Mencari Wajah Anak Indonesia Departemen Sosial bekerja sama dengan Biro Pusat Statistik
mengadakan penelitian terhadap kesejahteraan anak-anak, di
Jakarta. Dari soal rumah, makanan, ciri fisik anak sampai
tingkah laku anak. (nas) |
ANAK-anak Indonesia, di kota, di desa, di kaki gunung, di
pinggir pantai, apa kabar kalian?
Tiba-tiba pertanyaan itu seperti menyadarkan, bahwa data tentang
anakanak itu yang bukan sekedar angka-angka sebetulnya belum
ada. Padahal, siapa pun tahu, merekalah nanti yang berperan di
masa depan. Maka langkah kerja sama Dep. Sosial dan Biro Pusat
Statistik untuk meneliti kesejahteraan anakanak, yang dimulai
dengan penelitian di DKI Jakarta 20 Januari yang lalu, agaknya
memang diperlukan.
"Ini ide rame-rame dari Litbang Dep. Sosial tiga tahun yang
lalu," tutur Utari Utaryo, 46 tahun, yang mengepalai proyek ini.
Lanjutnya: "Sebagian besar penduduk Indonesia kini adalah
anak-anak. Mereka merupakan potensi pemikir dan pelaksana yang
kini masih mudah dibentuk. Itulah mengapa penelitian ini
diadakan."
Direncanakan semula 25 ribu daftar pertanyaan yang akan
disebarkan. Tapi keburu harga BBM naik, juga harga barang-barang
lain, kata Utari, terpaksa calon responden diciutkan menjadi 15
ribu. Dan biaya yang disediakan Rp 180 Juta.
Yang hendak diriset telah ditentukan, ialah antara umur 0-20
tahun dan belum manikah. Daftar pertanyaan itu sendiri terdiri
dari tujuh halaman. Pertanyaan cukup luas dan terperinci. Yang
dijadikan responden, tentu saja, memang bukan anak-anaknya itu
sendiri. Yang harus mengisi daftar adalah orang tua, guru dan
tetangga. Menurut Supranto, Kepala Kantor Statistik DKI yang
memimpin pelaksanaan riset ini di wilayahnya, tetangga juga
ditanya, ialah untuk mengecek kebenaran cerita orang tua
anak-anak. "Tentu tak semua orangtua bersedia menceritakan,
misalnya, ketelantaran anak-anaknya," katanya.
Pertanyaan itu sendiri, menarik. D,ari soal perumahan (luas
lantai, banyaknya kamar tidur, sumber air minum, kendaraan yang
ada sampai televisi), soal makan (makanan apa yang sering
dihidangkan, berapa kali makan dalam sehari), ciri fisik anak
(tingginya, buncit atau tidak, kaki besar atau kecil) sampai
tingkah laku anak sehari-hari cara berbicara, perihal
kebersihannya, teman bermainnya, minat belajarnya dan lain
sebagainya).
Dengan singkat bisa dijabarkan, tiga hal yang hendak diketahui:
yang berhubungan dengan segi fisik, segi pendidikan dan hubungan
sosial anak. Dari semua itu, 'lendak disimpulkan berapa anak
yang telantar, kondisi ketelantaran itu dan sebab-sebabnya,"
tutur Utari.
Perkumpulan Pengajian
"Akan diketahui nanti, apakah program pelayanan, pembinaan dan
penanggulangan anak-anak telantar kini sudah tepat," lanjut
lulusan IKIP Bandung dan University of the Philippines (UP) ini.
Tak hanya itu. Tiap desa dan kelurahan akan didaftar banyaknya
fasilitas bagi anak. Misalnya, perkumpulan Karang Taruna,
perkumpulan kesenian, perkumpulan pengajian atau kebaktian dan
lain-lain.
Pelaksanaannya itu sendiri secara serentak di semua provinsi
baru Februari. DKI Jakarta memang mendahului, dan direncanakan
penelitian lapangan makan waktu 20 hari untuk 500 responden
Cukup? "Responden akan diambil dari berbagai lapisan sosial,
hingga bisa menggambarkan keadaan anak-anak di DKI," jawab
Supranto.
Sebetulnya masing-masing Kantor Dinas Sosial telah pula
mempunyai dua orang Penilik Sosial untuk setiap satu kecamatan.
Tapi itu memang tak cukup untuk medeteksi keadaan anak-anak (dan
tugas Penilik Sosial itu memang tak terbatas mengurus
kesejahteraan anak). Walhasil data yang kemudian diperoleh
Kantor-kantor Dinas Sosial memang belum menggambarkan keadaan
sebenarnya.
Di DKI misalnya, data sementara anak-anak tuna wisma sekitar 10
ribu.
Anak-anak putus sekolah dasar (7-12 tahun) ada 27 ribu. Padahal
penampungan untuk anak-anak itu agar tetap memperoleh bimbingan
tak banyak. Panti asuhan di DKI hanya 37 buah dengan kapasitas
sekitar 3 ribu anak. Karang Taruna di DKI, yang bisa menampung
kegiatan anak dan remaja untuk mengembangkan diri, hanya kurang
dari 300 buah--itu pun tak semua aktif.
|