Sutan mansur, buya yang lain Buya Achmad Rasyid Sutan Mansur, 86, tokoh penggerak
Muhammadiyah, adalah ulama besar yang hanya belajar di
pesantren. Beliau adalah ipar Hamka. (tk) |
PUKUL dua dinihari orang tua itu bangun. Tertatih-tatih ia
mengambil air wudhu: bersembahyang tahajjud, sembahyang tengah
malam. Setelah berdoa sebentar ia masuk kamar tidur lagi. Dua
jam kemudian ia bangun lagi, tertatih-tatih pula mengambil air
wudhu untuk bersembahyang subuh bersama keluarganya.
Seperti biasa, pagi itu ia makan telur rebus dan minum susu
panas sambil membaca -- selama lebih kurang satu jam. Kemudian
tidur lagi sampai pukul 10. Setelah mandi dan berpakaian ia
menerima tamu yang hampir setiap hari mengalir ke rumah di Jalan
Lontar, Tanah Abang, Jakarta Pusat, itu.
Sesudah makan siang dan sembahyang zhuhur bersama-sama, ia tidur
lagi. Dua jam kemudian bangun untuk salat 'Ashar. "Boleh dikata
ayah hanya bangun untuk sembahyang," kata salah seorang anaknya.
Siang hari kadang-kadang ia membaca atau asyik dengan hobi
soal-soal teknik. Kabarnya dia pernah membuat generator dan
dinamo sendiri. "Kalau sudah membetulkan mesin-mesin, ia tak
bisa diganggu," kata istrinya. Di saat uzurnya seperti sekarang,
sayang laki-laki tua itu tak bisa melaksanakan hobinya yang
lain, memancing. Kail berbagai ukuran, dia sendiri pula yang
membuatnya.
Selalu Melimpah
Itulah jadwal kegiatan Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur, terkenal
dengan nama A.R. St. Mansur, 86 tahun, sejak tiga bulan terakhir
ini. Ia adalah ulama besar dan salah seorang tokoh pergerakan
Muhammadiyah.
Sejak 1960 Sutan Mansur menderita komplikasi berbagai
penyakit--jantung, darah tinggi, rematik -- tapi baru tiga bulan
ini dia harus beristirahat total. Dokter pribadinya, Abdurrahman
Nurhay, menyarankan agar buya itu banyak tidur, lebih dari
sembilan jam sehari.
Meski begitu kegiatan ceramahnya jalan terus. "Biasanya kalau
saya ke manamana orang minta saya berceramah. Sekarang merekalah
yang datang ke mari," katanya dengan suara agak jelas setelah
mengenakan gigi palsu. Karena pendengarannya mulai berkurang, ia
dibantu oleh salah seorang anaknya, Hanif, sebagai juru bicara.
Ulama besar kelahiran Maninjau, Sumatera Barat ini, sejak 1959
-- sejak menjadi penasihat Muhammadiyah--setiap Minggu pagi juga
memberikan ceramah di Kantor Perwakilan Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat. Pengunjungnya
selalu melimpah. Ceramahnya terutama tentang ilmu tauhid.
Kumpulan ceramahnya sejak dulu sudah dibukukan misalnya Pokok
Pergerakan Muhammadiyah, Hidup di Tengah Kawan dan Lawan lauhid,
Ruh Islam. Beberapa di antaranya terbit tahun 40-an di Padang
Panjang. Majalah Panji Masyarakat belakangan ini sedang
mengumpulkan buku-buku utan Mansur cetakan lama dari beberapa
kolektor untuk dicetak ulang. Kini sekitar 10 judul buku
karangannya sedang dicetak.
Dalam ilmu tauhid, ia mengaku hanya punya satu-satunya guru,
ialah Doktor Karim Amrullah yang tak lain adalah ayahanda Buya
Hamka. Bisa dimaklum, sebab Sutan Mansur memang tamatan pesatren
milik Dr. Karim Amrullah di Maninjau. Selebihnya ia belajar
sendiri. Sementara itu Hamka almarhum sendiri pernah mengaku
berguru ilmu tauhid kepada Sutan Mansur. Kedua tokoh Minangkabau
itu mendapat julukan kehormatan buya karena diakui sebagai ahli
dalam ilmu agama.
Dalam buku Kenang-kenangan Hidup atau buku lain yang menyangkut
biografinya, Hamka tak lupa menyebut nama Buya Sutan Mansur.
"Sejak Hamka wafat beberapa waktu lalu, ayah selalu
sakit-sakitan," kata Hanif Rasyid, salah seorang anaknya.
Tentang Hamka, Sutan Mansur berkata: "Hamka adalah tangan kanan
saya. Tanpa Hamka saya tak punya tangan kanan."
Setiap Hari Raya Indulfitri, yang pertama kali dikunjungi Buya
Hamka adalah Buya Sutan Mansur. Dan sejak mengundurkan diri dari
Majelis Ulama Indonesia tempo hari, Hamka sering mengunjungi
Sutan Mansur. "Karena pendengaran mereka sudah sama-sama
berkurang, mereka lebih banyak hanya berpeluk cium dan saling
mencucurkan air mata," kenang Rusydi Hamka seorang anak almarhum
Hamka.
Persahabatan kedua buya itu rupanya sudah terjalin sejak kecil.
Bukan hanya menyangkut soal-soal agama, melainkan juga sampai
hal-hal yang remeh. Dulu, umat Islam belum terbiasa mengenakan
celana. Hamka sendiri masih memakai sarung, Sutan Mansurlah yang
pertama kali mengajaknya memakai celana panjang.
Hubungan kedua orang ini semakin rekat setelah Sutan Mansur
menikah dengan Fatmah Amrullah, satu-satunya putri Dr. Karim
Amrullah. Karena itu Buya Sutan Mansur adalah sahabat, guru,
pembimbing dan ipar bagi Buya Hamka.
Di rumah yang tak begitu luas di Tanah Abang itu, ia tinggal
bersama istri"!, Fatmah Amrullah, berikut dua ketiga anaknya.
Sekitar 20 jiwa menghuni rumah sederhana itu. Perkawinan
dengan Fatmah Amrullah membuahkan 16 anak, separuh di
antaranya meninggal.
Dari istri kedua, Fatmah Abdullah (menikah 1928), Sutan Mansur
mendapat lagi 11 anak, seorang di antaranya meninggal. Fatmah
kedua ini tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Di antara
anak-anak Sutan Mansur hanya tiga orang yang bergelar sarjana.
"Maklum, mereka semua lahir di masa perjuangan. Ketika itu tak
terpikir akan jadi apa. Masa itu bisa hidup saja sudah untung,"
kata Sutan Mansur.
Di rumahnya di Tanah Abang, tergantung beberapa foto keluarga,
termasuk foto Hamka dan Sutan Mansur sendiri. Ada pula sebuah
lukisan yang menggambarkan sebuah perahu terombang-ambing oleh
taufan dan badai. Lukisan itu mengandung makna, kurang lebih
menggambarkan kehidupan manusia di tengah-tengah gelombang
kehidupan. katanya.
Sutan Mansur sendiri lahir dari kcluarga besar. Ia anak ketiga
dari delapan putra-putri Haji Abdush-Shamad dan Sitti Abasiah.
Tapi sekarang tinggal tiga orang yang masih hidup. Nama Ahmad
Rasyid diberikan oleh ayahnya, sedang nama Sutan Mansur berasal
dari mertuanya, Dr. Karim Amrullah.
Karirnya sebagai orang pergerakan dimulai ketika menjadi anggota
Muhammadiyah di Pekalongan, Jawa Tengah (1923), yaitu "setelah
saya mempelajari Al Quran dan kehidupan Nabi," katanya. Tahun
itu juga ia diangkat menjadi ketua cabang. Delapan tahun
kemudian ia menjadi Wakil Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk
wilayah Sumatera Tengah.
Di tahun 40-an, di kalangan Muhammadiyah dikenal dua orang tokoh
yang sama-sama bernama Mansur. Yang seorang A.R. St. Mansur di
Padang, lainnya Kiai Haji Mas Mansur di Surabaya."Sutan Mansur
berpengetahuan dalam, Mas Mansur berpengetahuan luas. Apa yang
dirasakan Mas Mansur dipikirkan pula oleh Sutan Mansur. Saat itu
memang zaman keemasan Muhammadiyah," kata Rusydi Hamka.
Di zaman Jepang ia menjadi Konsul Muhammadiyah untuk seluruh
Sumatera. Puncak karirnya di organisasi ini adalah ketika dia
dua kali menduduki kursi Ketua Umum PP Muhammadiyah (1953-1959).
Dengan jabatan ini Sutan Mansur adalah orang luar Yogya pertama
yang menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah--sepanjang sejarah
organisasi itu. Sejak 1959 hingga kini ia menjadi penasihat PP
Muhammadiyah. Menurut Drs. Lukman Harun jurubicara PP
Muhammadiyah, "para pengurus. Muhammadiyah sampai sekarang
selalu berkonsultasi dengan beliau."
Sutan Mansur juga pernah mewakili Partai Masyumi sebagai anggota
Konstituante (1955-1959). Sebelumnya ia juga banyak bergerak
dalam kegiatan politik. Misalnya di zaman Jepang menjadi anggota
Cusangi-Ing dan Cusangi-Kai (semacam perwakilan rakyat). Ia juga
pernah menyandang pangkat Mayor Jenderal Tituler (1947-1949).
Sebagai salah seorang perintis kemerdekaan, kini ia mendapat
tunjangan sekitar Rp 80.000 sebulan.
Meskipun sudah sangat tua, Sutan Mansur masih selalu mengikuti
berita-berita terakhir, terutama yang menyangkut perkembangan
Islam. Tentang Iran misalnya. "Iran sekarang ini sedang bertukar
bulu. Nglungsungi, kata orang Jawa. Jadi harap dimaklumi kalau
belum bisa baik. Tapi kelak kalau bulu-bulunya yang baru sudah
tumbuh, Iran akan kembali seperti semula dan berjalan baik,"
katanya.
Pendapatnya mengenai "negara Islam" seperti Arab Saudi dan
Pakistan: "Selama ini belum ada negara yang sesuai dengan
keinginan Islam. Negara seperti itu mungkin baru muncul setelah
beberapa generasi lagi, setelah mereka benar-benar mempelajari
Al Quran dan Hadits". Tentang timbulnya perbedaan paham dan
munculnya beberapa kelompok di kalangan umat Islam Indonesia,
menurut Sutan Mansur, "dalam masalah iman mereka tetap bersatu."
|