Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XII/26 Juni - 02 Juli 1982
   
Indonesiana

Protes

Wartawan unit polri sum-ut protes. karena imbauan penguasa, peristiwa tertentu tak dimuat, tapi koran Jakarta memberitakannya tanpa sangsi apa-apa.(ina)

PARA wartawan Medan yang bertugas di Kodak II Sumatera Utara
protes. Akhir bulan lalu selembar surat mereka layangkan pada
PWI Cabang Sum-Ut meminta organisasi ini mengambil sikap "demi
menjaga wibawa pers nasional di daerah" .

Apa soal? Rupanya kelompok yang menyebut diri Wartawan Unit
Polri (WUP) itu habis kesabarannya. Selama ini berkali-kali
mereka patuh menuruti "himbauan" penguasa setempat untuk tidak
menyiarkan beberapa peristiwa tertentu. Tapi nyatanya, berbagai
suratkabar Jakarta memuat juga berita itu.

"Peristiwanya di Medan, tapi masyarakat mendapat informasi dari
Jakarta. Akibatnya mereka menganggap kami sebagai wartawan yang
bodoh dan tak peka. Atau malahan bisa curiga, apakah kami
sengaja menyembunyikan peristiwa tersebut," ujar Rony Simon,
Ketua WUP di
Medan.

Rony menyebut beberapa contoh. Anak Pangdam I Iskandar Muda/Aceh
kedapatan membawa amunisi tanpa dokumen di Lapangan Udara
Polonia dan meninggalnya Asnah, wanita yang terkena peluru
nyasar ketika tiga anggota Polri terlibat tembak menembak dengan
sekelompok pemuda di Hotel Danau Toba Medan.

Kasus yang membuat WUP hilang sabar terjadi bulan lalu. Letkol
Pol Syahbuddin Siregar, seorang perwira di Kodak II Sum-Ut
kedapatan tewas - mungkin bunuh diri - di ruang kerjanya.
Buru-buru Letkol Dzahiry Daoed Kasi Pendak II Sum-Ut, secara
lisan dan tertulis mengeluarkan himbauannya. Dan seperti biasa,
para anggota WUP mematuhinya. Tapi lagi-lagi esoknya mereka
terpukul karena koran-koran Jakarta memberitakannya. Dan
ternyata pemberitaan itu tak menimbulkan akibat yang negatif.

PWI Medan ternyata sependapat dengan WUP. Protes itu mereka
teruskan ke Pangkowilhan I. Tak lupa mereka menyampaikan
tembusannya pada Menpen Dewan Pers, PWI Pusat Pangkopkamtib dan
sederet pejabat tinggi lainnya. "Kami melihat berbagai peristiwa
yang dihimbau itu tak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan
nasional, SARA atau bisa membahayakan keselamatan negara," kata
Anwar Efendi, Ketua PWI Sum-Ut.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data