Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XIII/14 - 20 Januari 1984
   
Daerah

Gerakan pancasila irorejo

Gerakan pancasila, sebuah perkumpulan pencak silat yang dipimpin oleh embah irorejo, menyerbu kantor kecamatan pringsewu, lampung selatan, menuntut keadilan dan pelaksanaan pancasila serta uud '45.(dh)

HARI sudah pukul 10 pagi ketika seorang lelaki tampak memanjat
tiang telepon di depan kantor Kecamatan Pringsewu, Kabupaten
Lampung Selatan sekitar 60 km dari Tanjungkarang. Tapi, tak
seorang pun pedagang di pasar, yang letaknya tak. jauh dari
kantor kecamatan itu, mengacuhkannya. Dengan cekatan, lelaki itu
memutuskan kabel telepon dan listrik sekaligus.

Tak lama kemudian, sekitar 50 orang lelaki, tua dan muda,
berkerumun di depan kantor kecamatan itu. Mereka membawa
bermacam senjata tajam, golok, linggis, dan celurit, serta
pentungan. Beberapa di antaranya berusaha mendobrak pintu dan
mencongkel engselnya. Di antara mereka, tampak seorang lelaki
tua berusia 70-an, yang dikenal dengan nama Embah Irorejo.

Para anggota polisi sektor Pringsewu, yang kantornya persis di
depan kecamatan, masih tenang-tenang saja, sampai ketika Camat
Drs. Tarmizi melarikan diri lewat pintu belakang dan melapor
kepada polisi. Empat polisi segera datang dan mencoba
menenangkan suasana. Mereka tidak berhasil meskipun
tembakan-tembakan peringatan dilepaskan.

Sebagian gerombolan itu malah menyerang keempat alat negara itu
dan membacok tiga di antaranya. Karena itu, tak ada jalan lain
bagi polisi selain menembak Embah Irorejo, yang diduga pemimpin
gerombolan itu. Si Embah jatuh tersungkur: dua tembakan di kaki
kanan, satu lagi di kaki kiri. Gerombolan pun bubar, sementara
para korban diangkut ke rumah sakit.

Kelompok penyerang pada kejaian tanggal 28 Desember lalu itu
ternyata berasal dari sebuah perguruan pencak silat yang
menamakan diri "Gerakan Pancasila" alias "Gerakan Paku Alam",
yang dipimpin sang lmbah. "Sebenarnya, mereka masuk: ke
perguruan itu hanya untuk belajar silat," kata Marsono, 23, juru
bicara perguruan itu. Selain itu, agaknya mereka juga tertarik
pada kesaktian si Embah.

Beberapa pengikut "Gerakan Paku Alam" ini (tidak ada hubungannya
dengan Sri Paku Alam VIII, wakil gubernur Daerah Istimewa
Yogyakarta) percaya bahwa Embah Irorejo mampu memetik buah
kelapa tanpa memanjat pohonnya konon justru pohon nyiu itu
yang merunduk. Ia juga dipercaya bisa berjalan kaki menempuh
jarak puluhan kilometer konon, lebih cepat dari kendaraan
bermotor.

Yang lebih menarik adalah pengakuan Sukarno, 40, salah seorang
pengikut Embah Irorejo. Katanya, Gerakan Pancasila" menuntut
keadilan dan pelaksanaan Pancasila dan UUD 45
semurni-murninya.

Selama ini, - katanya, banyak penduduk yang menurus surat-surat
di kantor kelurahan atau kecamatan selalu dipersulit.
"Sebaliknya, orang-orang Cina-lah. yang dilayani," tuturnya
lagi.

Dalam keterangannya kepada Drs. Suwardi Ramli, kepala Direktorat
Sosial Politik Kabupaten Lampung Selatan, Saliyo, pengikut
gerakan si Embah, menyatakan para pedagaang non pribumi yang
mengotori pasar, tapi penduluk pribumi yang disuruh
membersihkan. Pendeknya, penduduk pribumi menuduh pamong desa,
juga polisi, lebih dekat dengan penduduk "nonpribumi."

Embah Irorejo sendiri yang sudah uzur dan kini terbaring di
rumah sakit itu ternyata masih bisa melontarkan unek-uneknya.
"Pancasila dan UUD 45 itu sebenarnya sudah bagus, hanya
orang-orang yang nenjalankannya yang belum adil," katanya. "Para
pejabat di kantor kecamatan dan. polisi Pringsewu itu tidak
menjalankan Pancasila dan UUD 45," ujarnya lagi. Karena itu, ia
memerintahkan untuk menyerang kedua kantor itu.

Sebuah sumber mengungkapkan, gerakan tersebut agaknya merupakan
reaksi ketidakberesan penyelenggaraan pemilihan kepala desa
Pringsewu pada awal Desemer tahun lalu. honon, ada beberapa
lembar blangko pemilihan palsu, sementara ada pula pemilih yang
masih di bawah umur. Menurut Abdul Japar, 55, yang akhirnya
terpilih sebagai kepala desa Pringsewu, memang ditemukan blangko
yang tidak dicap. "Tapi mungkin hanya kekhilafan belaka,"
katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data