Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XII/04 - 10 Desember 1982
   
Nasional

Setelah Tumbal Ayam Kuning

Pembangunan taman wisata di borobudur maju selangkah, penduduk menerima pemindahan pasar dan terminal, semula penduduk menolak digusur dan menuntut uang ganti rugi dinaikkan. (nas)

BOEDIARDJO merasa lega. "Satu tahap dalam pembangunan Taman
Wisata Candi Borobudur kini telah dilampaui," ujarnya Senin lalu
kepada TEMPO. Ada alasan bekas menteri penerangan ini bersyukur.
"Alhamdulillah, pasar dan terminal Borobudur telah dapat
dipindahkan," kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi
Borobudur dan Prambanan tersebut.

Sabtu Kliwon 20 November lalu, Pem-Da Jawa Tengah secara resmi
memindahkan pasar Borobudur. Hari itu ribuan penduduk bergembira
mengarak sebatang beringin kecil yang diambil dari pasar lama
dan ditanam di pasar baru, yang jaraknya sekitar 750 meter.
Seorang dari empat kelompok pemain kuda lumping waktu itu
kesurupan, konon "kemasukan" sang penunggu beringin di pasar
lama. Pesannya: pemindahan pasar direstui asal disediakan tumbal
(korban) seekor ayam berbulu kuning.

Ayam kuning segera disediakan. Arak-arakan dan pemindahan pasar
dinilai berhasil. Toh orang masih was-was menunggu "masa
peralihan" 5 hari yang disediakan: apakah para pedagang serta
penduduk akan bersedia pindah ke pasar dan pemukiman yang baru?

Keraguan itu beralasan. Bukan cuma disebabkan kepercayaan bahwa
memindahkari pasar erat hubungannya dengan berpindahnya rezeki.
Tapi yang dianggap lebih mengkhawatirkan adalah, sebagian
penduduk Borobudur selama ini keras menentang penggusuran
pemukiman mereka guna Taman Wisata Candi Borobudur.

Keraguan itu kini lenyap. Hari Minggu lalu yang merupakan hari
"pasaran", pasar dan terminal di pemukiman yang baru ramai oleh
pengunjung. Ini berarti penduduk menerimanya. Para pengunjung
Borobudur yang menggunakan kendaraan umum kini harus turun di
terminal. Sepuluh bis Damri yang di kacanya tertulis Wira-Wiri
dan Shuttle Service mengangkut mereka ke candi. Kendaraan.
pnadi masih diizinkan parkir di kaki candi. Namun jika Taman
Wisata sudah berfungsi, cuma andong (delman) yang diperbolehkan
mendekat ke candi.

Sarana di pemukiman baru yang dibangun pemerintah cukup lengkap:
Ada pasar, terminal, puskesmas, kantor pos, jalan raya, air
minum dan listrik. Toh dengan segala fasilitas itu sebagian
penduduk bersikeras menolak pindah, terutama penduduk Desa
Kenayan yang dianggap termasuk zone kedua.

Berdasar suatu studi, kawasan Borobudur dibagi tiga: zone
pertama merupakan kawasan arkeologi dengan radius 200 meter dari
candi. Yang kedua taman wisata dan zone ketiga daerah pemukiman
pengganti. Luas seluruh tanah yang akan dikuasai PT Taman Wisata
Candi Borobudur dan Prambanan itu 85 hektar.

Penduduk, yang sudah turun-temurun bnggal di kawasan itu semula
menolak dipindahkan karena pernah mempunyai pengalaman pahit.
Pada 1970 dan 1972 sebagian tanah mereka juga dibebaskan, "demi
pembangunan Borobudur", dengan ganti rugi yang tbdak memadai.
Ternyata di tanah itu kini berdiri sebuah restoran yang dikelola
Hotel Ambarukmo.

Masalahnya menjadi panjang tatkala enduduk meminta bantuan LBH
Jakarta dan KSBH (Kelompok Studi Bantuan Hukum) Yogyakarta.
Alasan penduduk yang tidak ingin digusur bukan menuntut uang
ganti rugi dinaikkan. Tampaknya mereka tak ingin melepaskan
ikatan dengan tanah warisan mereka. "Hidup kami sudah tenteram
di Borobudur. Mengapa harus pindah?" ujar Setro Wikromo, 55
tahun, penduduk Desa Kenayan pada suatu diskusi yang
diselenggarakan LBH di Jakarta Agustus lalu.

Boediardjo, juga punya alasan kuat: candi Borobudur harus
dilestarikan. Pada tahun 2000 nanti diperkirakan lebih dari dua
juta wisatawan akan mengunjungi candi Budha terbesar di dunia
itu. "Bayangkan jika tiap hari Borobudur dikunjungi lebih dari
5.000 wisatawan Lorong Candi akan penuh sesak. Borobudur yang
dipugar mahal akan menerima beban yang terlalu berat," ujarnya
dalam beberapa kesempatan. Dengan pembangunan Taman Wisata, arus
wisatawan diharapkan bisa diatur hingga tak semua sekaligus
memadati candi.

"Pertentangan" antara penduduk yang menentang, yang jumlahnya
makin menipis, dengan PT Taman Wlsata kini masih terus
berlanjut. Namun hasil akhirnya--seperti banyak kasus
penggusuran lainnya -- nampaknya sudh bisa diramalkan.
Boediardjo sendiri, ingin menyelesaikan pembebasan tanah itu
dengan sabar dan cara lunak. "Saya asli Borobudur. Saya tak
ingin ada kekerasan di sini," ucapnya berulang kali.

Namun ia menganggap pembangunan Taman Wisata tersebut tak bisa
mundur. Ia percaya semua penduduk akhirnya akan setuju
dipindahkan. "Mudah-mudahan yang menentang tidak akan
keras-keras ganjalannya," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data