peristiwa semacam itu bisa saja terjadi walau semua prosedur
dan peralatan sudah lengkap," katanya.

Betapapun, musibah yang menimpa Willy, Baharuddin, dan Ilyas
memang tragis. Mereka terbakar hidup-hidup, tanpa ada upaya
untuk menolong terlebih dahulu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data