Dari batin seorang rakyat Citrowaluyo, seorang pelukis tua di sebuah kampung di solo. ia
melukiskan babad tanah jawa, cerita rakyat dan legenda. tidak
punya koleksi pribadi, sering "pameran" di perayaan
tradisional. (sr) |
DI sebuah kampung di batas selatan Kotamadya Solo, legenda dan
cerita rakyat Jawa diabadikan. Dengan cat bubuk dicampur lem
ancurlin, dengan kuas dari rambut manusia, kisah-kisah itu
diwujudkan ke kertas oleh seorang tua bernama Tjitrowalujo.
Dalam rumah berukuran 6 x 4 meter, berdinding gedek, berlantai
tanah dan tanpa listrik napas senilukis rakyat (Jawa) masih
berdenyut, sunyi, dalam diri orang tua 70-an tahun.
Dalam percaturan senilukis kita masa kini, jenis kesenian ini
boleh dikata terlupakan. Bukan saja karena di Jawa Tengah
sendiri --bahkan di daerah Solo dan Yogya--pelukis rakyat
seperti Pak Tjitro sudah jarang ditemukan. Tapi seakan memang
ada kesombongan senilukis modern kita untuk menengok ke arahnya.
Sebagaimana senilukis tradisional Bali, sumber ilham
Tjitrowalujo pertama-uma cerita wayang. Tentu saja wayang yang
digambarnya bukan wayang orang, tapi yang kulit. Dan seperti
senilukis tradisional di mana pun, yang telah hidup dan
berkembang di zaman ketika ilmu perspektif dan anatomi belum
diketahui, karya Pak Tjitro cenderung dekoratif. Juga naif,
melupakan detail. Yang digambar terutama ide pokok. Misalnya itu
manusia, tak penting benar lekuk garis pada leher atau keriput
muka. Asal tak salah dilihat sebagai gambar kera, cukuplah.
Juga seperti senilukis tradisional di Persia, India atau Bali,
boleh dikata kehadirannya lebih menyampaikan cerita daripada
demi keindahan visualnya itu sendiri. Pengambilan adegan menjadi
penting.
Misalnya saja, Pak Tjitro lebih suka menggambarkan kisah Jaka
Tarub justru ketilca Nawangwulan, bidadari yang dipaistrinya,
meninggalkannya. Nampak Jaka Tarub menggandeng anaknya di
pinggir sungai, menyaksikan Nawangwulan terbang ke langit.
Sementara si anak melambaikan tangan. Lukisan satu ini--entah
telah berapa kali dibikinnya -- sebetulnya menunjukkan bobot
Tjitrowalujo. Kebanyakan pelukis, bila mengambil tema Jaka
Tarub, yang digambar tak lain adegan ketika Jaka mencuri pakaian
bidadari yang sedang, mandi di telaga.
Makhluk Halus
Yang menarik ialah lukisan-lukisannya yang menggambarkan orang
mencari pesugiban. Ialah ilmu mencari kekayaan dengan "bersekutu
dengan makhluk halus", menurut-kepercayaan, dengan segala
tumbalnya.
Tapi diakui oleh orang tua yangtak bicara bahasa Indonesia ini,
lukisan pesugihan dibuatnya khusus memenuhi pesanan. Dari siapa?
Wah, ternyata dari para tukang jual obat kaki lima.Gambar-gambar
itu mereka manfaatkan untuk bercerita yang bukan-bukan buat
menarik orang--sebelum ia menawarkan dagangan.
Dan jangan kaget, meski hampir tiap hari Pak Tjitro berkatya, ia
tak memiliki koleksi pribadi. Setiap lukisannya mesti terjual.
Kalau toh ada dua-tiga di rumahnya, tentulah itu belum diambil
si pemesan. Atau kalau ada setumpuk lukisan jadi, tentulah ia
sedang mempersiapkan diri untuk "pameran" di sebuah perayaan
tradisional di desa tertentu. Misalnya, tiap Sapar ia ke
Jatinom, Klaten, karena di situ ada cara ziarah tradisional pada
makam seorang sesepuh. Dan kini ia sedang mempersiapkan menjual
lukisannya di perayaan Sekaten, entah di Solo atau Yogya awal
bulan ini.
Tentu saja cara dia berjualan persis seperti pedagang kaki lima
itu. Dia gelar tikar di antara penjual es, makanan dan
lain-lainnya, dan lukisan dijajarkan. Harganya? Ya menurut
ukuran kertas atau karton yang digambarinya. Makin lebar makin
mahal. Paling besar biasanya hanya 70 x 50 cm, dan itu Rp 500
(lima ratus rupiah). Bukan model lukisan batik Amri Yahya yang
bisa berharga jutaan.
Dari cara ia menjual lukisan itu bisa diketahui siapa
kolektornya. Kira-kira: masyarakat pinggiran yang masih suka
kebatinan atau wayang.
Sebetulnya semasa sekolah angka loro dulu, sekolah zaman Belanda
untuk pribumi, ia bercita-cita menjadi carik gadai. Tapi entah
kenapa ia hanya sampai kelas 3 -- makanya tak bisa membaca huruf
latin. Toh, kesungguhan untuk hidup membuatnya menemukan jalan
mencari makan. Lepas dari oran tua, ia membuat wayang-wayangan
dari karton, dijualnya kalau ada pertunjukan wayang kulit.
Tapi sesudah kemerdekaan pembeli wayangnya menyurut. Ia pun
prihatin. Sebagai orang Jawa ia tirakat: makan hanya nasi dan
minum hanya air putih, sering tidur di tepi sungai atau di
kuburan "keramat". Sampai ia mendapat guru kebatinan. Dari
dialah perbendaharaannya tentang cerita rakyat dan babad tanah
Jawa diperolehnya, dan ternyata menghidupinya, hingga ia
berkeluarga dengan seorang anak perempuan dankini tujuh cucu.
Keyakinannya memang teguh: tidak mungkin Yang Maha Kuasa
mengadakan dirinya tanpa diberinya jalan rezeki.
Orang tua yang rambutnya telah memutih semua, tapi tubuhnya
masih kukuh dan matanya masih awas ini, memang nampak
optimistik. Dengan tetangga-tetangganya ia pun bergaul akrab --
dan menurut mereka ia sama sekali "tidak nyeniman". Kini ia
hidup sendiri: anaknya ikut suaminya, sedang istrinya telah
diceraikannya. Ia juga masih membibit tanaman hias dan beternak
ayam kecil-kecilan. "Saya melukiskan yang ada dalam batin,"
katanya. Dan ia tak canggung melayani pesanan siapa saja.
|