Murid yang mesti dirayu Kelompok belajar yang didirikan mohamad intan peringatan,
mempergunakan paket a dari departemen p dan k. semua muridnya
adalah anak-anak kaum gelandangan. (pdk) |
UNTUK belajar mereka mesti dibujuk, dirayu, dibagikan makanan,"
tutur Mohamad Intan Peringatan. Pegawai Penilik Pendidikan
Masyarakat Dep. P & K itu telah membuka sekolah di rumahnya.
Semua muridnya, 10-15 tahun, adalah anak-anak kaum gelandangan
di kawasan Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Ada penyemir sepatu,
dan tak kurang pula yang berstatus pengemis.
Sekolahnya bukan sekolah formal. Lebih merupakan kelompok
belajar. Buku yang dipergunakan adalah Paket A dari Dep. P &
K--yang memang dibuat untuk kelompok belajar, suatu perkembangan
dari kursus buta huruf dulu. Biaya pada mulanya diambil dari
kantung Intan sendiri, kemudian ada bantuan Dep. P & K dan para
dermawan. Muridnya, tentu saja, belajar tanpa bayar.
Sandal Jepit
Kini sesudah empat tahun, usaha yang dirintis Intan berkembang.
Telah ada delapan tempat belajar, antara lain di Jl. Bungur
Besar, Pasar Gembrong, Pasar Gaplok dan Jl. Kenari. Semuanya
terletak di Kecamatan Senen. Jumlah murid seluruhnya 150. Intan
sendiri kini bak kepala sekolah yang memimpin 9 tutor. Semua
tutor adalah sukarelawan yang pernah duduk di sekolah menengah,
atau hanya lulusan SD. Seperti di Surabaya itu, seorang tutor
mendapat imbalan Rp 5 ribu saja sebulan.
Tujuh sekorah gelandangan itu dibuka pagi, 07.00 sampai 09.00
untuk anak-anak usia sampai 9 tahun. Dan kemudian, 10.00 sampai
12.00, untuk mereka yang 10 tahun ke atas.
Tentu lokalnya begitu sederhana, bahkan boleh dibilang jorok
untuk ukuran sekolah formal. Ada yang bekas bengkel, seperti
yang di Jl. Siliwangi II. Ada yang bekas gudang, seperti yang di
tepi rel kereta api Jl. Bungur Besar. Di sekitar ruang belajar
mereka biasanya berserakan kertas bekas, kotak karton yang sudah
kumal atau robek.
Di Jl. Bungur Besar itu ada dua tutor, Erni, 22 tahun, hanya
lulusan SD, dan Vera Sumarni, 16 tahun, pernah duduk di kelas
III SMP. Murid kepala Ibu Guru itu hanya bersandal jepit, kalau
tidak bertelanjang kaki. Ada ang memakai kemeja yang sudah
jelek dan coreng-moreng, bahkan tak sedikit yang hanya berkaus
singlet. Toh. dua Ibu Guru itu dengan sabar mengajar. "Ya,
sayang," atau "ada apa, saang," terdengar dari Bu Guru. "Kalau
lami tidak sabar," tutur Erni, "besoi nereka tak akan datang
lagi."
Kelas yang paling tinggi dari Sekolah Intan telah menggunakan
Buku Paket A jilid ke-16. Bila pelajaran telah mencapai buku
ke-100, menurut rencana Intan, anak-anak akan diikutkan ujian
akhir di sebuah SD Inpres di kawasan Senen. Dari Sekolah Intan
ini sekitar 40 anak telah disalurkan ketiga SD Inpres yang
terdekat letaknya.
|