Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XI/16 - 22 Januari 1982
   
Nasional

Selamat Buat Polri

Oknum Abri banyak yang terlibat dalam perampokan bersenjata. Polisi mulai berhasil membongkar pelaku-pelakunya. Kasus perampokan di Jl. Suryopranoto, berhasil dibongkar dalam tempo 16 jam. (nas)

AGAK mengagetkan. Presiden Soeharto 1 Januari lalu secara khusus
memberi ucapan selamat kepada Kadapol VII/Metro Jaya, Mayjen
Anton Sudjarwo. Pasalnya: polisi berhasil membongkar kasus
perampokan Rp 32 juta di Jalan Suryopranoto, Jakarta 30 Desember
1981 hanya dalam tempo 16 jam. Sehari kemudian Pangkopkamtib
Laksamana Sudomo dan Kaskopkamtib Jenderal Widjojo Soejono
mendatangi markas Anton untuk mengucapkan selamat.

Prestasi polisi kali ini memang pantas mendapat pujian. Dengan
ditangkapnya 7 kawanan perampok itu, polisi juga bisa mengungkap
rentetan perampokan di berbagai tempat di Ibukota. Komplotan
yang digulung pada akhir tahun itu mengakui pernah melakukan
sedikitnya enam kali perampokan dan berhasil menyikat uang Rp 95
juta.

Penangkapan komplotan perampok ini juga membuka tabir adanya dua
orang oknum ABRI yang terlibat. Kedua orang anggota ABRI yang
masih aktif itu masing-masing Pelda S dan Peltu K. "Perintah
Menhankam /Pangab jelas. Pecat dan hadapkan ke pengadilan dua
anggota ABRI yang terlibat itu," kata Sudomo ketika mengunjungi
Kodak VII/Metro Jaya. Polisi juga menyita-kecuali sejumlah uang
hasil rampokan-tiga pucuk pistol organik ABRI masingmasing
Vickers kaliber 9 mm, FN45 dan revolver S & W kaliber 38 yang
dipakai merampok. "Senjata itu ternyata tidak terdaftar,"
komentar Sudomo. Namun ia bertekad untuk menindak tegas oknum
ABRI yang "main api" dalam kejahatan.

Pengungkapan keterlibatan oknum ABRI dalam perampokan juga
terjadi di daerah-daerah. Menjelang datangnyaTahun Baru 1982,
Pratu W dari Resimen Tempur Kodam VII Diponegoro bersama
komplotannya mendobrak sebuah toko di Desa Wonoyoso, Klepu,
Ungaran, Semarang. Pemilik toko tidak berkutik dan membiarkan
hartanya dua sepeda motor, perhiasan dan uang tunaiRp 1,8 juta
disikat. Polisi, hanya satu jam sesudahnya, berhasil menangkap 2
dari 4 kawanan perampok itu berikut sepucuk F46 lengkap dengan
magasen berisi 11 peluru, kartu pengenal anggota TNI-AD dan
hasil rampokan.

Kisah serupa terjadi di Cimahi, JaBar. Toko emas "Macan" milik
Mao Sen Cheu, 24 Desember lalu didatangi dua orang berbadan
tegap. Sambil menodongkan pistol, perampok itu mengancam "Awas,
berteriak saya tembak. " Mao, karena ketakutan berusaha menyuruk
ke bawah meja dan pada saat hampir bersamaan, door . . . sebuah
peluru menembus dadanya. Kawan perampok dengan sigap menguras
sekitar 1,5 kg emas yang dipajang di etalase. Polisi dan Kodam
Vl/Siliwangi akhir minggu lalu berhasil menangkap dua pelakunya.
Menurut sumber TEM PO di Kodam Vl/Siliwangi, salah seorang
pelaku adalah anggota ABRI. Senjata yang dipakai: FN45. "Hasil
sementara, senjatanya memang senjata organik milik ABRI," kata
sumber itu.

Polisi Sum-Ut juga pusing menghadapi ulah perampok bersenjata
api. Salah seorang pentolan yang diduga mempunyai peranan besar
dalam serangkaian perampokan ialah Usman Bais, bekas anggota
ABRI, terakhir berpangkat sersan mayor dan telah dipecat Mei
1981. Tahanan Kodam II/Bukit Barisan ini sekarang dipinjam Kodak
"II/Sum-Ut untuk pengusutan. "Pemeriksaan terhadapnya erat
hubungannya dengan perampokan akhir-akhir ini," kata Kasi Pendak
11, Letkol Pol. Dzahiry Daoed pada TEMPO.

Usman diduga aktif merampok sejak 1976 dan mempunyai komplotan
yang ditakuti masyarakat Sum-Ut. (TEMPO, 26 Desember 1981).
Selain itu, polisi juga memerlksa Kopral Polisi F. Siahaan yang
dicurigai menyewakan pistol Colt miliknya untuk merampok. Bandit
Sum-Ut memanfaatkan berbagai cara untuk memperoleh senjata
anggota ABRI. Salah satu cara: memikat anak-anak anggota ABRI
itu dengan imbalan menarik untuk mencuri senjata ayahnya.

Tergoda Setan

Kisah perampokan dan kejahatan dengan senjata api organik milik
ABRI-entah dipakai sendiri oleh pemiliknya atau sewaan -- belum
terungkap jelas di beberapa tempat. Misalnya polisi berhasil
menangkap perampok dengan Colt 38 dan senjata tajam di Boyolali,
JaTeng 30 Desember lalu. "Menurut pengakuan, senjata api yang
digunakan hasil pinjaman dari anggota ABRI," kata Letkol
Soeprapto, Kadispendak IX/JaTeng.

Mengapa gejala terlibatnya oknum ABRI dalam kejahatan ini
menonjol?

"Namanya manusia. Bisa saja imannya tidak kuat," kata Kapendam
V/Jaya, Letkol 1. Haridhon pada TEMPO. Menurut catatannya,
tidak banyak anggota Kodam V/Jaya terlibat kejahatan. "Yang
merampok Rp 32 juta itu juga bukan dari Kodam V/Jaya," ucapnya.

Pangdam V/Jaya Mayjen Norman Sasono pernah menyebut jumlah
pelanggaran--termasuk kejahatan--yang dilakukan anggota Kodam
V/Jaya seba.lyak 400 buah selama 1981. Jumlah ini lebih kecil
dibandingkan dengan 1980 yang sebanyak 600 buah. Untuk mencegah
anak buahnya tidak nyeleweng, Norman menginstruksikan
pembantunya memperketat disiplin. "Senjata diberikan hanya
kepada yang membutuhkan dalam tugas pengamanan," kata R.
Haridhon. Kecuali itu, jam kerja dan latihan juga diperketat
sehingga mengurangi ruang gerak anggota ABRI untuk ikut merampok
segala.

Polisi juga mencatat angka yang menurun drastis dalam soal
pelanggaran oleh anggotanya. Tahun 1981 tercatat 1.464
pelanggaran --baik hukum maupun disiplin --sedang selama 1980
ada 3.624 kasus. "Tahun lalu, sedikit sekali anggota polisi
yang terlibat tindak pidana. Tidak sampai 50 orang," kata
Kadispendak Mabak Brigjen Pol. Darmawan pada TEMPO. Ia tidak
menutup mata pada adanya anggota Polri atau ABRI yang nekat ikut
menggarong. "Syarat masuk ABRI paling sedikit lulus SD dan
berusia 18 tahun. Biasanya, anak lulus SD berumur 14 tahun. Nah,
selama 4 tahun menganggur itu bisa saja ada yang menjadi
maling," katanya.

Tampaknya memang sulit mengontrol agar anggota ABRI tidak
menyeleweng. "Sistem administrasi sering belum mendukungnya,"
kata seorang perwira menengah Kodam VI/Siliwangi. "Pemeriksaan
berapa peluru yang dipakai seseorang saja sulit diawasi,'
tambahnya. Kesulitan sama juga terjadi dalam hal penggunaan
senjata. "Sebagai manusia, anggota ABRI pun tidak luput, mudah
tergoda setan," katanya lagi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data