Cireme yang selalu terbakar Kebakaran hutan lindung di gunung cireme, jawa barat, seluas 400 hektar. hampir tiap tahun terjadi kebakaran di hutan ini.(ling) |
API yang membakar hutan lindung di lereng atas Gunung Cireme,
Jawa Barat, sejak 28 Agustus, akhirnya padam dengan sendirinya
Jumat malam pekan lalu. Meskipun kebakaran di puncak gunung api
tertinggi di Ja-Bar ini terjadi hampir tiap tahun, sekali ini
lebih hebat dari biasanya. Karena itu, usaha penduduk setempat
untuk memadamkannya sia-sia. Api pun sempat melahap hutan
indung sampai 400 hektar -- 6 km lagi dari hutan produksi yang
ditumbuhi pinus.
Kebakaran yang terjadi di hutan pionir yang ditumbuhi cantigi,
remai, plendingan, saliara, dan alang-alang ini hampir tak punya
arti apa-apa. Karena itu, Prof. Dr. Otto Soemarwoto, Direktur
Lembaga Ekologi Unpad, sejak semula tak merisaukan kebakaran
itu. "Jika yang terbakar hanya hutan pionir, sulit menjalar.
Lagi pula, dalam sekali musim hujan saja, tanaman itu sudah
tumbuh menjadi semak setinggi setengah meter," katanya. Dan
"dalam 2 atau 3 tahun sudah tumbuh belukar yang bagus jika tak
ada perusakan oleh manusia." Ahli lingkungan hidup ini sejak
semula sudah menduga, api akan padam dengan sendirinya,
mengingat di lereng atas gunung itu banyak jurang dan kawasan
itu bukan hutan produksi.
Yang perlu sekarang, menurut Soemarwoto, kawasan bekas kebakaran
itu dijaga agar tidak dirusakkan manusia. Itu berarti, usaha
pendakian gunung, apa pun dalihnya, mesti dibatasi. Imbauan ini
agaknya sudah tertampung, ketika Gubernur Ja-Bar Aang Kunaefi,
yang meninjau hutan di saat terbakar, memberi instruksi untuk
melarang pendakian di Gunung Cireme. Apalagi kebakaran-kebakaran
yang terjadi hampir selalu disebabkan api unggun para pendaki
yang tak dipadamkan dengan sempurna.
Gunung api yang masih aktif ini -- terakhir meletus tahun 1937
-- menurut beberapa pendaki memiliki keindahan tersendiri pada
kawahnya. Di hari libur, ratusan orang mendaki gunung ini dan
dua tempat, Linggarjati dan Palutungan. Yang lebih ideal dan
dekat, walau lebih terjal, lewat Linggarjati. Karena itu, Kores
Kepolisian Kuningan mengeluarkan pengumuman: para calon pendaki
harus melaporkan diri ke Kantor Kepala Desa Linggarjati.
Pihak Perhutani, yang mengelola hutan produksi di kawasan itu,
juga menitip pesan agar hati-hati membuat api unggun. "Mungkin
karena tak ada sanksinya, banyak pendaki yang tidak melaporkan
diri," kata Kepala Desa Linggarjati, Raden Linggabuana. Ketika
kebakaran terjadi pekan lalu, pendaki yang mendaftarkan diri
hanya 440 orang, terdiri kelompok-kelompok kecil beranggotakan
10 sampai 20 orang. Yang tak melaporkan diri diduga lebih banyak
dan umumnya mulai mendaki Sabtu siang.
Menurut penuturan M. Yusup, guru STM Pertanian, Jalaksana,
Kuningan, yang memimpin 146 siswa mendaki Gunung Cireme,
rombongannya sudah melihat api unggun yang belum padam di Blok
Pengasinan, Minggu pagi. Ia sempat memerintahkan murid-muridnya
memadamkan api itu dengan menginjak dan mengencinginya, sebelum
melanjutkan perjalanan ke puncak. Hanya setengah jam di puncak,
rombongan ini turun dan melewati lagi api yang dikira telah
padam tadi. Namun, setiba mereka di bawah, asap tebal mengepul
di atas. Rupanya ada sisa-sisa bara yang membesar akibat tiupan
angin kencang. Rombongan STM ini yang turun paling akhir semula
diberitakan terkurung, sehingga sempat menimbulkan kehebohan.
Puluhan warga Desa Linggarjati yang dikerahkan bersama 2 polisi
hutan tak berhasil memadamkan api. Lokasi kebakaran terlalu jauh
di atas untuk mencapainya perlu waktu 8 jam perjalanan. Karena
itu, api lebih cepat merambat dibandingkan dengan datangnya
bantuan. "Selain medan terjal, alat pemadam juga kurang
memadai," kata Komandan Korem 063/SGJ Kol. Amung Mulyana yang
memimpin pos bantuan di Desa Linggarjati.
Pesawat yang disiapkan untuk menyemprotkan air dari udara, baik
milik polisi maupun Satuan Udara Pertanian, tak jadi digunakan.
"Walau bisa menyemprotkan air, luasnya lokasi kebakaran dan
medan yang terjadi tak akan bisa memadamkan api," kata Letkol
Idrus Ismail dari Satuan Udara Pertanian Jakarta yang sudah
bersiap-siap dengan memangkalkan pesawatnya di Cirehon.
Dan ramalan Otto Soemarwoto ternyata jitu: api padam dengan
sendirinya. Mungkin karena kobaran api terhalang jurang. Namun,
ada pula yang menghubungkan hal itu dengan saat istikharah yang
dilangsungkan serentak di desa Linggarjati, Setianegara, dan
Linggasana selesai salat Jumat 2 September.
|