Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XIII/14 - 20 Januari 1984
   
Kolom

Yang Pasti Dan Tidak Pasti Dalam...

Apbn berfungsi menggerakkan dan mengarahkan pembangunan nasional, tetapi angka-angka apbn tidak pernah bisa dianggap pasti, dan yang diperlukan adalah kepastian ekonomi secara keseluruhan. (kl)

RANCANGAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun
1984/1985 telah diajukan Pemerintah kepada DPR dengan catatan:
penyusunannya sama sulitnya dengan tahun lalu. Salah satu faktor
penyebabnya adalah ketidakpastian dalam proses penyembuhan
ekonomi dunia. Memang tidak ada alasan mengapa kita di Indonesia
harus lebih tahu dari orang lain mengenai prospek ekonomi dumia.

Dalam situasi seperti ini, apa yang dinamakan perencanaan
(planning) itu memang dihadapkan pada ujlan yang berat.
Perencanaan ekonomi (pembangunan) menjadi semakin jauh dari
keilmuannya (science) dan lebih dekat menyerupai kiat (art).
Namun, keadaan serupa ini bukan alasan untuk herputus asa.
Malahan, seperti telah berulang-ulang ditunjukkan dalam sejarah
umat manusia, keadaan serupa imilah yang menghasilkan
gagasan-gagasan baru dan, bersama dengan itu, juga dimamika
baru.

Masalahnya adalah sejauh mana kita berani atau bersedia
menghadapi keadaan ini sebagai tantangan. Keberanian saja
belum cukup. Kita harus bisa menguraikan keadaan yang kita
hadapi itu dalam komponen-komponennya yang jelas: faktor-faktor
mana yang berada dalam kendaii kita sendiri, dan faktor-faktor
mana yang berada di luar kekuasaan kita.

Terhadap jenis faktor yang disebutkan terakhir, kita hanya bisa
berusaha untuk mengurangl efek negatlfnya. Tetapi terhadap jemis
faktor yang disebutkan terdahulu, kita harus berusaha
menjadikannya faktor kepastian. Per definisi, faktor-faktor itu
berada dalam batas kekuasaan kita. Dalam hubungan ini, kita bisa
membantu diri kita sendiri. Tidak perlu disangkal bahwa dewasa
ini terdapat berbagai faktor ketidakpastian yang sebenarnya
telah kita ciptakan sendiri baik secara sadar maupun tidak.
Banyak pula hambatan yang kita buat sendiri.

Apabila dalam interval-interval yang singkat selama beberapa
waktu terakhir ini selalu masih bisa terlontan isu-isu devaluasi
yang ternyata dipercaya masyarakat umum, sumbernya tentu ada
pada diri kita sendiri. Masyarakat sering lupa bahwa isu-isu di
bidang moneter cenderung menjurus kepada realitas
(self-fulfilling propecy), dan kalaupun dalam jangka pendek
diperoleh keuntungan, hampir bisa dipastikan bahwa
ketidakstabilan moneter yang diakibatkan akan membawa bencana
dalam jangka yang lebih jauh.

Selain perlu ada kesadaran di kalangan masyarakat, terutama
dalam waktu-waktu prihatin seperti sekarang ini, kiranya banyak
yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketidakpastian
yang terasa di berbagai bidang kehidupan ekonomi.

APBN 1984/1985, selain memang harus disusun untuk kelangsungan
pembangunan, seperti rancangan yang dla)ukan beberapa hari lalu,
sebenarnya merupakan satu langkah pemerimtah untuk memberikan
suatu kepastian. APBN telah difungsikan sebagai motor untuk
menggerakkan dan mengarahkan pembangunan nasional. Pemerintah
meiihatnya begitu, dan masyarakat umumnya pun beranggapan
demikian.

Bagaimana angka-angka dalam APBN 1984/1985 itu ditafsirkan akan
sangat tergantung dari cara masing-masing melihatnya. Ia bisa
dilihat dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi nasional atau
keadaan ekonomi dunia, dan ia bisa dibandingkan dengan APBN
tahun lalu. Walaupun tidak banyak artinya bila tidak
dibandingkan dengan perkiraan realisasinya, ia bisa ditafsirkan
dari posnya masing-masing atau dilihat secara keseluruhan.

Perubahan komposisi (persentase alokasi) baik di segi
pengeluaran maupun penerimaan kiranya menunjukkan bahwa ada
semacam worst case scenario (skenario kemungkinan yang paling
buruk), yang dijadikan landasan penyusunannya. Di segi
penerimaan, misalnya persentase pos yang relatif lebih pasti -
yaitu penerimaan pembangunan - tampak meningkat. Dan kiranya,
jumlah sebesar Rp 4,4 trllyun itu tidak di luar jangkauan kita.

Walaupun angka-angka APBN ini perlu dianggap serius, ia tidak
pernah bisa dianggap pasti. Di negara lain pun tidak. Di Amerika
Serikat, misalnya, defisit anggaran cenderung menjadi jauh lebih
besar dalam realisasinya. Dibandingkan dengan keadaan di Amerika
Serikat, ada hal yang lebih pasti dalam pengelolaan ekonomi
Indonesia, yaitu bahwa pemerintah tidak akan mempraktekkan
pembiayaan defisit, karena falsafah anggaran berimbang yang
dianut begitu teguh.

Namun, memegang teguh prinsip ini mengharuskan adanya keluwesan
di segi pengeluaran. Pos pengeluaran rutin, bila harga BBM sudah
disesuaikan, bisa dianggap fixed, dan karenanya tidak bisa
ditekan lagi. Pos bantuan proyek dalam pengeluaran pembangunan
secara otomatis mengikuti pos yang sama dalam penerimaan
pembangunan. Berarti, hanya pos pembiayaan rupiah dalam
pengeluaran pembangunan yang bersifat luwes dan karenanya harus
dapat ditekan ke bawah bila perlu.

Dalam APBN 1984/1985 ini, yang pengeluaran rutinnya hampir sama
besar dengan pengeluaran pembangunan, setiap tindakan menekan
pos pembiayaan rupiah akan membuat pengeluaran rutim menjadi
lebih besar daripada pengeluaran pembangunan. Tetapi apa
salahnya hal seperti ini dilakukan? Justru esensi penyesuaian
yang sehat seharusnya memang demikian.

Demikian pula, ketidakpastian dalam APBN seharusnya tidak perlu
menimbulkan gangguan besar terhadap perkembangan ekonomi secara
keseluruhan. Pada akhirnya, yang diperlukan adalah kepastian
untuk ekonomi secara keseluruhan. Apabila APBN mengandung
berbagai ketidakpastian, keadaan ini seharusnya dapat
dikompensasikan oleh instrumen-instrumen nonfiskal yang masih
banyak tersedia dan bisa digunakan.

Walaupun APBN tetap akan penting artinya bagi perkembangan
ekonomi kita, seharusnya ia bukan lagi merupakan satu-satunya
yang terpenting. Dunia perbankan sudah lebih berkembang, dan
dunia usaha sudah mempunyai potensi yang jauh lebih besar.
Kesemuanya berkat kemajuan-kemajuan yang dicapai selama tiga
Pelita. Dengan APBN 1984/1985 ini, kita sudah memasuki tahap
Pelita IV yang mempunyai kondisi ekonomi yang lain dari 15 tahun
lalu, dan karenanya mungkin mengundang pula suatu landasan
makroekonomi yang baru.

Apabila APBN sukar diandalkan untuk berfungsi sebagai motor
penggerak yang utama, kiranya memang sudah waktunya merumuskan
langkah-langkah agar dunia usaha tidak lagi merasa terlalu
dianaktirikan dan dengan demikian dapat ikut memainkan peranan
yang penting dalam mempertahankan kesinambungan dan meningkatkan
pembangunan nasional.

Dewasa ini sudah banyak terlontar pemikiran ke arah ini, tapi
belum ada kejelasan dari mana akan dimulai. Mungkin pula sukar
dimulai karena kita terjebak dalam gagasan-gagasan tertentu.
Meskipun demikian, tantangan yang kita hadapi demikian besar
sehingga sulit dicari alternatif lain kecuali bila kita bersedia
membayar harga dari etatisme yang meluas. Suatu keadaan yang
sebenarnya ditentang oleh gerakan Orde Baru sekitar dua puluh
tahun yang lalu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data