Dengan Upacara 45 Menit, Sebuah... Sejarah perkembangan struktur jabatan Pangab dan untuk pertama kalinya jabatan Menhankam dan Pangab dipisah. serah terima jabatan Pangab dari jenderal M. Jusuf kepada penggantinya L.B. Moerdani. |
UPACARA itu di halaman Gedung Hankam Senin pagi lalu berjalan
singkat, hanya sekitar 45 menit. Seusai menyerahkan tali dan
tongkat komando, Jenderal M.
Jusuf - yang juga bertindak sebagai inspektur upacara -
menyerahkan panji-panji Angkatan Bersenjata kepada penggantinya
Jenderal L.B. Moerdani. Keduanya lalu bersalaman. Maka resmlah
Jenderal Benny Moerdani menjabat Pangab yang baru.
Sebenarnya bukan sekadar tongkat komando biasa saja yang
diserahkan Jusuf kepada Benny. Ia sebetulnya juga menyerahkan
tongkat estafet generasi. Jusuf sebagai perwira generasi 1945
menyerahkan pucuk pimpinan ABRI kepada Benny yang tergolong
generasi peralihan. Tongkat ini kelak akan diteruskannya kepada
generasi yang lebih muda.
Pangab Jenderal Benny menyatakan kesanggupannya menerima tongkat
estafet generasi itu. "Tanggung jawab ini saya sadari merupakan
beban yang tidak ringan," katanya. "Tapi saya merasa bangga
mendapat kehormatan untuk dapat memikul tanggung jawab yang
sedemikian besar," sambungnya. Ditegaskannya juga kesediaannya
untuk meneruskan per)uangan para pendahulunya. "Kepada pendahulu
kami, di mana pun berada, kami mengucapkan selamat jalan dan
terima kasih. Yakinlah, bahwa kami akan meneruskan perjuangan,"
ujar Benny dalam kata sambutannya.
Benny tampaknya sadar betul akan tugasnya untuk menjembatani
peralihan kepemimpinan ABRI dari generasi 1945 kepada generasi
muda. Ia menjanjikan untuk menyelesaikan proses peremajaan di
kalangan ABRI, dengan beberapa pengecualian, akan selesai pada
tahun 1983 ini juga.
Proses itu sebenarnya sudah berjalan beberapa tahun terakhir
ini. Beberapa posisi penting kini sudah dipegang para perwira
generasi muda lulusan Akabri, misalnya Pangdam V/Jaya Mayjen Try
Soetrisno serta Pangdam II/Bukit Barisan Brigjen Eddy Sudradjat.
Sebagian jabatan teras lainnya dipegang para lulusan Akademi
Militer Yogyakarta, termasuk yang menyelesaikan pelajarannya di
Breda, seperti Brigjen Sularso, Brigjen Untung Sridadi dan
Letjen Rudini. Di samping itu terdapat juga para perwira
generasi peralihan, lulusan Pusat Pendidikan Perwira AD Bandung
seperti Jenderal Benny Moerdani sendiri, Mayjen Dading Kalbuadi
dan Letjen Gunawan Wibisono.
Banyak yang mengharapkan agar penataan baru organisasi hankam
ini akan lebih membuat efisien departemen yang pentin
ini..Sebab masa-masa sulit, akibat pengaruh resesi ekonomi
dunia, pasti akan mempengaruhi pelaksanaan rencana-rencana ABRI.
Untuk itu harapan besar ditujukan kepada duet kepemimpinan Benny
dan Poniman. Mereka diharapkan bisa memperbaiki prestasi Jusuf
yang telah diciptakannya selama 5 tahun ini.
Kepribadian Jusuf terutama ditujukan kepada nasib prajurit. Ia
sering mengesampingkan laporan yang masuk ke mejanya, dan lebih
memillh cara peninjauan langsung. Uang makan, uang lauk-pauk,
pakaian seragam, perumahan dan kesejahteraan prajurit
ditingkatkannya. Karena itu ia sangat populer di kalangan
keluarga bawahan.
Jusuf juga dianggap berhasil menyelesaikan Renstra II ABRI:
khususnya rencana meningkatkan profesionalisme ABRI. Di masa
kepemimpinannya program peningkatan kualitas 100 batalyon ABRI
diselesaikan. Modernisasi peralatan ABRI terlaksana dengan
datangnya bermacam senjata yang telah dipesan pada masa
pra-Jusuf.
Sentuhan Jusuf yang mungkin paling mendapat sambutan masyarakat
adalah larangan berdagang pada seluruh anggota ABRI. Program
ABRI masuk desa (AMD) dianggap juga berhasil mendorong para
anggota ABRI generasi muda menghayati kehidupan rahyat.
Namun ada juga kritik orang terhadap Jusuf. Kunjungannya yang
terlalu sering ke daerah-daerah dalam rombongan besar, misalnya,
dinilai "berlebihan", serta menghabiskan waktu dan biaya.
Selama 5 tahun menjabat Menhankam/Pangab, Jenderal M. Jusu
memang telah melakukan 172 kali kunjungan kerja yang memakan
waktu 411 hari dan mengarungi jarak 583.000 kilometer lebih. Ini
merupakan suatu rekor tersendiri. Tentu saja bukannya tak
bermanfaat. Namun kunjungan mendadak menyebabkan perencanaan dan
administrasi terganggu, bila teramat sering. Toh Jusuf, di
masanya suatu "angin segar".
Apa yang bakal dilakukan Benny? Yang jelas Benny yang sejak
pekan ini menempati ruangan di Gedung Hankam yang sebelumnya
dipakai Pangkopkamtib Sudomo akan mengambil berbagai langkah
penghematan. Barangkah perjalanan akan di kurangi, upacara besar
- seperti 5 Oktober - mungkin harus disederhanakan. Masa
pemulihan citra, yang berhasil baik di masa Jusuf, akan
dikembangkan secara nada rendah - gaya Benny.
Perubahan itu mungkin sekali akan dilakukan secara bertahap,
hingga "tidak mengagetkan". Benny diduga juga akan mempraktekkan
gaya peninJauannya selama ini: dalam rombongan kecil yang
berlumlah kurang dari 10 orang saja. Namun berbagai program yang
telah dirintis Jenderal Jusuf: misalnya peningkatan
kesejahteraan prajurit dan peningkatan profesionalisme dan
modernisasi ABRI pasti akan diteruskan Jenderal Benny - karena
itu memang masuk Renstra ABRI.
Sementara itu, ada tantangan lain bagi tiap kepemimpinan hankam
- terutama di masa kesulitan bersama: bagaimana menjalankan
fungsi sosial-politik ABRI tanpa memperlemah kekuatan-kekuatan
di luarnya. Misalnya, bagaimana menumbuhkan Golkar dan partai
politik yang lebih mandiri daripada selama ini. M. Jusuf
setidaknya telah mencoba mengembalikan ABRI sebagai "tentaranya
rakyat". Benny Moerdani nampaknya akan meneruskan arah ini,
meskipun mungkin tanpa sorak-sorak bergembira.
Panglima yang baru memang, seperti dikatakan oleh bekas anggota
DPA Harry Tjan Silalahi, yang mengenalnya sejak awal 1960-an,
kurang punya pengalaman langsung dalam percaturan politik dalam
negeri. Namun sebagai perwira tinggi intelijen, dan orang yang
cepat bisa menyerap informasi dalam volume besar, ia tak akan
terlalu ketinggalan di dalam urusan yang tidak teknis militer
ini. Dia toh pernah pegang abatan tinggi diplomatik, di Kuala
Lumpur dan Seoul, dan dalam perkara ini, menurut Harry Tjan, dia
"seorang top man".
Yang merupakan handikap Jenderal Benny Moerdani ialah, untuk
jabatan sekarang, dia bukan tokoh publik yang dikenal luas.
Seperti para pembantu dekat Pak Harto yang lain, Benny Moerdani
selama ini bekerja tanpa menarik perhatian, dan seperti mereka,
tahu membatasi diri dari ramairamai (dan godaan) untuk berambisi
pada jabatan politik. Kini keadaan semacam itu akan terpaksa
ditinggalkannya - meskipun barangkali dengan enggan.
Tiap pribadi punya gaya, tiap tokoh punya waktu, juga kesempatan
dan hambatannya sendiri. Namun lebih penting dari sekadar
pergantian pimpinan. peralihan dari - Jusuf ke Benny adalah
isyarat: pergantian seperti itu adalah hal yang tak terelakkan
dan karena itu perlu jalan tanpa ribut.
|