Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XII/19 - 25 Februari 1983
   
Media

Radio swasta semakin ting ting

Banyak radio swasta yang mengajukan permintaan ke FM selama ini gelombang FM dimonopoli oleh RRI. (md)

I LOVE YOU . . . Suara Irama Indah Stereo . . . Jingle itu
mendayu lembut dari pemancar radio di lantai 12 Hotel Sahid
Jaya, Jakarta. Melalui frekuensi 101.2 Mhz, ia terdengar jernih,
dan empuk.

Itulah kelebihan pemancar radio bermodulasi FM Stereo. "Kami
memang sengaja memilih FM Stereo. Inilah, The station with
beautiful music and beautiful people," tuNr Mas Yos alias Suyoso
Karsono, 62 tahun, pimpinan stasiun radio PT Suara Irama Indah
(SII). Ia memang memilih gelombang FM (Frequency Modulation),
yang. katanya, walaupun musiknya kuno, tetap bisa dinikmati.
Suara rendah maupun tinggi jelas terdengar. "Pendeknya, suara
ting . . . ting . . . yang tinggi itu terdengar semua, bagaikan
konser," Mas Yos berbangga.

Gelombang FM memang menghasilkan suara yang berbeda dengan
gelombang AM (Amplitudo Modulation). Dengan FM suara radio dapat
diterima secara HiFi (High Fidelity). Gelombang AM atau MW
(Medium Wave) biasanya memancarkan suara satu bercampur baur.
Juga amplitudonya mudah terganggu listrik. Mobil lewat saja,
misalnya, bisa mengganggu gelombang AM. Selain itu jangkauannya
terbatas sampai radius 40 km. Gangguan pada FM hanya pada
freluensinya.

Menurut Mas Yos petir pun tak mengganggu, juga atmosfir. Tapi
cuaca, misalnya mendung, bisa mengganggu. Mas Yos berpengalaman
di bidang radio pemancar dan siaran sejak 1947. Ketika itu, di
Yogyakarta, ia merintis Radio Militer Angkatan Udara. Lalu
pindah ke Aceh, dan 1953 pindah ke Jakarta. Ikut mendirikan
Radio Elshinta, ia merintis SII sejak 12 Februari 1974 -- tentu
secara gelap dan mengekor Elshinta. Kini Elshinta berlokasi di
Gedung Arthaloka (sewa Rp 2 juta per bulan) lantai 18
bermodulasi di gelombang MW 219.29 M frekuensi 1368 Khz.
Sebelumnya ia berpindah-pindah dari Jalan Raden Saleh ke Jalan
Besuki. Mas Yos kini tentu saja tak bergabung lagi dengan
Elshinta.

Keinginan mengisi gelombang FM pun banyak bermunculan. Sampai
kini tercatat 33 pemohon pada Sub Direktorat Siaran Dalam
Negeri, Direktorat Radio, Deppen. Terbanyak (11 pemohon) datang
dari DKI Jakarta. Menyusul Jawa Barat (8 pemohon) dan tersedikit
(2 pemohon) Jawa Tengah. Permohonan itu ada yang sama sekali
baru di samping permintaan dari AM ke FM.

Selama ini radio swasta niaga hanya diizinkan bergerak di
gelombang MW (AM) dengan kekuatan pancar 250 watt, hanya
diterima di daerah seputar 40 km. "Mungkin agar tak mengganggu
radio daerah," komentar Doddy Ardhita, General Manager
Elshinta. Mereka sebenarnya sudah sejak 3 tahun lalu berusaha
masuk FM. Tapi karena selain FM ingin juga di AM, menurut
Doddy, Elshinta tak dapat izin. Pemakai tunggal gelombang FM
selama ini adalah RRI.

Tak bolehkah non-RRI memakai FM? "Banyak yang nggak mau," kata
Syarifuddin, Kepala Direktorat Pengendalian Frekuensi, Ditjen
Telekomunikasi. Menurut Syarifuddin, 54 tahun, dalam SK No.
25/T/1971, 23 Januari 1971, Menteri Perhubungan sudah memberi
izin pada radio swasta nasional bekerja di FM. Frekuensinya
100-108 Mhz dengan kekuatan 25 watt. "Dalam satu daerah dengan
maksimal radius 80-100 km boleh 22 pemancar," katanya. Juga,
katanya, prinsip FM Stereo harus dipenuhi. Ia menegaskan, punya
pemancar di AM dan sekaligus di FM, memang belum diatur.

Tapi ia tak mengerti kenapa tak banyak yang mengajukan
permintaan ke FM. Mungkin, katanya, karena pengaturan siaran dan
perizinannya melibatkan banyak departemen. Selain izin Dephub
mengenai teknis, juga diperlukan izin Deppen (siaran), Depdagri
(pembinaan) dan Kehakiman (segi ba dan hukum). Juga, konon,
biaya instalasinya mahal, sekitar Rp 70 - Rp 10 juta. Dan
jumlah radio penerima FM (radio 4 band) belum banyak. Di Sibolga
yang memiliki radio ber-FM hanya Danrem 023/Kawal Samudera dan
RRI saja. Sedang di kota sebesar Medan, mi salnya, tak lebih
dari 2.000.

Menumpuk di Direktorat Radiokah permintaan izin ke FM? "Masalah
itu nanti saja setelah sidang umum MPR," kata seorang pejabat
RRI di Jakarta. Tapi pengalaman Mas Yos dengan SIInya bisa
bercerita. Bersama Mas Dib (Sudibyo) SII mula-mula mengudara
secara "main kucing-kucingan". Segala daya diusahakan minta izin
sejak 1974.

Pernah dapat izin 6 bulan bersiaran dari pukul 6 pagi sampai 12
siang. Lalu pernah diskors 2 bulan karena Mas Yos berbahasa
gado-gado: Belanda, Inggris, Prancis dan Hawaii. Izin penuh
akhirnya didapat pada 4 Oktober 1982, setelah berjanji akan
berbahasa yang baik. "Tiap tahun izin harus diperbarui, nggak
tahu deh kenapa begitu," katanya.

Studio SII didapat gratis (dua kamar) dengan imbalan
mempromosikan hotel Sahid Jaya. Sedang peralatannya hadiah
seorang Belanda teman Mas Yos yang keranjingan FM. Kini SII
berkaryawan 22, sembilan di antaranya wanita. Dan tujuh dari 10
anak Mas Yos membantu di SII.

Lain lagi pengalaman Irvan Taufiqurrachman Noo'man dari Ilnafir
di Bandung. Izin FM diusahakannya sejak 1978. Dengan rekomendasi
sedikitnya 40 instansi (antara lain Laksusda, Walikota,
Gubernur), baru Oktober 1981 Ilnafir dapat izin siaran dari
Dirjen RTF. Selama menunggu izin, seperti juga SII, Irvan dan
kawan-kawan mengudara secara gelap. "Izin kami peroleh tanpa
pungli," kata Irvan, 26 tahun, mahasiswa Seni Rupa ITB.
Investasi radionya seluruhnya sekitar Rp 35 juta (Rp 8 juta alat
pemancar). Dengan awak 20, biaya operasi dan pemeliharaan
memakan Rp 1,4 juta per bulan. Mereka kini baru bisa memasukkan
pendapatan iklan Rp 1 juta (tarif iklan Rp 75 per detik, sedang
SII Rp 200).

Di Medan Radio Bonsita cukup beruntung. Hanya setahun ia
berjuang minta izin. "Kini tinggal menunggu instalasinya dari
Bandung," tutur Amnah Nasution, 34 tahun, pimpinan Bonsita. Di
Surabaya Radio El DC berhasil dapat izin FM di antara tiga
pemohon.

Bagaimanapun kini FM sudah resmi bisa diperoleh para swasta.
"Itu semua sebetulnya dalam rangka meningkatkan mutu, bukan
penambahan badan baru," komentar H.A. Togar, Ketua Umum PRSSNI
(Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia). Dan 6 Februari
lalu telah berdiri Ikatan Penyiar Radio Siaran Swasta Nasional
Indonesia (Iprassni) diketuai Ny. Tuning Sukobagyo, penyiar
Elshinta. Tujuannya, kata Tuning, "meningkatkan mutu penyiar dan
saling kenal."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data