Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XI/09 - 15 Januari 1982
   
Tokoh

Samin di sela-sela batu candi

Samin, pensiunan pegawai kantor suaka, sejarah dan purbakala prambanan, yogya, sanggup membuat maket candi-candi, dibantu oleh kedua anaknya. (tk)

IA mengaku dapat membuat candi semegah Prambanan dan sebagus
Borobudur. Tapi karena dalam beberapa abad terakhir ini tak ada
candi baru yang dibuat, Samin hanya menyalurkan kemampuannya
sebagai pembuat maketmaket candi.

Ia menilai candi-candi yang ada, seperti Borobudur, Prambanan,
Mendut, bukanlah hasil karya yang sempurna. Karena menurut
Samin, di bagian-bagian tertentu pada candi-candi itu banyak
terdapat tatahan dan ukiran yang kasar. "Itu artinya bagian tadi
dikerjakan oleh setengah tukang, bukan tukang," tutur Samin, 57
tahun.

Pensiunan kantor Suaka, Sejarah dan Purbakala Prambanan, Yogya,
itu memang sudah membuktikan kemampuannya membuat candi-candi
mini, berupa maket-maket dari kayu. Selain menghias berbagai
kantor instansi pemerintah di Indonesia, maket-maket candi
buatannya juga sudah ada di Jepang, Rusia, Amerika Serikat, dan
berbagai negara Eropa. "Dan sekarang saya sedang mengerjakan
pesapan empat instansi pemerintah kita berupa kompleks candi
Borobudur, Prambanan dan Plaosan," kataayah dari tujuh dan kakek
dari dua orang cucu itu.

Modal membuat satu maket candi ternyata tak sedikit. Termasuk
meja jati untuk dudukan maket, berikut bahan-bahan lainnya,
sebuah maket dapat mencapai Rp 400.000. Bahkan dapat mencapai Rp
1 juta, "tergantung skala yang diminta." Satu maket Borobudur
berskala 1:100, misalnya, Samin menetapkan biaya Rp 1 juta,
Prambanan Rp 800.000 hingga Rp 900.000. "Karena saya tak punya
modal, tiap pesanan saya mintai uang muka, paling sedikit
separuhnya," kata laki-laki itu.

Untuk menyelesaikan satu maket diperlukan waktu berbulan-bulan.
Dengan bantuan dua orang anaknya (Subiyanto dan Sugiyono) maket
Prambanan paling cepat diselesaikannya dalam waktu 5 bulan.
"Sedangkan candi Borobudur 6 bulan, karena rumit dan candi itu
berlapis enam," ungkap Samin.

Putra seorang ahli (empu) memperbaiki barang-barang purbakala
milik Kraton Cirebon ini, di waktu kecil sering menyertai
ayahnya memperbaiki barang-barang purbakala di Balaikota
Cirebon. Sang ayah, Sudomo (almarhum) ternyata dengan cepat
mengenal minat si anak. Karena itu ia mengusulkan kepada
penguasa Kota Cirebon waktu itu agar anaknya diberi kesempatan
memperdalam seni ukir. Usul ini ternyata diterima, Dan Samin pun
(tahun 1938) dikirim ke Yogya, belajar seni ukir di Museum
Sonobudoyo Yogya.

Tak lama setelah kembali dari Yogya Samin muda- memasuki sekolah
pertukangan di Jakarta. Dan di kota ini pula (tahun 1941) ia
bekerja di Dinas Purbakala.

Tapi di Jakarta rupanya tenaga Samin tak banyak dibutuhkan.
Tahun 1941 itu juga ia dipindahkan ke kompleks Candi
Prambanan--dan terus di sana sampai pensiun beberapa tahun lalu.

Goyang

Di Prambanan ia mula-mula bekerja sebagai pemahat dan pengukir
batu. Kemudian pindah menjadi tukang ukur candi. Tahun-tahun
sebelum pensiun, Samin adalah pimpinan pelaksana Pemugaran Candi
Prambanan. Dan karena bertugas sebagai juru pugar inilah dia
makin banyak mengenal seluk-beluk candi.

Kompleks Prambanan yang waktu itu berantakan, karena batu-batu
candi berserakan, tiap hari ditelitinya. Ia mencoba menyusun
batu-batu itu--jika tak cocok dicarikan pasangannya yang asli
hingga pas. "Kalau bukan pasangannya yang asli, susunan batu itu
akan goyang bila disetel," ungkap Samin. Dan jika masing-masing
batu telah menemukan pasangannya, seperti bentuk semula, barulah
disktets, diukur dan akhirnya digambar.

Kepandaian Samin membuat skets dan menyusun batu-batu candi itu,
dimanfaatkan pimpinan Dinas Purbakala untuk menugasinya membuat
maket-maket candi dari kayu. Maket kecil itu mudah dibawa ke
mana-mana untuk dipamerkan.

Mulai saat itu Samin dikenal sebagai pembuat maket. Dan pesanan
pun berdatangan dari mana-mana, terutama dari kantor-kantor
Dinas Purbakala. Setelah ia pensiun, pesanan pun bertambah.
"Malahan saya sering menolak pesanan, takut tak dapat
menyelesaikannya pada waktu yang ditetapkan pemesan," kata
Samin.

Samin dan anak-anaknya bekerja di teras rumah di Desa Bener,
Kecamaun Prambanan, 1 km di utara candi Prambanan. Rumah
sederhana itu adalah sewaan. Ditambah dengan uang pensiun Rp
80.000 sebulan, penghasilan Samin sebagai pembuat maket agaknya
cukup mewah dibanding tetangga-tetangganya di desa itu.

Barangkali karena itu ia sudah bertekad tak ingin membawa
keluarganya kembali ke kampung halaman, di Cirebon. Lebih-lebih
karena ia ingin agar anaknya, Subiyanto, 20 tahun, mendapat
kesempatan memperdalam seluk-beluk tentang candi. "Sebab anak
itu sudah mempunyai keahlian tentang candi hampir sama dengan
saya," katanya sambil memperbaiki setelan radio yang selalu
menemaninya selama jam-jam bekerja.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data