Setelah 16 Orang Korban Restoran coca di jakarta terbakar. 16 orang hangus terbakar, satu luka parah dan satu luka ringan. kebakaran berasal dari pipa tabung minyak tanah yang bocor. (nas) |
SAMAN, 25 tahun, baru saja menghidangkan satu porsi udang goreng
cakwe bagi seorang tamu. Ini makanan favorit -- selain cah
teripang -- di restoran Coca Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat.
Malam itu rumah makan dengan luas lantai sekitar 250 meter
persegi, ramai seperti biasanya. Tamu yang kebanyakan keturunan
Cina, merasa nyaman duduk di ruangan ber-AC.
Kenyamanan itu terhenti ketika tiba-tiba terdengar ledakan.
Saman berlari ke pintu dorong, satu-satunya pintu menuju dapur.
Ia mendengar teriakan-teriakan histerius. Namun langkahnya surut
oleh kobaran api yang menghadang di pintu.
Di dapur, tepat di samping pintu berderet lima buah kompor tekan
dengan dua buah tabung minyak tanah masing-masing berisi 60
liter. Juga ada sebuah kompor gas Elpiji.
Delapan belas pekerja dapur jadinya seperti terkurung api pada
Senin malam pekan lalu itu, 16 orang hangus terbakar. Satu luka
parah dan satunva lukaringan. Salah satu pekerja dapur, Turino,
23 tahun, seperti mendapat mukjijat, karena seperempat jam
sebelum Coca terbakar sekitar pukul 20.00, seseorang
menyusulnya. Malam itu istrinya hendak melahirkan.
"Kalau tidak, saya sudah ada di peti itu," katanya pekan lalu
seraya menunjuk deretan peti mati di RS Cipto Mangunkusumo yang
berisi jenazah rekan-rekannya. Satu di antaranya adiknya
sendiri, Kojo. Ia lebih beruntung ketimbang Saman yang
kehilangan istri dan adik ipar beserta suaminya.
Ini merupakan kebakaran restoran yang terbanyak menelan korban
di Jakarta. Kepala Humas DKI, Ramona Ginting sampai geleng
kepala karena bangunan Coca yang berlantai dua ternyata tak
punya pintu darurat. Letak kompor yang berderet dekat pintu pun
mengundang pertanyaan. Soalnya, ketika pihak restoran mendapat
rekomendasi dari pihak Pemda DKI pada November 1979, kompor itu
terletak di pojok kiri. Jauh dari pintu. Juga tak disebutkan ada
kompor gas.
SEBUAH sumber bahkan menyebutkan, Coca semestinya belum bisa
beroperasi. Soalnya ia belum memproleh rekomendasi dari
Departemen Kesehatan, seperti disyaratkan dalam UU No.1/1970
tentang keselamatan kerja.
Kadispendak VII Letkol Pol. Z. Bazar menyatakan, kebakaran
berasal dari pipa tabung minyak tanah yang bocor. Jung Kwong
Liung, 69 tahun, pemilik restoran kini dalam pemeriksaan polisi.
Dan karena karyawan tak diasuransikan, kata Kepala Kanwil Bina
Lindung DKI, J.M. Situmorang, "musibah itu sepenuhnya menjadi
risiko pengusaha. "
Situmorang mengakui karena kurangnya tenaga, pihaknya memang
hanya bisa mengawasi keselamatan kerja di perusahaan industri.
Perusahaan kecil seperti restoran, "sering kami anggap enteng."
Ini yang membuat Wim Tambayong, Ketua Harian Persatuan Hotel
Restoran Indonesia (PHRI) prihatin. Sebab, kata Wim, justru di
perusahaan kecil sering terjadi kecelakaan di tempat kerja. Ia
menunjuk kebakaran pabrik petasan di Cengkareng tahun 1973, yang
menelan korban 50 orang lebih.
Kapolri Jenderal Awaludin Djamin di samping menyesalkan musibah
di restoran Coca itu juga mengharap kejadian itu bisa menjadi
pelajaran semua pihak.
Memang setelah kebakaran di dapur Coca, Sabtu pekan lalu ada
pertemuan pejabat yang berhubungan dengan keselamatan kerja,
dipimpin oleh Kepala Biro Ketertiban DKI. Rencananya akan
dibentuk tim untuk mengecek seluruh restoran, tempat mandi uap
dan klub malam.
|