Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XIII/14 - 20 Januari 1984
   
Ilmu dan Teknologi

Menangkap Ikan Dengan Satelit

Melacak lokasi ikan dengan satelit, melalui perbedaan suhu warna permukaan laut. sistem ini telah dipakai para nelayan di california, as. (ilt)

ADA kabar gembira untuk para nelayan: bisnis penangkapan ikan
memasuki zaman satelit! Pawang ikan bisa kehilangan mata
pencarian, dan main tebak-tebakan sudah bukan masanya lagi.
Pendek kata sebelum turun ke laut, para nelayan modern
memerlukan singgah di sebuah stasiun bumi, dan membaca informasi
lokasi ikan yang dipancarkan dari satelit ruang angkasa.

Hanya saja, fasilitas ini baru dinikmati kelompok terbatas.
Terutama para nelayan California, AS, yang mencari nafkah dengan
berburu ikan salem, tongkol, atau jenis lainnya di Lautan Teduh.

Pada tingkat pertama, satelit akan "membaca" bagian laut tempat
ikan tertentu mencari makanan. Dengan informasi ini, para
nelayan tidak perlu menghabiskan waktu dan bahan bakar,
berputar-putar di laut luas mencari lokasi ikan. Menurut
perkiraan sementara, dengan sistem satelit ini nelayan Pantai
Barat menghemat waktu sekitar 25%.

Menurut para ahli bahari, cara baru ini akan banyak menolong
industri perikanan AS, yang kebetulan sedang oleng dihajar
tingginya ongkos bahan bakar. Dari segi lingkungan, konon,
populasi ikan tidak akan terganggu selama "manajemen pemanfaatan
sumber" bisa diatur secara tertib.

Sampai saat ini, informasi itu disiarkan cuma-cuma kepada para
nelayan melalui kerja sama Lembaga Atmosfer dan Samudra
Nasional, Laboratorium Tenaga Jet, dan Lembaga Oseanografi
Scripps. Pelayanan ini, agaknya, diberikan mengingat musibah
yang menimpa nelayan Pantai Barat, tahun silam. Ketika itu,
terjadi bencana "El Nino" - kenaikan suhu laut di luar ukuran
normal. Sebagai akibatnya, ikan-ikan menghilang dari tempat
mereka biasa ditemukan.

: Dalam bentuk sederhana, satelit melacak lokasi ikan melalui
perbedaan suhu dan warna permukaan laut. "Kegiatan kawanan ikan
mencari makanan membawa perubahan warna tertentu pada permukaan
laut, ujar Mike Laurs, oseanograf pada Pusat Perikanan Barat
aya. Angin lepas pantai dan beberapa faktor lain membuat suhu
laut turun di sepanjang pantai. Keadaan ini mengundang datannya
plankton dalam jumlah melimpah. Daram keadaan demikian,
permukaan laut cenderung berwarna hijau kotor, atau cokelat.

Secara relatif, air laut yang lebih panas dan berwarna biru,
atau ungu, selalu berhampiran dengan air yang kotor. Perbedaan
warna ini dengan mudah bisa dibaca pada permukaan laut.
Ternyata, satelit jua dapat menginderakannya tanpa kesulitan
yang berarti. Ikan tongkol, menurut Dr. Laurs, menyenangi air
laut yang lebih hangat. Ikan salem, sebaliknya, lebih menyukai
air yang dingin. Kawanan salem mencari makan dengan mengandalkan
penciuman.

Satelit, dengan kemampuan penglihatannya yang panoramis, secara
tepat akan memperlihatkan perubahan warna dan suhu air laut.
"Satelit tidak akan memberi tanda X di peta dan mengatakan ikan
berada di tempat itu," ujar Dr. Laurs. "Melainkan, satelit akan
mengatakan bahwa kemungkinan mendapat ikan di lokasi X lebih
besar daripada di tempat lain."

Secara tradisional, para nelayan juga menentukan lokasi ikan,
antara lain dengan memperhatikan perubahan warna pada permukaan
laut. "Tapi mencari perubahan warna ini dengan mata telanjang,
dan di laut terbuka, tentu sulit," ujar Frank Mason, pimpinan
Asosiasi Pemilik Kapal Ikan Pantai Barat, San Diego, yang
beranggotakan 450 nelayan.

Selama ini, "perikanan merupakan bisnis yang mempertukarkan
bahan bakar dengan ikan," katanya. Tidak jarang para nelayan
menghabiskan sekitar 500 liter bahan bakar hanya untuk
berputar-putar di laut lepas, tanpa hasil seekor jua. Kapal
besar yang menggunakan pukat bisa menghabiskan Rp 3 juta sehari
hanya untuk bahan bakar. Beberapa perusahaan perikanan bahkan
menggunakan helikopter untuk mencari lokasi ikan.

"Kini, satelitlah yang tampil sebagai juru selamat para
nelayan," ujar Donald Montgomery dari laboratorium Tenaga Jet di
Pasadena, California. Laboratorium yang merintis teknik satelit
oseanografis ini menerima Rp 100 juta per tahun dari lembaa
ruang angkasa AS (NASA) dan pemerintah federal untuk mengalihkan
teknologi satelit perikanan kepada sektor swasta.

Selama hampir dua tahun, laboratorium ini menetapkan standar
perbedaan warna permukaan laut untuk nelayan komersial di Pantai
Barat. Sekali seminggu, gambar-gambar itu ditempelkan di
kantor-kantor pelabuhan, toko pengadaan kebutuhan nelayan, dan
depot bahan bakar. Karena perubahan warna biasanya bertahan
sampai seminggu, para nelayan tetap mendapat kesempatan melaut
dan mencari lokasi yang ditentukan. Untuk kapal penangkap ikan
yang dilenkapi pesawat penerima, lokasi itu bisa dibacakan dari
darat oleh kantor pemilik kapal.

"Kami menggunakan warna palsu untuk membedakan tingkat paling
hijau dan paling biru permukaan laut," ujar Dr. Montgomery.
Sebuah satelit, yang bernama Nimbus 7, bahkan menemukan
konsentrasi klorofil, yang mengimbaskan perubahan warna pada
permukaan laut.

Melalui satelit lain, pusat-pusat informasi perikanan ini juga
mengeluarkan peta suhu permukaan laut, yang terbit seminggu
sekah. Semua satelit yang dioperasikan untuk informasi perikanan
ini melacak kawasan laut hingga setengah jarak pelayaran dari
Pantai Barat menuju Hawaii.

Kesulitannya, "nelayan, umumnya, kaum yang sangat konservatif,"
kata Jan Svejkovsky, ilmuwan peneliti pada Lembaga Scripps.
"Mereka lebih suka berpedoman pada kayu hanyut, burung, atau
isyarat alamiah lainnya."Karena itu, kini, usaha para ilmuwan
dipusatkan pada meyakinkan para nelayan betapa mustahaknya
informasi satelit bagi kehidupan mereka.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data