Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XII/05 - 11 Februari 1983
   
Ekonomi dan Bisnis

Dengarlah suara pembeli

Pendapat para konsumen tentang pemilihan pembelian kendaraan berbahan bakar solar (diesel) atau berbahan bakar bensin, setelah adanya kenaikan ppn dan bea masuk serta kenaikan harga BBM. (eb)

KEGEMARAN orang untuk berdiesel-diesel mulai kendur setelah
mobil-mobil yang memakai BBM solar itu mendadak naik harganya,
jauh di atas mobil bensin. Sekalipun harga seliter minyak solar
sekarang masih Rp 145, dan seliter bensin premium melonjak
menjadi Rp 320, selisih sebesar Rp 175 rupiah itu agaknya masih
membuat calon pembeli itu berpikir-pikir untuk membeli mobil
diesel.

Itu setidaknya dirasakan oleh Helmy Sungkar, perally terkenal
yang sehari-hari duduk sebagai wakil direktur PT Inremco, yang
memasarkan jip diesel CJ-7. "Bayangkan, jip bensin masih bisa
dibeli dengan Rp 7,75 juta, sedang jip diesel setelah kenaikan
PPn menjadi sekitar Rp 10,5 juta," katanya. Menurut Helmy,
sebelum kenaikan pajak penjualan untuk mobil diesel, jip bensin
hanya lebih murah sekitar Rp 150.000 dibandingkan kendaraan
sejenis yang pakai minyak solar.

Orang-orang Astra, tentu saja, seiring pendapat dengan Helmy.
Jip hardtop, produksi mereka, baik yang Daihatsu maupun Toyota,
mereka perkirakan akan berkurang antara 40-50%, kalau peraturan
kenaikan PPn akan tetap dipertahankan oleh pemerintah seperti
sekarang ini, naik drastis untuk penjualan yang baru.

Tapi baik pihak Astra maupun Inremco mengakui, itu masih
merupakan perkiraan yang kasar. Bukan berdasarkan suatu survei
atau riset pasar, yang paling tidak memakan waktu enam bulan.
Bukan mustahil perkiraan itu bisa meleset. Dengarlah misalnya
komentar Ir. Tjokorda Raka Sukawati, direktur administrasi dan
keuangan PT Hutama Karya. "Meningkatnya harga BBM, dan naiknya
PPn untuk mobil diesel tidak berpengaruh bagi kami," kaunya.

Perusahaan kontraktor besar milik pemerintah itu memiliki 200
truk diesel untuk berdinas di lapangan. "Diesel itu hemat
sekali, dan konstruksi mesinnya kuat, sehingga biaya operasi pun
lebih rendah dibandingkan kendaraan yang menggunakan bensin,"
kata Raka Sukawati kepada Erlina Soekarno dari TEMPO.

Mereka menyukai truk diesel Isuzu, "karena kami anggap lebih
efisien," katanya. Ia mengakui perawatan untuk jenis yang diesel
itu lebih rumit, sehingga untuk itu perlu tersedia bengkel yang
baik. Meskipun begitu, Hutama Karya, menurut Raka, akan tetap
menggunakan kendaraan truk diesel untuk pekerjaan di lapangan.
Sedang untuk jip, dari dulu rupanya mereka memakai Toyota
hardtop yang pakai bensin, jauh sebelum yang diesel diproduksi.
Menurut D. Tandanaki, wakil kepala bagian peralatan Hutama
Karya, ini pun tak akan ada perubahan. Alasan mengapa mereka
akan tetap menggunakan Toyota hardtop bensin, bukan karena yang
diesel sekarang lebih mahal. Tapi lebih dikarenakan "itu belum
termasuk dalam kategori mobil perusahaan sesuai peraturan dari
Sekneg, katanya.

Akan halnya mobil dinas yang kini harus dibeli-cicil oleh
pemegang kendaraan, menurut Raka Sukawati, juga tak akan ada
perubahan. "Hampir semua pejabat di Hutama Karya memakai mobil
dinas sedan Holden Commodore (6 silinder), dan Toyota Corolla
DX. Alasannya? "Supaya seragam saja, sehingga bisa membeli suku
cadang dalam jumlah besar, dan lebih mudah merawatnya," katanya.
"Itu pun semuanya pakai bensin."

Ada satu hal yang menarik di Hutama Karya: hampir semua
kendaraan mereka keluaran Jepang, kecuali Holden tadi. Begitu
juga yang terjadi di PT Pembangunan Jaya. Sekalipun tak menganut
prinsip keseragaman, dan lebih suka memakai bensin, sekitar 186
mobil perusahaan itu umumnya bermerk Jepang, dengan ranking
paling atas Suzuki Super Jimny sebanyak 43, dan 15 lagi masih
dipesan, Corolla sejumlah 28, Charade 16 buah, dan 16 jip Toyota
hardtop. Jaya juga memakai 12 truk Isuzu, 17 truk International
Harvester (AS), dan 7 truk Toyota, semuanya diesel, dan 5
Daihatsu Taft.

Menurut W.F.P. Rotinsulu, salah seorang wakil direktur PT
Pembangunan Jaya, perusahaan kontraktor itu, yang mengelola
30-40 proyek di Indonesia dan memiliki 1.444 karyawan, lebih
suka membeli mobil bensin -- kecuali untuk pekerjaan di lapangan
-- karena para karyawan menganggap itu lebih nyaman.
Efisienkah itu? Menurut Rotinsulu, penyelidikan yang mereka
lakukan menunjukkan, bahwa biaya yang keluar untuk mobil bensin,
jika dibandingkan dengan yang pakai BBM solar, tak berbeda
banyak. "Itu pula sebabnya pihak direksi menyetujui karyawan
memilih mobil yang pakai bensin," katanya.

Salah satu pertimbangan mengapa banyak perusahaan lebih menyukai
membeli mobil bensin adalah karena "resale value" (nilai jual
kembali)-nya yang tetap tinggi, kata seorang direktur
perusahaan pers yang punya selusin Toyota hardtop. Sekalipun si
hardtop yang ini tersohor suka sekali menghirup bensin,
rata-rata 1 liter per 6 km, harganya memang cukup bertahan di
pasaran.

Masalah nilai jual kembali itu sebetulnya relatif, tergantung
dari berapa lama suatu merk itu diproduksi oleh perakit. Dalam
hal Corolla dan jip Toyota hardtop misalnya, nilai jual kembali
itu memang termasuk tinggi, karena sejak pertama kali
dikeluarkan di Indonesia sampai sekarang, kedua merk itu boleh
dibilang tak berubah bentuknya. Sedang jip Daihatsu yang pakai
bensin, keluaran tahun 1976/1978, jatuh harganya, setelah merk
Taft diesel memasuki pasaran pada 1979, dan hingga kini
bertahan.

Para pembeli di Indonesia, seperti kata Tinton Suprapto,
pengetahuannya kebanyakan baru terbatas pada pertimbangan resale
value dan faktor ekonomis, dalam arti hemat bahan bakar. Namun
menurut pembalap itu, selebihnya para pembeli itu masih amat
dipengaruhi oleh promosi melalui media massa televisi (sebelum
dilarang) dan bioskop, yang umumnya mempertontonkan keindahan
dan kenyamanan. Atau "model iklan yang ada pelawak Bagio, dan
penyanyi Benyamin," katanya gemas. Menurut pembalap terkenal
itu, "promosi mestinya bersifat ilmiah, diuji bannya dibongkar
mesinnya, dan dibuktikan kepada konsumen."

Ada lagi yang agaknya dilupakan Tinton: soal gengsi, yang
menurut beberapa pengusaha mobil, masih merupakan faktor
penting yang perlu diperhatikan. Ada betulnya. Seorang pejabat
atau direktur yang semula mendapat jatah mobil bersilinder 4,
misalnya, merasa lebih sesuai kalau mendapat ganti mobil yang
bersilinder lebih besar.

Tapi ada juga beberapa perusahaan yang mencoba menekan soal
kenyamanan dan gengsi. Seorang pengusaha muda misalnya tetap
beranggapan pemakaian diesel itulah merupakan suatu pemecahan
soal efisiensi dan ekonomis yang baik. "Bagaimana tidak, harga
solar toh tetap lebih murah," katanya. Tidak hanya itu. Menurut
pengusaha tersebut, diesel itu lebih kuat dibandingkan mesin
yang menggunakan bensin.

Itu dibenarkan oleh seorang pengusaha penggemar speed rally,
Maher. Menurut dia, yang disebut beban dari mesin adalah
fluktuasi dari gaya yang bekerja dalam mesin itu. "Mesin diesel
itu lebih stabil. Kalau kecepatannya naik, terasa lebih berat.
Putaran per menitnya (Rpm) diesel memang lebih rendah, tapi
diesel itu cukup tangguh," katanya.

Karena itu ia beranggapan biaya perawatan untuk diesel itu akan
jatuh lebih rendah dibandingkan mesin yang memakai bensin. Satu
sebab lain adalah: "Bagian-bagian dalam mesin diesel jumlahnya
lebih sedikit dibandingkan mesin
bensin," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data