Teka-Teki Christina Misteri kematian pelajar SMA Purwokerto, christina yang diduga bunuh diri dengan obat nyamuk bayangon. Sampai sekarang belum terungkap. (hk) |
MISTERI kematian pelajar SMA Purwokerto, Christiana Lina Dewi,
segera terungkap. Satu tim khusus dari Mabak sejak Senin pekan
ini telah melacak sebab kematian gadis itu di Purwokerto.
Sebelumnya, karena merasa pengaduannya tak ditanggapi baik oleh
kepolisian Purwokerto, orang tua Lina, Yayah Budiman, melaporkan
kematian putrinya itu ke Kapolri dan akhirnya ke DPR, 3
November. Ia curiga apakah anaknya bunuh diri, atau dibunuh
orang lain.
Pelajar kelas III SMA Bruderan Purwokerto itu dikenal sebagai
gadis lincah dan cerdas. Di sekolah ia disegani guru dan teman
sekolahnya. Sebab itu Lina, 18 tahun, dipercayakan menjabat
ketua kelas, sekaligus ketua OSIS di sekolahnya.
Tapi nasib yang menimpa gadis itu, 19 April lalu, mengejutkan.
Terutama ayahnya Yayah Budiman, seorang pengusaha pabrik mie
tertua di Purwokerto. Saat itu sudah pukul 7 malam. Sebuah becak
berhenti di rumah Yayah Jalan Situmpur Purwokerto. Seorang wanha
Ieluar dari becak itu dalam keadaan payah dan tertatih-tatih.
Wanita itu ternyata putri Yayah sendiri, Lina, yang beberapa
hari sebelumnya pamit pada orang tuanya untuk piknik bersama
teman-temannya ke Temanggung.
Seorang tukang becak lainnya yang mangkal dekat rumahnya diminta
Yayah untuk mengejar tukang becak yang membawa Lina. Untung
masih keburu. Dari tukang becak itu didapat keterangan Lina naik
becak dari Apotek Panti Waras sekitar 2 km dari rumahnya. Dan di
atas becak itu masih ada sekaleng racun nyamuk yang sudah
terbuka. Sayangnya, Yayah lupa menanyakan nama tukang becak yang
pernah membawa anaknya itu. Sampai saat ini saksi penting itu
misterius.
DARI Lina, masih sempat dikorek keterangan. Anak ke-4 dari 9
bersaudara itu mengaku meminum racun nyamuk merk Baygon yang
banyak digunakan untuk bunuh diri. Almarhum luga sempat meminta
orang tuanya menelepon ke satu nomor pesawat. Ibu Lina segera
memenuhi permintaan itu. Di seberang sana seseorang mengangkat
telepon, mengaku bernama Boen Lian alias Slamet Widodo. Boen
segera nutup gagang telepon, begitu ibu Lina mulai membicarakan
kejadian yang menimpa gadis itu.
Kecurigaan segera timbul di benak rang tua Lina. Apalagi
menjelang ajalnya Lina sempat berkata kepada dr. Soelistiono
yang merawatnya di rumah sakit," saya belum mau mati, saya
dibohongi Slamet Widodo." Lina meninggal keesokan harinya di
Rumah Sakit Umum Purwokerto. Sehari kemudian, 21 April 82, ia
dikebumikan tanpa dilakukan bedah mayat.
Apa sebenarnya yang terjadi pada diri gadis itu? Danres 911
Banyumas, Letkol Abimanyu, memastikan Lina bunuh diri dengan
jalan minum racun nyamuk. Menurut Abimanyu, Lina nekat meminum
racun serangga tu di atas becak yang membawanya pulang. Racun
itu, kata Abimanyu, dibeli Lina di Apotek Panti Waras. Untuk
memudahkan perbuatannya, Lina meminta pelayan apotek membukakan
tutup kaleng racun nyamuk itu. Keterangan polisi ini, menurut
Abimanyu, dikuatkan oleh 18 saksi yang sudah diperiksa.
Tapi Yayah Budiman, ayah Lina, berpendapat lain. Ia tidak
mencium bau racun nyamuk itu di baju yang dipakai putrinya.
Tukang becak yang berhasil menyusul becak yang membawa Lina juga
tidak melihat tumpahan dan bau racun nyamuk di becak yang
ditumpangi gadis itu. Kecuali kaleng yang sudah terbuka itu.
Kalaupun Lina meninggal karena meminum racun serangga itu, ayah
Lina menduga bukan terjadi di aus becak itu.
Kecurigaan atas kematian anak gadisnya bertambah lagi dengan
keterangan dokter Soelistiono. Dokter yang merawat Lina sampai
ajalnya itu kemudian mendapat surat kaleng. Isinya berupa
peringatan agar Soelistiono menghentikan pengusutan atas
kematian Lina. Bila tidak dipatuhi, akibatnya tanggung sendiri.
"Ingat dan sayangilah keluarga anda," ancam surat kaleng itu.
Berdasarkan semua itu Yayah, 8 Mei, mengirimkan pengaduan resmi
ke Danres Banyumas, meminta polisi mengusut kematian itu sampai
tuntas. Tapi kata Yayah, polisi tidak menanggapinya. Begitu juga
surat yang dikirimkan kemudian oleh Biro Konsultasi dan Bantuan
Hukum Universitas Jenderal Sudirman sebagai kuasa Yayah yang
meminu diadakan autopsi. Jawaban Danres, pembedahan itu belum
diperlukan. Danres tetap yakin kematian itu akibat bunuh diri.
Keyakinan itu, selain dari para saksi, juga berdasarkan visum et
repertum dari RSU Purwokerto, 21 April. Yayah, katanya, baru
menerima salinan visum itu dua bulan kemudian.
Tapi orang tua Lina tetap curiga. Karena itu Yayah melapor ke
Kadapol Ja-Teng di Semarang, 11 Agustus lalu. Karena laporan
itu, Danres Banyumas 11 September, memerintahkan agar mayat Lina
digali dan bagian tubuh almarhumah dikirimkan ke Fak. Kedokteran
UGM Yogya.
Karena tidak ada kabar tentang hasil autopsi, Yayah tidak sabar
lagi. Ia mengadu ke Kapolri. Tetap merasa belum puas karena tak
dapat bertemu langsung dengan Kapolri, dia mengungkapkan
semuanya ke DPR awal November.
Danres Banyumas, Letkol Abimanyu, mengaku memang belum menerima
hasil bedah mayat itu. "Hari ini saya mengirimkan orang ke
Yogyakarta untuk menanyakannya," ujar Abimanyu Senin pekan ini.
Menurut Abimanyu, hasil autopsi itu memang tidak untuk
dipublikasikan, dan hanya untuk penyidikan polisi.
SAMPAI saat ini perwira menengah ini masih yakin kematian Lina
karena bunuh diri. Ia menganggap pem riksaan yang dilakukannya
sudah cukup, kecuali, katanya, kalau tim Mabak masih merasa
belum cukup. Abimanyu mengaku tak tahu apa hasil penelitian tim
itu. Bahkan, katanya, "bagaimana cara kerja mereka, saya tidak
tahu."
Orang yang sangat dicurigai Yayah Slamet Widodo, kata Abimanyu,
memang intim dengan Lina. Pada 17 April itu menurut Abimanyu,
Lina memang bersama Slamet. Tapi polisi ini membantah kedua
orang itu melanjutkan kencannya di bungalow Rosenda di tempat
peristirahatan Baturaden, sebagaimana banyak sumber memberikan
informasi kepada Yayah. Jadi apa sebenarnva yang terjadi antara
Lina dan Slamet. "Saya sekarang tidak mau berkomentar, sudah
ditangani Mabak," kata Abimanyu.
Slamet sendiri yang dikenal sebagai pengusaha toko kelontong di
Jalan Sudirman enggan memberi penjelasan. "Maaf mas, saya tidak
terlalu antusias menanggapi berita-berita itu. Saya anggap angin
lalu saja," kata Slamet melalui telepon kepada TEMPO. Ia mengaku
tidak bisa melayani pertanyaan lebih banyak, "karena maaf mas,
sedang ada polisi."
Tapi sumber TEMPO mengungkapkan, rumah tangga Slamet, 45 tahun,
memang kurang nyaman. Pengusaha yang termasuk besar di
Purwokerto itu menceraikan istrinya yang pertama, setelah
melahirkan 4 orang anak. Setelah itu ia kawin dengan seorang
asisten apoteker yang kini bekerja di Apotek Panti Waras--di
seberang toko kelontongnya--tempat Lina membeli racun nyamuk
itu. Konon, istri keduanya itu pun telah berpisah dengan dia.
|