Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XI/09 - 15 Januari 1982
   
Tari

Di banyuwangi ada gandrung

Tari gandrung asal banyuwangi, salah satu bentuk hiburan rakyat/tari tradisional. pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 bagian: jejer, ngrepen dan seblang subuh. (tr)

DI Jawa Barat ada ketuk tilu, di Jawa Tengah ada tayub. Dan di
Banyuwangi ada gandrung.

Jenis tari yang kini -- konon -- menjadi kebanggaan Kabupaten
Banyuwangi ini, memang termasuk tari-tarian syur. Rombongannya
biasa berkeliling dari desa ke desa. Sesuai dengan napas tari
yang nikmat-memikat, biasanya gandrung laris ditanggap orang
sekitar malam purnama. Terutama bila ada hajatan, tentu. Dan
itulah yang diperagakan di Teater Arena Taman Ismail Marzuki,
Jakarta -- bersama angklung dan drama -- tradisi Damarwulan -- di
malam kesenian rakyat Banyuwangi 22-23 Desember 1981.

Menjadi penari gandrung tidak gampang. Ini sebuah profesi.
Seorang penari gandrung memperoleh rezekinya dari menari. Ia
ditanggap untuk perhelatan dengan imbalan cukup tinggi untuk
ukuran setempat. Ia malah sekaligus jadi pimpinan grup, dan
membayar para tukang panjak (pemusik) dari imbalan yang
diterimanya.

Si wanita penari gandrung punya stamina tinggi ia harus mampu
semalam suntuk menemani menari (dan memenuhi pilihan lagu
segenap tamu pria yang hadir yang tak henti-hentinya turun ke
arena dari pukul 20.00 sampai pukul 05.00.

Tari gandrung pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian
jejer, ngrepen dan seblang subuh.

Jejer adalah pembukaan. Penari menari sendirian, di tengah arena
perhelatan yang di desa berupa bangunan sementara yang disebut
terob atau tarub. Ga.melan yang mengiringi dua gendang (lanang
dan wadon alias laki dan perempuan, dua ketuk atau kenong, dua
biola, satu gong dan sebuah kluncing atau iming-iming.

Pemain kluncing sekaligus bertugas melawak. Fungsinya memberikan
selingan -- dengan gerak tari, teriakan, omongan dan nyanyian
yang lucu. Peranannya mirip bodor yang biasanya juga memainkan
kecrek dalam pertunjukan Topeng (Babakan) Cirebon, Jawa Barat.

Pada bagian kedua yang disebut ngrepen, mula-mula penari
mengalunkan beberapa lagu selingan sambil duduk di antara para
panjak. Setelah sejenak menari bersama tukang gedog, dengan
iringan nyanyian pendek (ranginan) ia mendatangi salah seorang
tamu dengan membawa sebuah talam berisi empat sampur. Tamu yang
didatangi--tentu pembesar, atau orang kaya--akan mempersilakan
gandrung duduk di dekatnya untuk menyanyikan satu-dua buah lagu
pilihannya. Lalu meletakkan amplop sumbangan ke talam, dan
mengambil keempat sampur--kemudian menari bersama si gandrung.

Si Oom yang terpilih ini, yang disebut pembunuh, membagikan
ketigasampur yang lain kepada teman-teman terdekat yang akan
menyertainya menari. Dan bila berkenan di hati, lagu dapat
dirninta diulang--dan uang tambahan dapat diberikan langsung
kepada penari.

Adegan tari tamu pria dan penari inilah yang jadi inti seluruh
pertunjukan gandrung. Dan bila fajar menyingsing, sampailah
acara pada adegan terakhir: sblang subuh. Kini penari gandrung
kembali berdiri menari di tengah arena, sambil menyanyikan
lagu-lagu sendu. Perlahan-perlahan ia bergerak--suasana tenang
dan sakral--sangat kontras dengan suasana semalaman yang syur.
Pada saat ini pula para ibu biasanya telah bangun, dan menonton
bagian akhir dari kejauhan. Orang-orang santri pada sembahyang.

Syahdan, tari yang merupakan salah satu bentuk penggabungan
kesenian Jawa dan Bali ini, konon sudah dikenal sejak masa
Majapahit. Namanya waktu itu memang bukan gandrung, tapi -- agak
aneh kedengarannya -- juri i angin. Di masa-masa lalu penarinya
malah bukan wanita asli -- tapi remaja pria, umur belasan tahun,
yang berdandan wanita.

Nyrempet Bahaya

Zaman bergeser, gandrung berubah. Agaknya wanita palsu tak lagi
cukup menarik. Etika pergaulan laki-perempuan sendiri dirasa
semakin longgar. Maka menjelang abad ke-20, tak diketahui
persis siapa pengusulnya, beberapa rombongan tari gandrung
benar-benar menampilkan penari cewek. Masyarakat-para prianya,
Iho ternyata lebih demen, tentu saja.

Jelas: ini tari yang nyrempet-nyrempet bahaya. Karenanya
beberapa kali mendapat perhatian khusus. Misalnya, beberapa lagu
pengiring yang ternyata sangat "panas" dikenai himbauan untuk
tak dibawakan. Lagu itu antara lain Keok-keok (suara ayam jantan
kalah "berlaga") dan Paitpait (konon menggambarkan gerak-gerik
seorang "raksasa gagah"). "Memang, Mas, dua lagu itu seperti
merangsang kita berbuat begituan," kata seorang penggemar
gandrung.

Biasanya rombongan gandrung terdiri dari seorang penari wanita
yang cakep, enam penabuh dan seorang juru rias. Kini, meski
gandrung dikatakan jadi "kebanggaan", susah dicari penarinya.
Rajuli, anggota rombongan gandrung dari Desa Munggir, Rogojampi,
mengakui ini.

Masalahnya meski honorarium bagi rombongan gandrung semalam
suntuk masih cukup tinggi (kini Rp 40 - 50 ribu), dan hak penari
gandrung hampir separuhnya sendiri, "kalau bukan benar-benar
keturunan penari gandrung, tidak akan malu," kata Rajuli. Lagi
pula makin jarang orang menanggap gandrung. Masyarakat itu
berubah lho.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data