Kemarau, musuh bebuyutan Australia Musim kemarau kali ini merupakan terburuk dalam 100 tahun bagi Australia, lahan pertanian jadi kering dan ternak mengalami kelaparan. |
SEJAK tiga tahun lalu curah hujan di Australia sudah sangat
berkurang. Kesulitan selama tiga musim dalam peternakan dan
pertanian sudah menumpuk tahun ini. Para pendeta sudah berulang
kali memimpin doa di gereja, namun hujan yang dinanti-nanti
dalam masa penting (Mei-September) tahun ini tetap tidak tiba.
Dinas Meteorologi Australia sudah tidak berani meramalkan bila
gerangan musim kemarau yang berkepanjangan ini akan berakhir.
Bahkan dalam November ini hujan masih belum datang. Musim
kemarau kali ini, katanya, terburuk dalam 100 tahun.
Masa kering ini terutama dirasakan pahit oleh wilayah pertanian
dan peternakan di Australia bagian timur, terutama sekali
negara-bagian New South Wales. Dan New South Wales, yang
biasanya merupakan penghasil gandum terbesar di Australia,
terakhir ini memproduksi bahan pangan itu hanya sepertiga dari
biasa.
Australia dikenal sebagai pengekspor gandum. Sebagian besar roti
yang dimakan di Indonesia berasal dari gandum Australia. Tapi
kini pemerintah federal di Canberra untuk pertama kali selama 25
tahun terakhir ini mengizinkan lagi impor gandum karena gagalnya
panen.
Lahan pertanian sudah demikian kering, dengan tanah yang
berbungkahbungkah, hingga debu di sana-sini tampak beterbangan.
Sesudah bertanam tapi tak menhasilkan. petani umumnya
keInlbisan uang simpanan. Bahkan banyak di antara mereka sudah
tak mampu lagi membeli makanan untuk ternak.
Padang rumput tempat penggembalaan sudah tak bisa diandalkan.
Maka banyak ternak yang sudah kurus terpaksa mereka jual ke
tempat penjagalan dengan harga rendah. Dan harga daging di
pasaran jadi jatuh sekali. Sementara menunggu pengangkutan,
banyak pula ternak yang bermatian karena kelaparan . . dan
kehausan. Kelompok petani New South Wales harus mendatangkan
tangki air dari tempat yang jauh jaraknya untuk memberi minum
pada ternak sapi dan biri-biri.
Memang hanya 13,8% dari seluruh 15 juta penduduk, tinggal di
pedalaman, dan mereka yang bekerja di sektor pertanian hanya
4,5% dari seluruh angkatan kerja. Namun musim kemarau membawa
akibat yang berantai. Kehidupan di banyak kota kecil, misalnya,
sekarang turut terpukul. "Mereka biasanya mengharapkan cerahnya
penghasilan pertanian," kata Ketua Federasi Pertanian Nasional,
Michael Davidson. "Tapi pasar dan bisnis mereka di kota-kota
kecil itu, sama halnya dengan lahan pertanian, sudah kering."
Sudah bukan sedikit pula bisnis kota kecil jadi bangkrut, dan
penduduknya mulai berpindah ke kota besar. "Bila petani
kehabisan daya beli," kata Walikota Alderman Harry Clegg di
Dubbo, 400 km dari Sydney, "penjualan di kota ini merosot dan
siapa pun mulai pengecer sampai distributor alat. Pertanian,
bahkan perbankan -- turut prihatin." Hampir 80% dari bisnis kota
Dubbo (30.000 penduduk), yang penting letaknya dalam jaringan
transportasi di pedalaman New South Wales, berkaitan dengan
pertanian.
Terlepas dari bencana kemarau, ekonomi Australia pun sudah
terpukul oleh resesi dunia. Perdana Menteri (Liberal) Malcolm
Fraser sudah bingung karena, seperti disebut pihak oposisi
(Partai Buruh), double ten (yaitu tingkat inflasi 10%, dan
tingkat pengangguran 10% pula) yang serius bagi ekonomi
Australia.
Pemerinah federal pernah menyampaikan ramalannya pada parlemen
bahwa defisit anggaran negara akan mencapai A$ 1,7 milyar dalam
tahun fiskal (1982-83) ini. Itu ramalan sebelum September, yang
sengaja dibikin tidak terlalu suram untuk menghadapi
kemungkinan pemilu sebelum tahun ini, dan dengan harapan hujan
turun mulai September. Ternyata kemarau masih bersambung. PM
Fraser yang tidak sempat berkampanye karena kondisi kesehatannya
konon harus menunda pemilu sampai tahun depan, ketika keadaan
ekonomi--sebagian tentu karena kemarau-mungkin lebih tidak
menguntungkan bagi Partai Liberal yang berkuasa.
Defisit anggaran negara tahun fiskal ini pada waktu pemilu
Australia nanti mungkin mencapai A$ 3 milyar, atau dua kali
lipat dari ramalan pemerintah semula, kata seorang bankir dari
negarabagian Victoria. Partai Buruh baru saja memenangkan pemilu
lokal di Victoria.
Bankir itu, B.L. Howard, menyampaikan satu kertas kerja untuk
konperensi bersama ke-11 badan kerjasama pengusaha
Australia-Indonesia di Bali pekan ini. "Kemarau," katanya
sebagai contoh betapa suramnya di sana, "musuh bebuyutan ekonomi
Australia."
|