Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XII/16 - 22 Oktober 1982
   
Lingkungan

Sungai musi pun tercemar

Air sungai musi mengandung racun, pt. pusri dituding sebagai biang keladinya, beberapa pabrik lainnya juga membuang limbahnya ke sungai tersebut. (ling)

PEMANDANGAN ini terulang kembali: banyak ikan mengambang di
Sungai Musi. Tanpa dikomando, orang Palembang pun menyerbu ke
sungai itu yang airnya surut akibat kemarau panjang. Ikan juaro,
baung, lampem dan sengarat yang mati atau megap-megap dengan
mudah bisa ditangkap.

Ikan di proyek percontohan Dinas Perikanan Sumatera Selatan di
Gandus mengalami nasib sama akhir September itu, Dua ton ikan
jelawat (leptobarbuhoeveni), patin (pangasius-pangasius),
kepiat (puntius scbwanefeldi), putak (notopterus-notopterus),
belida (notopterus chitala), gabus (ophiocephalus striatus) dan
juaro (pangasius polycoronodon) sebagian besar mati. Sekitar 400
kg masih hidup, tapi sampai pekan lalu tak doyan makan. "Ikan
itu mengalami stress. Fisiknya mungkin sudah rusak," kata
Amrullah Karim, Kepala Bagian Produksi.

Di pasar, harganya anjlok. Harga udang, yang biasanya Rp 1.200
per kg, turun menjadi Rp 750, dan ikan yang biasanya mencapai Rp
1.000 per kg, jadi separuh harga itu.

Memang banyak yang senang bisa panen ikan. Namun lebih banyak
lagi yang mengkhawatirkan ikan itu mati akibat limbah industri.
"Kalau ikan dan udang keracunan terus, payah hidup kami nanti,"
keluh Hamson, penduduk Selat Borang yang biasa memasang bubu.
Sekitar 400 kepala keluarga diperkirakan hidup sebagai nelayan
di Sungai Musi yang rnembelah Kota Palembang itu. Mereka
menghasilkan 165 ton ikan setahun.

Ondana, Kepala Balai Penelitian Perikanan Darat Palembang,
mendeteksi air Sungai Musi dengan alat spectro photoIneter. la
menjumpai kadar amonia 2,4 ppm, dan pada pendeteksian kedua tu
run menjadi 1,2 ppm. "Kalar amoniadi atas 1 ppm sudah
membahayakan organisma sungai terutama ikan dan udang," katanya.

Orang pun lantas menuding pabrik raksasa milik PT Pupuk
Sriwijaya (Pusri) sebagai biang keladinya. Kebetulan, dua pekan
sebelumnya banyak pula ikan yang mati di Sungai Musi. Dan
Januari lalu, salah satu katup pengaman gas amonia di Pusri IV
bocor. Beberapa penduduk RT 14, 15 dan 16 Kampung Hilir pingsan,
lainnya sesak napas atau batuk karena menghirup bau pesing.
Pihak Pusri sempat meminta maaf kepada sekitar 200 penduduk yang
memprotes.

Direktur PSL (Pusat Studi Lingkungan Hidup) Universitas
Sriwijaya, Tan Malaka, ketika itu menyatakan bahwa polusi amonia
pasti bakal terulang lagi.

PT Pusri sendiri mngakui bahwa dalam industri petrokimia,
kejadian serupa merupakan hal biasa, namun amonia yang keluar
dianggapnya masih dalam ambang batas yang bisa ditolerisasi.

Berproduksi 1,6 juta ton per tahun (1981), PT Pusri memang
menggunakan amonia sebagai bahan antara untuk menghasilkan pupuk
Urea. Untuk 1 ton Urea, amonia dikonsumsi sekitar 0,6 ton. Di
Pusri 1, semula tiga ton amonia terbuang percuma ke udara.
Setelah mesinnya dimodifikasikan, amonia yang bisa terambil --
untuk dimanfaatkan kembali (recover) sebanyak 2,24 ton, hingga
yang terbuang hanya 0,76 ton sehari.

Tapi Pusri membantah bahwa pabriknya yang mengakibatkan ikan dan
udang mati. Pembuangan limbah industri, menurut kepala Humasnya,
Sidik Agus, sudah diatur dengan cermat. Juga "amonia cukup mahal
harganya, sehingga kami sangat hati-hati mengelolanya."

Selama September lalu, Pusri berjalan normal. Dengan kata lain,
"tak ada pembuangan amonia secara khusus ke Sungai Musi." Sidik
Agus menunjuk kemungkinan lain: di musim kemarau ini -- di saat
pasang surut--bahan organis dalam sungai bisa membentuk unsur
amoma.

DIREKTORAT Penyelidikan Masalah Air, Bandung, pernah meneliti
Sungai Musi. Di bagian hulu--Gandus dan sebelah hulunya
lagi--dijumpai kadar amonia sekitar 0,7 ppm. Ikan yang mati itu
berada sekitar 20 km arah ke hulu (Gadus), dan 15 km arah ke
hilir (Mariana). Pada tempat sejauh itu, kata Sidik Agus, "kalau
betul berasal dari Pusri, amonia pasti telah larut atau
mengencer sehingga tak mengganggu lagi."

Pabrik Pusri ternyata bukan satu-satunya yang membuang limbah
industri ke Sungai Musi. Sepanjang Gandus-Mariana yang berjarak
35 km, terdapat beberapa pabrik lain yang menjadi sumber polusi,
seperti remiling karet dan pembuat lem kayu plywood. Tapi
sampai pekan lalu penyebab kematian ikan belum diketahui. Tan
Malaka berpendapat, penelitian mutlak diperlukan untuk
mengaitkan kematian ikan itu dengan suatu industri. PSL Unsri,
bekerja sama dengan PT Pusri, kini memang meneliti hal itu.

Sebenarnya ada lagi yang lebih meminta perhatian serius. Menurut
Tan Malaka, Sungai Musi--debit 2.000-3.000 m3 air per detik dan
kecepatan arusnya mencapai 2,8 meter per detik--bisa saja
mengalami perubahan yang nonalamiah sifatnya. Banjir, gajah
hijrah dan pencemaran merupakan indikasl hahwa Musi--Sumatera
Selatan umumnya? -- kini mengalami perubahan lingkungan yang
drastis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data