Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XII/25 - 31 Desember 1982
   
Nasional

Antara gurau dan kecemasan

KBRI di canberra protes atas ucapan brigjen John Deighton, yang mengatakan bahwa Indonesia merupakan ancaman nomor dua bagi Australia setelah Rusia. (nas)

TERJADINYA "insiden" itu sama sekali tak diduga. Dua pekan lalu
serombongan atase militer asing yang bertugas di Australia
diundang menghadiri suatu acara briefing di barak Laverack,
Townsville, Queensland, Australia. Komandan setempat, Brigjen
John Deighton, menguraikan kekuatan tempur Angkatan Darat
Australia.

Deighton dikabarkan antara lain meneatakan: "Tentara Australia
mampu nenangani Indonesia, seperti pernah dilakukannya dulu."
Namun Deighton, 47 tahun, yang pernah bertugas di Malaysia
semasa zaman konfrontasi dulu, menambahkan, "Indonesia kini
merupakan kawan."

Atase Pertahanan RI Kol, T.D.V. Situmeang yang ikut hadir,
rupanya tersinggung atas ucapan tersebut. Ucapan Deighton memang
bisa diartikan, Australia menganggap Indonesia sebagai musuh.
Dan untuk itu tentara Australia siap menghadapinya.

Tak jelas apa yang kemudian terjadi. Konon Kedutaan Besar RI di
Canberra kemudian meneaiukan keluhan pada Departemen Pertahanan
Australia Deighton kemudian dipanggil oleh Komandan Staf Umum
Letjen P. H. Bennet. Ia lalu memutuskan memindahkan Deigh ton ke
jabatan lain. Deighton dikabarkan menolak. Ia menyatakan
meletakkan jabatannya.

Brigjen Deighton tak bisa diminta keterangannya. Tatkala
koresponden TEMPO di Australia Zulaikha Chudori mencoba
menghubunginya, ternyata ia telah memulai cutinya yang dua bulan
untuk kemudian memulai tugas barunya di Melbourne.

Juru bicara Departemen Pertahanan Australia Bruce Davis menolak
memberi keterangan tentang apa yang dikatakan Deighton. "Masalah
ini sudah dianggap selesai," ujarnya. Menurut dia, yang terjadi
hanyalah "salah pengertian". Setelah memanggil Deighton dan
mempertimbangkan situasinya, Letjen Bennet kemudian memutuskan
bahwa lebih baik Deighton mendapat tugas lain.

Sementara itu Departemen Luar Negeri Australia menyangkal bahwa
KBRI menyampaikan protes atau pernyataan apa pun pada Deplu
Australia tentang kejadian tersebut. Seorang juru bicara
departemen tersebut juga menolak mengomentari mengenai
pemindahan tugas Deighton. "Khususnya karena kami belum secara
resmi menyatakan apakah Indonesia memang terlibat dalam
persoalan ini," jawabnya. Di Jakarta, Menlu Mochtar
Kusumaatmadja Senin lalu menjawab singkat, "saya belum mendapat
laporan dari KBRI di Canberra.

Frank Cranston, wartawan Canberra yang menulis mengenai
kejadian ini. Ia menganggap, ucapan Deighton itu dilakukannya
secara bergurau yang rupanya ditanggapi Kol. Situmeang secara
serius. Seorang atase militer itu hadir dalam acara tersebut dan
diwawancarai Cranston berpendapat: ucapan Deighton hanya
gurauan, dan pihak Indonesia dianggapnya terlalu terburu-buru
menanggapinya.

Dr. Feter McCawley, seorang ahli tentang Indonesia dari
Australian National University, menganggap Australia maupun
Indonesia terlalu sensitif menanggapi kejadian tersebut.
"Kelihatannya kedua belah pihak memberikan reaksi yang
berlebihan. Saya kira lebih baik kedua pihak tenang-tenang saja
dulu untuk sementara. Biarkan sebulan berlalu. Baru kemudian
mencoba menyelesaikannya secara baik-baik," ujarnya. Ia juga
menganjurkan agar kedua pihak lebih santai dan bersikap lebih
mengerti.

Toh kecurigaan masyarakat Australia terhadap kemungkinan ancaman
dari Indonesia ternyata besar. Majalah Bulletin pada edisinya 4
September lalu melaporkan hasil survei Morgan Gallup Poll. Hasil
penelitian itu menunjukkan bahwa Indonesia menduduki tempat
kedua setelah Rusia, sebagai negara yang merupakan ancaman
terhadap keamanan Australia. Urutannya: Rusia 26%, Indonesia
17%, RRC 7% dan Amerika Serikat 6%.

Sebagai perbandingan, poll TEMPO pada 1980 menunjukkan bahwa
hanya sekitar 4% responden menganggap Australia sebagai ancaman.
Negara yang dianggap mengancam keamanan Indonesia berturut-turut
adalah RRC 28%, Uni Soviet 23%, Vietnam 21%, AS 11% dan Jepang
8%.

Pemerintah Australia sendiri rupanya tak dihinggapi
kekhawatiran. Dalam pidatonya di Parlemen pekan lalu, Menteri
Pertahanan Australia Ian Sinclair menyatakan, "Saat ini tidak
ada indikasi bahwa Australia diancam bahaya apa pun di kawasan
Asia-Pasifik." Alasannya: angkatan darat di kawasan tersebut
tidak didukung kekuatan laut dan udara yang berarti.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data