Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/XIII/08 - 14 Oktober 1983
   
Ekonomi dan Bisnis

CSFB salah duga

Floating rate note (FRN) Indonesia yang diterbitkan di pasar dolar eropa tidak laku. penerbitan surat berharga tersebut. Dijamin oleh lembaga keuangan non bank CSFB. (eb)

DI luar dugaan, floating rate note (FRN), yang diterbitkan
pemerintah di pasar dollar Eropa, pertengahan September, kurang
mendapat sambutan. Tidak banyak pemilik uang, baik individu
maupun lembaga keuangan, menurut The Asian Wall Street Journal,
yang membeli surat berharga semacam obligasi itu. Credit Suisse
First Boston Ltd. (CSFB), penjamin utama penerbitan surat
berharga itu, tentu tak mengira situasi semacam itu bakal
terjadi. Maklum, baru Agustus lalu lembaga keuangan nonbank yang
bermarkas di London itu dengan mulus menjual FRN Malaysia
sebanyak US$ 850 juta.

Peristiwa itu sendiri bagi pemerintah yang sudah tiga kali ini
menerbitkan FRN pertama, Mei 1982 dengan US$ 200 juta, kedua,
Oktober 1982 berjumlah US$ 75 juta tentu merupakan pengalaman
yang kurang menyenangkan. Kenapa tak laris? "Saya kira Credit
Suisse First Boston itu salah memperhitungkan situasi pasar,"
kata, seorang bankir Amerika di Jakarta kepada TEMPO pekan
lalu. Menurut dugaan dia, situasi politik di Filipina belakangan
ini telah mempengaruhi para pemilik uang. "Mereka kebanyakan
masih awam, mereka menyangka Indonesia dan Filipina itu sama
saja keadaannya," kata bankir itu.

Bankir itu melihat tambahan bunga 0,25% di atas libor (tingkat
bunga antarbank di London, yang kini 10%) bagi FRN itu sudah
memadai dan cukup merangsang pemilik uang. Ini bertentangan
dengan pendapat seorang bankir di Hong Kong yang menganggap
tambahan bunga FRN tadi kurang menarik. Sebab, untuk pinjaman
sindikasi saja bunga yang dikenakan banyak bank Eropa, terutama
bagi negara berkembang, rata-rata sudah 0,5-0,875% di atas
libor.

Bagi pemerintah sendiri, kata bankir Amerika di Jakarta tadi,
pada saat ini tampaknya lebih murah jika menerbitkan FRN. Tapi
untuk menjualnya pada pemilik dana yang belum dikenal
dibutuhkan waktu dan lobby cukup kuat. Beda dengan kredit
sindikasi, sekalipun dananya kini agak mahal bank yang sudah
mengenal baik nasabahnya biasanya akan cepat memberi konfirmasi.

Biasanya "hubungan bank dengan nasabah itu lebih lancar,"
katanya.

Langkah apa yang akan dilakukan CSFB dan sejumlah lembaga
keuangan nonbank lain belum jelas benar. Tapi, menurut aturan
main, jika FRN pemermtah berjangka 10 tahun itu tak laku, maka
CSFB sebagai penjamin emisi FRN wajib membelinya - dan boleh
pula menjualnya kembali. Agak tumben memang CSFB, yang dikenal
punya reputasi baik di bidang penerbitan surat-surat berharga,
sekali ini bisa meleset.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data