Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XI/09 - 15 Januari 1982
   
Selingan

Berikan Kepada Anak-Anak Dunia Mereka

Pengaruh positif pada anak-anak (di AS) yang bekerja. a.l : bisa menghargai uang, meluaskan pergaulan dengan orang dewasa. th 1974 dibentuk sebuah komisi coleman, khusus membicarakan masalah ini. (sel)

BURUH anak-anak? Di Amerika Serikat? Bukan hal yang asing
ternyata. Tapi sampai-sampai sebuah komisi tingkat kepresidenan,
1974, dibentuk di negeri makmur itu khusus membicarakan masalah
tersebut. Komisi ini kemudian dikenal dengan nama Komisi
Coleman. James S. Coleman, ahli ilmu-ilmu sosial Amerika
terkemuka, memang duduk sebagai penasihat Presiden bidang ilmu.

Tapi yang dicatat Komisi-Coleman pertama kali ialah: adanya
pengaruh positif pada anak-anak yang bekerja. Antara lain: bisa
menghargai uang, meluaskan pergaulan dengan orang dewasa. Dan di
samping mereka bisa belajar, juga terhindar dari kenalan dan
ulah tidak karuan.

Berdasar pertimbangan itu Komisi lantas menyusun sebuah program
sekolah-bekerja yang disodorkan ke sekolah-sekolah di Amerika.
Dianjurkan supaya diikuti. Program itu pada dasarnya petunjuk
untuk penyusunan waktu -- hingga seorang anak bisa bekerja di
samping sekolah -dengan mengubah waktu-waktu sekolah sendiri dan
menyesuaikan jam kerja dengan waktu-waktu tersebut.

Yang jadi sebab kegawatan itu: ternyata anakanak yang bekerja di
sana meningkat luar biasa jumlahnya belakangan ini. Khususnya
pada 25 tahun terakhir -- yang menurut statistik paling tinggi
sepanjang sejarah Amerika. Dari sebuah penelitian terhadap para
pelajar high school (SLTA) diketahui, 50% dari mereka bekerja.

Dan kerja anak-anak ini ternyata tidak tepat disebut sambilan.
Ratarata 14 jam seminggu (lima hari, aras hampir 3 jam sehari.
Lho. Jangan dibandingkan dengan anak-anak yang bekerja di
Indonesia, yang memang melulu bekerja. Itu sih lain. Tapi di AS
itu, terdapat pula mereka yang bekerja lebih dari jam
tersebut--dan umur mereka di bawah 14 tahun.

Tak heran bila, kendati Komisi Coleman menyebutnya positif,
berbagai kekhawatiran muncul. Masih banyak saja yang berpendapat
masa kanak-kanak dan remaja adalah masa mencari kepandaian,
meluaskan pengetahuan dan upaya-upaya sejenis. Pendapat ini
tentu sedikit mengabaikan "ketrampilan kerja".

Maka ketika pro dan kontra berseliweran, pada 1978 dua orang
psikolog membuat penelitian. Mereka, Ellen Greenberger dan
Laurence Steinberg, menghasilkan data yang sampai kini masih
terbilang yang paling sistematik dan paling dipercaya. Dalam
waktu dekat hasil tersebut akan muncul sebagai bagian utama
sebuah buku yang akan terbit: Working Kids on Working.
Pengarangnya, wartawati Sheila Cole, menambahinya dengan
beberapa wawancara.

Seperti dikatakan Sheila, Greenberger dan Steinberg ternyata tak
seberapa senang melihat anak yang bekerja. Bagian-bagian utama
yang ingin dikejar --latihan bekerja, mengarahkan emosi,
kepercayaan diri dalam membuat prestasi, hubungan dengan orang
dewasa --tak bisa dijamin bakal didapat.

LEBIH dari itu muncul halhal negatif. Banyak anak yang bekerja
ternyata terlibat alkohol dan narkotika," tulis Sheila dalam
Psychology Today. Ia menurunkan singkatan bukunya.

Greenberger dan Steinberg meragukan bahwa dengan bekerja seorang
anak bisa mempelajari masalah-masalah ekonomi. Dalam salah satu
bagian penelitian mereka, ditampakkan: anak yang bekerja
ternyata belajar mengurus uang bukan dari tempat kerjanya. Entah
dari mana--mungkin rumah. Dan dari sejumlah angket yang disebar,
kedua psikolog itu tidak menemukan perbedaan pengetahuan ekonomi
antara anak yang bekerja dan yang tidak.

Namun, dari wawancara, Sheila Cole cenderung tak sependapat
dengan kedua psikolog itu sendiri.Setidaknya ia menemukan
beberapa variasi. Misalnya kecenderungan untuk belajar-dengan
cara bekerja--tidak senantiasa harus berkisar di sekitar masalah
ekonomi--menurut si wartawati.

Janet Mathews, seorang gadis remaja yang diwawancarainya, tahu
betul apa yang dicarinya dengan bekerja. "Saya mencarinya lewat
koran-koran. Dan saya menetapkan bekerja di sebuah restoran,"
kata Janet. Untuk apa? Ternyata: untuk memuaskan keinginan
tampil di depan orang banyak.

"Saya harus bolak-balik empat kali baru diterima," tuturnya.
"Pertama kali saya datang, pemilik restoran cuma mengatakan agar
saya kembali lagi kapan-kapan. Saya tidak diterima.

Tapi saya pikir inilah kesempatan. Dan saya kembali lagi, dan
lagi."

Selain Janet Mathews, Sheila Cole juga menemui Greg McAllister,
remaja 15 tahun. Greg bercita-cita menjadi dokter hewan. Karena
itu ia menetapkan bekerja di sebuah klinik hewan,mencari
pengalaman. Namun itu tak mudah: klinik hanya mempekerjakan
orang berpengalaman, berijazah lagi.

Tak putus asa, Greg menawarkan diri menjadi pekerja sukarela,
tanpa bayaran. Diterima. Malah, karena kesungguhannya bekerja,
juga ketrampilannya, Greg akhirnya diterima sebagai pekerja
betulan--dan dibayar.

Seperti Greg, seorang gadis 9 tahun yang ditemui Sheila
mula-mula memberi penawaran gratis. Gadis itu ingin bekerja
sebagai foto model. Tak diterima--dianggap masih terlampau
kecil. Bayangkan: 9 tahun.

Tapi ketimbang tak ada kerja, gadis kecil itu nangkring saja di
studio itu--dan mau jadi figuran tak dibayar. Teknik ini
berhasil: ia belakangan diterima. Umurnya tetap masih 9 tahun
waktu itu.

Kadang tak tegas berupa tujuan, bekerja juga muncul sebagai
bagian dari khayalan. Seorang remaja 15 tahun ditemukan Sheila
bekerja di sebuah dok kapal. Ketika ditanya, ia menjawab: sangat
senang pada serba-serbi kapal dan perahu. Kendati masih terlalu
dini untuk mempercayai cita-citanya, kemungkinan ada hubungan
antara pekerjaannya sekarang dengan profesinya di masa depan
bukan mustahil. "Barangkali setengah hidup saya akan saya
habiskan di laut, di kapal perang. Saya harus berlatih untuk
tidak mabuk laut. Memalukan, kalau kelemahan itu muncul kelak,"
katanya.

Di bagian lain Sheila sependapat dengan Greenberger dan
Steinberg-tentang hubungan oran,, dewasa yang memberi pekerjaan
dengan anak-anak yang dipekerjakan. Hubungan ini, ternyata,
rata-rata buruk.

Dua ahli itu menemukan, anak-anak yang bekerja rata-rata
kehilangan rasa intim. Dengan siapa pun: ibu mereka, guru, kawan
sepekerjaan, juga kawankawan di sekolah. Dan ketegangan paling
besar muncul dengan si pemberi pekerjaan.

Kemungkinan besar karena para majikan biasanya memperlakukan
anak yang bekerja sebagai pekerja biasa. Beberapa anak remaja
yang diwawancarai Sheila ternyata mendapat pengalaman pahit.

Yang terbanyak: mereka yang di restoran. Bila rumah makan ramai,
muncul kepanikan. Anak-anak, dengan kondisi fisik dan kecepatan
kerja-dan konsentrasi--yang terbatas, biasanya mengalami depresi
pada saat-saat itu. Namun karena khawatir dipecat, berbagai
perasaan semacam itu ditekan. Ini terang tidak sehat.

Malah yang lebih dari itu pun ada. Seorang gadis remaja bekerja
sebagai foto model. Ia, suatu kali, sampai pada sebuah kondisi
runyam: disuruh berpose setengah telanjang, sambil memegang
sebuah tengkorak. Bayangkan. la keberatan telanjang, dan jijik
pada tengkorak. Namun perintah itu akhirnya dijalankannya
juga--takut kehilangan kerja. "Saya suka bekerja, saya suka
orang-orang. Tapi, mereka kadang-kadang mendesak terlampau
jauh," katanya mengeluh.

Motivasi bekerja yang ditemui Greenberger dan Steinbcrg, maupun
Sheila Cole, bisa dikatakan rata-rata sama. Walau terdapat
tujuan-tujuan lain, keinginan mencari uang dengan keringat
sendiri umumnya duduk di tempat pertama. Mendapat uang sendiri
membangkitkan rasa kebebasan. Ada semacam kekuatan yang bangkit
-- kepercayaan pada diri sendiri.

"Saya samasekali tak bermaksud menabung uang hasil kerja saya,"
kata seorang gadis 14 tahun. "Saya sekedar tak mau memberatkan
orangtua. Mereka sendiri membutuhkan uang, seperti saya juga.
Dan mereka juga bekerja untuk itu."

Itu sikap yang baik. Toh Greenberger dan Steinberg menemukan
gejala tak sehat pada sekelompok anaklain. Mereka rata-rata
sekedar mencari uang jajan. Hampir semua, misalnya, tidak mau
mengisi daftar isian pada bagian pertanyaan: apakah pengaruh
pekerjaanmu pada dirimu.

HAMPIR semua anak dalam kelompok yang diteliti ini mengaku
pernah terlibat narkotika. Ikut menjual atau malah
menggunakannya. Malah di antara mereka tak kurang dari 12%
mengaku sudah kecanduan.

Kebiasaan tak sehat ini merambat ke hal-hal lain. 18% mengaku
pernah mencuri, dan 5 % mengaku pernah mencuri uang majikan.

Bila dikaitkan, semua tingkah buruk ini berawal dari kesukaan
menghambur-hamburkan uang: hampir semua dari kelompok ini punya
kecenderungan itu. Suka membelikan barang rekan-rekannya, suka
menraktir. 'Kan uangnya dari keringat sendiri? pikir mereka .

Seperti dasar himbauan Komisi Coleman, Greenberger dan Steinberg
juga menemukan "hubungan tak intim" antara sekolah dan kerja
pada anak-anak Namun kesimpulan kedua peneliti itu lebih keras.
Sekolah dan kerja, menurut mereka, hampir tak dapat didamaikan.
Memang tak mengejutkan kalau data menunjukkan bahwa anak-anak
yang bekerja ratarata suka membolos. Tapi yang mengejutkan:
proses membolos itu ternyata sudah berlangsung sebelum seorang
anak bekerja--dan menjadi parah sesudah bekerja Dari situ mereka
menyimpulkan: ada kemungkinan anak anak itu bekerja justru
untuk menghindari sekolah.

Yah. Dalam keadaan yang lebih mendingan sekalipun, bekerja tetap
mengganggu sekolah. Apalagi bagi mereka yang lebih 14 jam
seminggu. Dan masih kecil lagi.

Dari anak-anak yang diteliti itu sendiri terlihat kenyataan,
bahwa 27% benar-benar mengalami kemunduran di sekolah. Sedang
yang bisa bertahan dengan nilai semula cuma 16%. Data
menunjukkan dengan nyata: semakin banyak jam kerja diambil,
semakin merosot angka-angka evaluasi di kelas.

Namun yang pallng tragis adalah anak-anak yang dipekerjakan
orangtua mereka. Greenberger dan Steinberg mencatat dua
kelompok. Yang pertama: rata-rata keluarga petani. Yang kedua:
anak-anak yang menjadi foto model dan bintang film, yang
orangtuanya lantas menjadi manajernya.

Seorang anak petani yang diwawancarai Sheila mengaku: ia
kadang-kadang malas bekerja. Maklum umur baru 13 tahun, masih
punya kebutuhan bermain-main. "Saya sering menolak bekerja,
karena merasa kurang sehat," kata anak itu. "Kadang-kadang ibu
mengizinkan saya tinggal di rumah. Tapi lebih sering saya
dicurigai berbohong. Jadi harus bekerja juga."

Dalam keadaan semacam ini, tak jarang anak-anak bisa berpikir
lebih sehat dari orangtua mereka. Seorang aktor cilik Broadway
mengeluh pada, Sheila: sekolahnya mundur. Tak heran. "Saya sudah
tertinggal tiga periode sekolah, dan saya tak akan naik tingkat.
Sekali tertinggal pelajaran susah sekali mengejarnya. Tak ada
yang mau membantu."

Kalau sudah begini, orang-orang tua nampak betul brengseknya.
Mereka seperti tak peduli, apakah anak mereka maju atau tidak di
sekolah. Yang terpikir, bagi orangtua Amerika: anak-anak itu
sumber duit.

Tragisnya, menghadapi orangtua semacam itu hampir tak seorang
anak pun pernah berhasil memberontak. Tipis kemungkinan mereka
bisa mengubah pikiran ibu-bapanya. Maklum semangat mencari duit
di sana bukan main tegangnya. Anak sekolah pun, kata mereka,
akhirnya buat cari duit. Mengapa tidak sekarang, kalau ternyata
ada bakat? Di sinilah si anak benar-benar direnggut dari
dunianya sendiri.

"Saya dulu seorang foto model juga. Tapi penghasilan saya masuk
kategori paling bawah," kata seorang ibu kepada Sheila. Tapi
anak saya, yang juga foto. model sekarang ini, bisa mendapat 60
dollar seminggu. Jadi saya berhenti dari tempat saya bekerja,
dan mulai mengurusi segi bisnis anak saya."

Dengan kata lain: ibu ini makan dari keringat anaknya--kendati
ia bilang "tak sepeser pun saya pernah membelanjakan uang hasil
anak saya." Tentu, karena sebagai manajer ia digaji -- yang
besarnya ditentukannya sendiri. "Ibu-ibu semacam ini biasanya
secara demonstratif menunjukkan perhatiannya pada anaknya.
Padahal munafik," tulis Sheila Cole.

"Anak saya suka memakai pakaian bagus, suka sandiwara, dan suka
memakai make-up," kata ibu yang nyinyir itu. "Jadi mengapa tidak
kita biarkan saja? Ia tampak bahagia mendapat kesempatan
mengeduk uang itu. Dan ini 'kan tidak selamanya!"

Padahal mereka hampir tak pernah memikirkan masa kanak-kanak
mereka sendiri. Dan hampir tak mengerti perasaan anak-anak.
Sheila sempat menyaksikan seorang ibu yang memaksa
anaknya--menamparnya--untuk naik panggung dan nyanyi. Padahal,
entah kenapa, sang anak berkeras tak mau naik panggung. Jiwanya
rusak. Dan si ibu tak tahu.

PADA kesempatan lain, si wartawan juga menyaksikan seorang ibu
yang panik seperti orang gila, ketika anaknya--seorang foto
model terkenal--menghilang dari jumpa pers yang sudah ia
rencanakan.

Namun Sheila Cole mencatat: dampak negatif dari "perusahaan
keluarga" ini tak berlaku universal. Maksudnya, tak di seluruh
negeri. Wartawati itu suatu kali pernah mengunjungi Afrika Barat
untuk 6 bulan. Di sana ia melihat anak-anak 8 tahun membantu
orangtua mereka mengerjakan kebun. Entah apakah anak-anak itu
mengeluh.

Namun Sheila punya kesimpulan. Dari beberapa wawancara ia tahu,
dengan cara itulah orang tua mendidik anak. Walaupun anak-anak
itu mengenal sekolah formal, orangtua tak yakin sekolah akan
mendewasakan seseorang. Untuk menjadi dewasa, seorang anak
Afrika harus bekerja--bukan cuma belajar. Dan itu ada betulnya.

Khususnya bagi anak wanita. "Kami pikir, seorang anak wanita tak
sepatutnya banyak bermain. Nantinya jadi bodoh," kata seorang
ibu yang dwawancarai. "Kerja akan membuat mereka menjadi
pandai, menjadi istri yang baik." Setidaknya, motif mereka
pertama kali ternyata bukan uang.

Toh lepas dari adat-istiadat itu, anak Afrika barangkali juga
tak punya pilihan. Alam miskin yang keras memaksa mereka:
berjuang membantu orangtua, bersama-sama. "Bagi anak-anak dari
keluarga miskin, yang ikut membantu orangtuanya menambah
penghasilan, tak satu pun kategori berlaku," kata Greenberger.
Ia seperti menyindir kita juga


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Surat Suara Pilwali Kediri Nyaris Mencapai 1 Meter - 07 Sep 2008 | 18:49 WIB
Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data