Profil Seorang Panglima Benny yang pernah memimpin operasi naga di rimba irian jaya, kini memegang pimpinan tertinggi di jajaran Abri. Ketika masih menjabat perwira intelijen diam-diam dia sering terjun sendiri ke tengah masyarakat. Diam-diam dia juga penggemar lukisan. |
KESAN sekilas: dia angker, tertutup atau keras. Tapi
menyaksikannya bersama keluarganya dan bawahannya setelah
upacara pelantikan pekan lalu orang bisa melihat Benny Moerdani
dari sisi yang lain: seorang yang oleh orang Inggris disebut
witty - bijak, dengan humor yang kena.
Kesan tertutup tampaknya terbawa oleh jabatan Asisten Intelijen
Hankam yang dipegang L.B. Moerdani sejak 1974. Publikasi atau
foto dirinya memang Jarang muncul di media massa. Gurauannya
setiap kali dipotret wartawan: "Awas, kalau dimuat nanti saya
breidel."
Benny sendiri memilih prinsip itu: orang intel tidak boleh
banyak bicara. "Kita tidak bisa bekerja dan berada di pentas
sekaligus," ujarnya Leonardus Benyamin Moerdani lahir 2 Oktober
1932 di Cepu, Jawa Tengah, dan dibesarkan di Sala. Ayahnya R.G.
Moerdani Sosrodirdjo, seorang pegawai jawatan kereta api. Ibunya
Rochmaria Jeane. Di tubuh sang ibu ada darah Indo Belanda.
Dalam usia yang masih sangat muda, 13 tahun, Benny ikut
bergabung dalam tentara pelajar. Waktu itu ia baru lulus sekolah
dasar. SMP ditempuhnya di Sala, begitu juga SMA yang tidak
diselesaikannya karena pada akhir 1950 ia masuk pendidikan di
Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) Bandung.
Beberapa teman seangkatan Benny di sekolah tersebut adalah
Letjen Gunawan Wibisono (Irjen Hankam), Mayjen Soeweno (Asisten
Operasi Hankam), Mayjen Dading Kalbuadi (Kepala Bagian
Perbekalan Hankam), dan Brigjen C.I. Santosa (Asisten Karyawan
Hankam). Di antara sekitar 500 siswa sekolah tersebut, Benny
termasuk yang termuda. "Tapi dia tergolong yang paling tekun
bekerja dan belajar sampai larut malam. Ia gemar sekali membaca,
baik buku kemiliteran maupun pengetahuan umum," ujar Brigjen
C.I. Santosa, teman sekolahnya yang 2 tahun lebih tua.
Di antara 80 orang lulusan P3AD, Benny termasuk satu di antara
30 orang yang diterima Sekolah Pelatih Infanteri (SPI). Pangkat
militer Benny yang pertama adalah pembantu letnan (capa) pada
1952 dengan jabatan pelatih di Korps Komando AD (KKAD), embrio
RPKAD.
Sekitar 4 tahun jabatan pelatih sekolah komando ini dipegangnya.
Pada 1957 Benny sempat menyelesaikan SMA di Bandung. Sejak 1956
dengan pangkat letnan I sebagai Komandan Kompi RPKAD, ia ikut
serta dalam berbagai operasi militer menumpas DI/TII, PRRI dan
Permesta. Dengan pangkat kapten, pada 1960 ia dikirim ke Amerika
Serikat untuk menempuh pendidikan pasukan komando. Mungkin dari
sini perwira yang sudah biasa dengan bahasa asing ini Belanda -
jadi sangat fasih juga berbahasa Inggris.
Namanya mulai dikenal, tatkala pada 23 Juni 1962 Mayor Benny
Moerdani memimpin Operasi Naga. Ia terjun bersama 215
gerilyawan di dekat Merauke, di tengah hutan belantara yang
gelap. Operasi ini dianggap berhasil, dan kisahnya sempat
ditulis orang hampir 20 tahun yang lalu. Belanda waktu itu
terpaksa memperbesar kekuatannya di Merauke dari 2 kompi menjadi
2 batalyon.
Pada awal Januari 1965 ia dialihtugaskan ke Kostrad sebagai
perwira Staf Umum II. Pangkostrad waktu itu adalah Mayjen
Soeharto - kini Presiden. Karir Benny di bidang intelijen,
diawali ketika ia diangkat sebagai Asisten I Kopur II Kostrad
tahun itu juga.
Dalam usaha rujukan untuk menghentikan konfrontasi
Indonesia-Malaysia, Benny sebagai perwira penghubung ikut
memegang peran bersama Kol. Ali Moertopo. Ia kemudian ditunjuk
sebagai Kepala Perwakilan dan kemudian sebagai Minister
Counsellor di KBRI Kuala Lumpur. Pada 1971 ia diangkat sebagai
Konsul Jenderal di Seoul, Korea Selatan.
Peristiwa 15 Januari 1974 pecah. Sekitar 10 hari setelah itu
Benny dipanggil pulang dan diangkat sebagai Komandan Satgas
Intel Kopkamtib. Sekitar 6 bulan kemudian diangkat juga sebagai
Asisten Intelijen Hankam mengantikan Mayjen Kharis Suhud. Sejak
awal Mei 1978 ia diangkat juga sebagai Wakil Kepala Bakin.
Beberapa jabatan lain juga dirangkapnya, antara lain Ketua Tim
Pusat Penanggulangan Pengungsi Vietnam dan Tim Pembangunan Pusat
Timor Timur. Beberapa jabatan tersebut dengan sendirinya akan
dilepaskannya setelah ia menjabat Pangab dan Pangkopkamtib.
Jabatannya selaku Waka Bakin misalnya, telah dilepasnya pekan
lalu.
Dalam usia 45 tahun ia menjadi letjen yang termuda dalam sejarah
Orde Baru. Dia juga Pangab pertama yang langsung diangkat dari
asisten intelijen. Dan dalam masa kepresidenan Pak Harto, ia
juga merupakan perwira tinggi pertama yang pangkat Jenderalnya
disematkan sendiri oleh Kepala Negara. Sebelumnya, Presiden
Soekarno pernah melakukan hal yang sama hanya dua kali: pada
Jenderal Soeharto dan Laksamana Rusmin Nurjadin.
Peristiwa itu banyak menimbulkan spekulasi. "Jangan berpikir
yang bukan-bukan. Saya kira itu hanya merupakan suatu ungkapan
kepercayaan dan kebanggaan Pak Harto yang selama ini secara
tidak langsung banyak membimbing Pak Benny," kata seorang
perwira tinggi.
Sebelum pengumuman kabinet baru memang orang sudah menduga bahwa
Letjen Benny akan menggantikan M. Jusuf sebaai Pangab. Dan
memang: Keputusan Presiden nomor 47/M 1973 menyebut "bahwa
Letjen TNI L.B. Benny Moerdani dianggap memenuhi syarat untuk
diangkat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata."
Agaknya salah satu persyaratan pada dirinya adalah: Benny
dianggap bisa menjembatani para perwira generasi 45 dan generasi
muda. Dalam usia muda ia telah ikut revolusi fisik. Ia bisa
mengerti. Nilai-nilai serta sikap hidup "Generasi 45". Namun
usianya yang 50 tahun juga hanya berjarak sedikit dengan lulusan
Akabri angkatan pertama. Mayjen Try Soetrisno, misalnya, berusia
47 tahun.
Selain itu, menurut beberapa sumber, pribadi Benny Moerdani
memang cocok untuk kalangan generasi perwira muda. Dia
terpelajar, pengetahuannya mencakup perkembangan mutakhir di
banyak bidang bahkan keterampilan komputer. Analisisnya tentang
keadaan "sober" tidak dengan dramatisasi dan kritis terhadap
"skenario" yang terasa berlebihan.
Adalah Letjen Benny Moerdani yang ketika itu memegang peranan
utama dalam Operasi Pembebasan pesawat DC-9 Woyla punya Garuda
yang dibajak itu: suatu operasi yang cepat, rapi, akurat - yang
semula mungkin tak terbayangkan akan dilakukan oleh sebuah
pasukan dari negeri yang tidak terkenal efisiensinya.
Agaknya memang Benny mewakili suatu generasi yang unik: generasi
yang mengagumi kesiapan profesional tapi dengan semangat yang
nampak di kalangan perjuangan. Tapi tanpa retorika. Ketika
disumpah menurut agama Katolik, Benny Moerdani tak mengacungkan
dua jari, tapi lima jari tangan kanannya. "Ia pemeluk agama yang
baik, tapi kesetiaannya lebih luas - kesetiaan nasionalisme,"
kata seorang yang hadir.
Ia menghormati lambang Pancasila, sementara tangan kirinya
diletakkan di Kitab Injil pribadinya yang berwarna merah tua,
cetakan 1954 dalam bahasa Belanda, yang di halaman mukanya
tertulis ucapan dalam bahasa Belanda: Voor Benny.
Salah satu petikan Injil yang disukainya adalah dari Matheus,
pasal 7 ayat 34: Mengapa engkau melihat selumbar di mata
saudaramu, sedang balok di matamu tidak engkau ketahui?
Ayat itu memang terasa menyentuh hati bila dihubunkan dengan
posisi seorang yang berada dalam kekuasaan yang besar. Mungkin
karena itu Benny secara menyamar, sering bepergian, dan
mendengarkan orang bicara yang sebenarnya. Dari sini barangkali
penilaiannya terhadap keadaan, seperti diakui kalangan yang
bukan pemerintah, cukup imbang. "Ia memakai disiplin berpikir,"
komentar seorang wartawan yang pernah mendengar uraiannya. "Dan
terus terang."
Ia suka menghabiskan waktunya di kantornya yang lama, di Tebet,
Jakarta Selatan. Juga di Minggu siang. Tapi ia bukan mesin 24
jam. Teman-teman yang mengenalnya dan mengenal istrinya, T.
Hartini, tau bagaimana dekat jenderal yang berwajah keras ini
dengan putri tunggalnya, Ria. Di saat-saat-luang ia juga kadang
berolah raga golf, tenis, berenang, membaca buku sejarah.
Jenderal perang ini juga ternyata tercatat menyimpan dua karya
pelukis Indonesia modern G. Sidharta, Malaikat Berguguran dan
Diponegoro.
|