Parang & Cangkul Melawan Dengue Demam berdarah melanda malaysia, 34 orang meninggal, diadakan operasi secara serempak, who juga akan mengadakan vaksinasi serempak di asia tenggara. (ksh) |
NONA Liew, 22 tahun, sedang mncuci piring pukul 10 pagi di awal
Juli lalu. Tiba-tiba ia merasa demam. Atas nasihat neneknya, ia
menelan obat-obatan tradisional Cina. Ia merasa sehat kembali.
Tapi malamnya, demam itu menggerayangi tubuhnya lagi. Kali ini
lebih parah, sehingga keluarganya terpaksa membawa dia ke
klinik. Tapi perawatan di klinik itu tak menolong karena esok
paginya ia panas dan di balik kulitnya yang putih muncul
bintik-bintik merah. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter
bilang: "Ia kena demam dengue."
Berita demam dengue yang menimpa gadis Malaysia itu rupanya
menjadi percikan api yang cepat membakar seluruh Malaysia.
Mula-mula 5.000 penduduk Kampung Konthi di negara bagian Ipoh
yang panik, takut ketularan sebagaimana sudah terjadi pada Mei
(15 tahun), adik' Liew. Kengerian kemudian menyusup ke kota-kota
lain, seperti 60.000 penduduk Kota Jinjang. Seorang ibu saking
ngerinya cepat-cepat membuntel pakaian dan membawa dua anaknya
lari ke pegunungan. Ia tak tahu di seluruh negeri Malaysia sudah
diumumkan "kesusupan dengue."
Setiap hari ditemukan penderita dengue di Ipoh, Perak,
Selangor, Penang, Negeri Sembilan, Johor, Malacca dan Kelantan.
Jumlah penderita memuncak rata-rata 70 kasus sehari antara 22-28
Agustus. Sampai awal Oktober ini sudah menurun, tapi jumlah
korban sudah tercatat 2.800 lebih, 34 orang di antaranya
meninggal.
Jumlah korban demam dengue di Malaysia tahun ini memang jauh
lebih banyak dibanding korban tahun 1974 yang berjumlah 1.484
penderita (100 pasien lebih meninggal). Karena itu seluruh
negeri menyatakan perang melawan penyakit itu.
Penyakit demam dengue (dari istilah Spanyol danga) adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Kumannya masuk ke
dalam darah manusia pada tahap dini membuat "tuan rumahnya" kena
gejala-gejala demam. Tahap selanjutnya darah yang telah dimakan
virus itu menimbulkan pendarahan (bintik-bintik merah di bawah
kulit cirit berdarah, menstruasi berkepanjangan pada wanita
dewasa) dan muntah-muntah. Lebih jauh lagi penderita dibuatnya
gelisah, berkeringat dingin, rendah tekanan darah dan lemah
nadi. Paling parah kalau nadi tidak terasa lagi, tekanan darah
tidak terukur, lalu penderita kena shock dan akhirnya bisa
meninggal.
Demam dengue atau demam berdarah ini menular karena virusnya
dapat dipindah-pindahkan nyamuk dari orang ke orang, khususnya
nyamuk Afrika (aedes Aegypti). Tapi diduga bisa juga oleh nyamuk
Malaysia (aedes Albopicti). Maka pernyataan perang di seluruh
negeri Malaysia belum lama ini tertuju terutama pada musuh-musuh
nyamuk. Ribuan orang, tua muda, orang kampung sampai penghuni
istana Yang Dipertuan Agung mengangkat parang. cangkul, sekop,
sapu dan ala1apa saja menyerbu setiap pojok dan penjuru yang
diduga menjadi sarang nyamuk. Di mana-mana diadakan penyemprotan
ak-bak kamar mandi disucihamakan dengan abatisasi seperti
yang dilakukan di Jakarta Agustus lalu.
Tentara Malaysia mendapat perlawanan gigih di perkebunan karet.
Gara-gara harga karet merosot, petani getah malas menyadap
sehingga mangkul-mangkuk penadah getah berisi airnya kemudian
menjadi sarang ribuan nyamuk.
Bukan cuma di hutan karet. Juga dalam lemari es di rumah-rumah.
Banyak ibu rumah tangga shock setelah mengetahui dia
"memelihara" nyamuk dan kena denda karenanya. Antara lain 341
keluarga di Kampung Klang (Kuala Lumpur) kena denda dengan
tuduh memelihara nyamuk itu. Sebab di rumah mereka ada air
bersih tergenai yang menjadi tempat persemaian lama
jentik-jentik) yang siap menetas.
DI Malaysia, selain diberi vaksinasi, penderita juga disuruh
istirahat dengan tenang. Dukun-dukun pun diminta mencari resep
tradisional. "Obat Barat hanya untuk mengatasi gejala-gejalan
kasus dengue, karena belum ada ramuan khusus," kata Ketua
Asosiasi Pengobatan Tradisional Malaysia, Haji Radin Supathan,
sebagaimana dikutip koran Malaysia, New Straits Times (NST).
Penyakit dengue bukan cuma ada di Malaysia. Dalam kamus
kedokteran (Dorland's Illustrated Medical Dictionary Edisi Asia)
disebutkan juga sebagai demam berdarah di Asia Tenggara.
"Sebulan rata-rata saya menemukan satu dua pasien demam
berdarah," kata Fajar, 33 tahun, dokter di bagian penyakit dalam
RS Sumber Waras (Jakarta).
"WHO kini sedang berusaha menemukan vaksin dengue," kata
direktur organisasi kesehatan dunia (PBB) itu Prof. Nath
Bhamarapravati, di Bangkok sebagaimana dikutip NST! Rektor
Universitas Mahidol itu sudah 2 tahun memimpin tim terdiri dari
lima orang Thailand di RS Ramathibodi untuk menemukan vaksin
itu. Virus dengue menurut WHO dibedakan dalam tipe satu, dua,
tiga dan empat. Vaksinasi antidengue yang dijalankan WHO di
Bangkok baru untuk tipe satu, dua dan empat.
"Vaksinasi untuk tipe tiga yang, nmum di negara-negara seperti
Indonesia masih perlu penelitian lebih jauh," kata Prof. Nath
Bhamarapravati. WHO yang berkantor di Bangkok, menurut Prof.
Nath, merencanakan percobaan dengan vaksinasi serempak pada
5.000 sampai 10.000 orang di seluruh Asia Tenggara 12-18 bulan
mendatang. "Tapi saya masih menunggu usulan ahli virus dari
beberapa negara," katanya.
|